JK Kritik Hilirisasi Jokowi Miskinkan RI: Persis Zaman VOC! - DEMOCRAZY News | Berita dan Politik Indonesia

Breaking

logo

JK Kritik Hilirisasi Jokowi Miskinkan RI: Persis Zaman VOC!

JK Kritik Hilirisasi Jokowi Miskinkan RI: Persis Zaman VOC!

JK Kritik Hilirisasi Jokowi Miskinkan RI: Persis Zaman VOC!


DEMOCRAZY.ID - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) mengkritik kebijakan hilirisasi yang digaungkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) persis yang dilakukan Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) di masa penjajahan Belanda dulu.


Mulanya, JK mengakui hilirisasi sejatinya harus dilakukan karena bentuk industrialisasi. 


Hanya saja, praktik hilirisasi yang dilaksanakan pemerintahan Jokowi jauh dari tataran ideal, serta berpotensi mengembalikan keadaan Indonesia seperti pada zaman kongsi dagang dengan VOC.


"Hilirisasi harus memang sebenarnya industrialisasi juga. Tapi, dengan praktiknya sekarang, sangat berbahaya. Kalau sekarang praktiknya bisa mengembalikan negeri ini ke zaman VOC," kata dia saat ditemui di kediamannya di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Rabu (7/2).


"Orang asing menggali kekayaan, dengan (upah) buruh yang murah. Semua keuntungannya lari keluar, tidak ke dalam negeri. Itu memiskinkan rakyat," imbuhnya.


Ia menilai penerapan kebijakan hilirisasi yang terlalu banyak melibatkan asing. Alhasil, keuntungannya tak dirasakan oleh masyarakat.


JK juga menyoroti pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif yang menyebut cadangan nikel Indonesia akan habis dalam 15 tahun ke depan. 


JK tak heran karena ia menyebut cadangan nikel sudah banyak dihabiskan dan malah merugikan negara.


"Lho iya dihabiskan. Diambil sekarang, bagaimana masa depan? Bagaimana generasi Anda? Dan itu betul, sistem itu sangat merugikan. Sangat!" tegas JK.


JK menegaskan bahwa kebijakan hilirisasi yang dibangga-banggakan hanya memperkaya negara lain dan memiskinkan negeri. Ia menyebut angka kemiskinan di daerah hilirisasi semakin bertambah, dan bukan berkurang.


"Ternyata di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dari tahun ke tahun makin miskin rakyat. Lihat data statistik. Bukan tambah kaya, tambah miskin. Negara hanya dapat sedikit. Semuanya lari ke China. Persis zaman VOC," lanjut dia.


Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada 2023 adalah Provinsi Maluku Utara dan Sulawesi Tengah masing-masing 20,49 persen dan 11,91 persen.


Plt Kepala BPS Amalia Widyasanti mengatakan melonjaknya pertumbuhan ekonomi kedua wilayah tersebut tinggi berkat kebijakan hilirisasi yang dilaksanakan pemerintah.


"Industrialisasi yang kita sebut program hilirisasi nikel di dua provinsi tersebut memberi dampak terhadap pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di Provinsi Maluku Utara dan Sulawesi Tengah," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (5/2).


Menurut Amalia, kedua provinsi tersebut memang dikenal dengan industri pertambangan dan penggalian. Sehingga, hilirisasi yang dilaksanakan memberikan keuntungan besar.


"Industri yang memang cukup besar bahwa di kedua provinsi tersebut adalah berasal dari industri olahan barang tambang, terutama feronikel, di dua wilayah itu," jelasnya.


Soal angka kemiskinan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah warga miskin di Sulteng pada 2023 mencapai 395,66 ribu jiwa. Angka ini naik dibandingkan jumlah warga miskin pada 2022, yaitu 388,36 ribu jiwa.


Jumlah penduduk Sulteng pada 2022 adalah 3,066 juta jiwa, sehingga persentase warga miskin adalah 12 persen. Angka ini di atas persentase penduduk miskin nasional sebesar 9,36 persen.


Sumber: CNN

BERITA TERKAIT

Tidak ada komentar: