Gus Baha Ungkap Cara Pandang Berbeda Ulama Dalam Pilpres - DEMOCRAZY News | Berita dan Politik Indonesia

Breaking

logo

Gus Baha Ungkap Cara Pandang Berbeda Ulama Dalam Pilpres

Gus Baha Ungkap Cara Pandang Berbeda Ulama Dalam Pilpres

Gus Baha Ungkap Cara Pandang Berbeda Ulama Dalam Pilpres


DEMOCRAZY.ID - Pemilihan Umum Presiden Indonesia 2024, disebut juga Pilpres 2024 akan digelar pada Rabu 14 Februari 2024. 


Pemilihan umum ini akan dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan dengan pemilihan umum anggota DPR RI, DPD RI, dan DPRD di seluruh Indonesia.


Pemilihan ini menjadi kontestasi politik untuk memilih presiden baru menggantikan Joko Widodo yang purna tugas dari jabatannya setelah menjabat dua periode sebagai presiden dan tidak dapat mencalonkan diri lagi berdasarkan konstitusi.


Para pendukung para calon presiden memiliki argumentasi atas kelebihan calon yang mereka usung dibandingkan calon lainnya. 


Namun, bagaimana pendapat ulama terkenal K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Baha soal Pilpres ini? 


Dalam video yang viral di media sosial, menurut Gus Baha, para ulama memiliki cara pandang berbeda soal pemilihan presiden, menggunakan ilmu tauhid. 


Bahwa tidak boleh terlalu fanatik dan menggantungkan kesejahteraan terhadap makhluk.  


"Soal pilihan presiden, para ulama cara berpikinya berbeda. Misal kamu fanatik pilih A, yang satu fanatik pilih B. Terus yang satu bilang gini, 'wah kalau gak dipresideni A, rusak negara'," kata Gus Baha. 


"Pertanyaannya secara tauhid, bagaimana anda menggantungkan kesejahteraan kepada makhluk? Bagaimana mungkin makhluk yang sedang soleh, kamu pastikan selalu soleh? wong dia makhluk bisa berubah," lanjut Gus Baha.


"Sementara B yang fasik, wah kalau dipimpin B pasti rusak negara. Bagimana kamu pastikan B yang fasik selalu fasik? Bisa saja dia husnul khotimah. Yang fasik pas mimpin jadi soleh, yang soleh pas mimpin jadi fasik," tambah Gus Baha.


Menurutnya, dengan cara berpikir seperti ini, membuat para ulama kerap dianggap memiliki sikap dan posisi yang tidak jelas dalam sebuah pemilihan presiden. Gus Baha pun tidak menyangkal, dirinya termasuk di antaranya.


"Ulama karena tahu sifat manusia itu berubah-ubah dan kendali di tangan Allah, sikapnya jadi enggak jelas," jelas Gus Baha. 


"Saya ini termasuk orang yang terkenal enggak jelas. Karena kalau ditanya, 'Gus, sampean pilih presiden mana?' Saya terserah pengeran (Allah), siapa yang jadi, saya patuh. 'Wah kalau terserah pengeran mah kacau'. Lebih kacau mana dengan yang enggak patuh pengeran?" pungkas Gus Baha.



Sumber: VIVA

BERITA TERKAIT

Tidak ada komentar: