Tim AMIN Kritik Bansos Jokowi Bergambar Paslon 02: Konsekuensi Jika Penguasa Ingin Tetap Berkuasa - DEMOCRAZY News | Berita dan Politik Indonesia

Breaking

logo

Tim AMIN Kritik Bansos Jokowi Bergambar Paslon 02: Konsekuensi Jika Penguasa Ingin Tetap Berkuasa

Tim AMIN Kritik Bansos Jokowi Bergambar Paslon 02: Konsekuensi Jika Penguasa Ingin Tetap Berkuasa

Tim AMIN Kritik Bansos Jokowi Bergambar Paslon 02: Konsekuensi Jika Penguasa Ingin Tetap Berkuasa


DEMOCRAZY.ID - Langkah Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang membagi-bagi bantuan sosial (bansos) pangan menuai berbagai kritikan.


Sekretaris Dewan Pakar Timnas AMIN (Tim Pemenangan Anies-Muhaimin) Wijayanto Samirin mengatakan, bansos yang diberikan atas nama paslon merupakan pelanggaran etik berat. 


"Bansos dilaksanakan dengan uang rakyat. Jika diberikan kepada rakyat diatasnamakan paslon tertentu, ini pelanggaran etik berat," ucapnya kepada Tempo pada Rabu, 24 Januari 2024.


Biasanya, kata Wijayanto, hal-hal seperti ini akan ditelisik oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Namun, ia menuding bahwa situasi politik saat ini sedang tidak normal. 


"Tetapi sayangnya, situasi politik kita sedang sangat tidak normal. Inilah konsekuensi jika para tokoh yang berkuasa menghalalkan segala cara untuk tetap berkuasa," katanya. 


Wijayanto juga menyoroti statistik impor beras yang melambung setiap menjelang Pemilu. Sepertinya halnya tahun 2023, setahun menuju pesta demokrasi akbar 2024. 


"Data impor beras ini menarik, melejit sebelum Pemilu."


Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada tahun 2023, Indonesia mengimpor beras sebanyak 3,06 juta ton beras. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam kurun lima tahun terakhir. 


Pada 2022, jumlah impor beras tercatat 429.210 ton, 2021 sebanyak 407.740 ton, 2020 sebanyak 356.290 ton, dan 444.510 ton pada 2019. 


Setahun sebelum Pemilu atau pada 2018, Indonesia mengimpor beras sebanyak 2,25 juta ton. Setahun sebelumnya, impor beras hanya 305.274 ton.


"Impor beras selalu melejit sebelum Pemilu, jangan-jangan ada kaitannya dengan pendanaan politik? Tentunya perlu pendalaman lebih lanjut untuk membuktikan, tetapi fakta-fakta seperti ini membuat trust rakyat kepada penguasa tergerus," tutur Wijayanto.


Wijayanto berharap bahwa dalam kontestasi politik lima tahunan ini, masyarakat dapat memilih pemimpin yang menjunjung tinggi sifat amanah. 


"Semoga dalam pemilu nanti, rakyat semakin cerdas, dan memilih yang bisa menjunjung tinggi amanah."


Sementara melansir laporan Majalah Tempo, kebijakan Jokowi disinyalir disisipi upaya menangguk dukungan suara untuk putranya Gibran Rakabuming Raka yang berpasangan dengan Prabowo Subianto.


Jokowi tercatat membagi-bagi bansos ke sejumlah daerah baru-baru ini. Misalnya Serang, Labuan Bajo, Pekalongan, Banyuwangi hingga Jawa Tengah.


Akun X Jhon Sitorus mengunggah sebuah foto karung beras berlogo Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Bulog. 


Namun, kemasan beras tersebut ditempelkan stiker pasangan calon (Paslon) Prabowo-Gibran. Jhon merupakan pegiat media sosial yang juga loyalis Ganjar Pranowo. 


"Melanggar konstitusi sudah. Melanggar aturan debat sudah. Melanggar netralitas aparat sudah. Melanggar integritas sebagai pejabat sudah. Sekarang pakai beras Bulog untuk kampanye juga. Ya, kabinet Jokowi sedang mengabdi untuk Prabowo-Gibran. Labrak terus...selagi masih berkuasa," demikian tulis Jhon pada Rabu, 23 Januari 2024.


Sumber: Tempo

BERITA TERKAIT

Tidak ada komentar: