Media Asing Sorot Pertanyaan Gibran di Debat Cawapres, Kenapa? - DEMOCRAZY News | Berita dan Politik Indonesia

Breaking

logo

Media Asing Sorot Pertanyaan Gibran di Debat Cawapres, Kenapa?

Media Asing Sorot Pertanyaan Gibran di Debat Cawapres, Kenapa?

Media Asing Sorot Pertanyaan Gibran di Debat Cawapres, Kenapa?


DEMOCRAZY.ID - Calon wakil presiden nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka kembali disorot media asing. 


Kali ini terkait pertanyaannya dan jargon yang ia pakai dalam debat keempat pemilu presiden (pilpres) RI akhir pekan lalu.


Hal ini dibahas oleh media berbasis di Hong Kong, South China Morning Post (SCMP) melalui artikel bertajuk "Indonesia election 2024: Gibran resorts to 'gotcha questions', jargon in VP debate in bid to trip up rivals". Artikel ini terbit 22 Januari 2024 lalu.


"Ketiga kandidat yang bersaing ... menggunakan taktik yang lazim dalam debat kedua mereka pada Minggu, di mana Gibran Rakabuming, putra tertua Presiden Joko Widodo, menggunakan jargon kebijakan khusus dan pertanyaan yang menjebak dalam upaya untuk menjatuhkan saingannya," isi laporan media tersebut.


"Para kritikus menggambarkan taktik Gibran sebagai sesuatu yang 'ngeri' namun mereka juga mengatakan bahwa taktik tersebut cukup efektif untuk mempertahankan tiketnya pada jalur kemenangan," tambah laman tersebut.


"Sepanjang debat, Gibran menggunakan jargon dan singkatan asing saat menanyai rekan-rekan kandidatnya. Ini taktik yang menurut pengamat berhasil ia terapkan dalam pertarungan wakil presiden pertama untuk membingungkan rival-rivalnya yang lebih tua," jelas SCMP.


"Namun taktik Gibran ini kemudian menimbulkan aturan baru dalam debat yang mengharuskan istilah-istilah tersebut didefinisikan sebelum seorang kandidat memberikan tanggapannya. Aturan baru dalam debat itu tidak menyurutkan semangat Gibran, yang menanyakan kepada cawapres nomor urut 3 Mahfud MD- yang juga seorang profesor hukum tata negara- pertanyaan tentang strategi melawan 'greenflation'."


Menurut pengamat di Universitas Murdoch Australia Ian Wilson, sebenarnya Gibran "berpegang teguh pada naskah yang sudah matang". 


Di mana ia menguraikan lebih banyak kebijakan yang sama, ditambah lebih banyak upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak masuk akal dan meniru pasangannya, Prabowo Subianto.


Sebelumnya, media asing juga menyoroti gestur Gibran. Salah satunya Channel News Asia (CNA) melalui artikel "Dent in public hype over Indonesia VP candidate Gibran after 'rude' gesture against opponent in live debate".


"Kinerja calon wakil presiden Indonesia Gibran Rakabuming Raka- yang juga merupakan putra Presiden petahana Joko Widodo- mendapat kritikan ... dalam debat langsung akhir pekan lalu," tulis media itu.


"Hal ini sangat kontras dengan kehebohan yang disampaikannya pada bulan lalu setelah debat kedua yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Indonesia yang mempertemukan Gibran dengan rivalnya yang lebih berpengalaman," tambah laman tersebut.


"Beberapa netizen kini menyebut kelakuan putra sulung presiden tersebut cringe," ujar media itu menulis kata menggelikan dalam bahasa.


Sama seperti SCMP, momen pertanyaan greenflation juga menjadi penyebab. Greenflation mengacu pada inflasi yang disebabkan oleh inisiatif hijau namun sebagai tanggapan, Mahfud berbicara tentang ekonomi hijau.


"Saya mencari jawaban Prof Mahfud. Saya sedang mencari (jawabannya tetapi) kok saya tidak dapat menemukannya?" tulis CNA menyebut balasan Gibran seraya menjelaskan saat itulah "ducking gesture" alias gerakan merunduk dilakukan cawapres Prabowo Subianto tersebut.


Kehebohan di media sosial juga dimuat. Salah satunya di X.


"Di platform media sosial X, salah satu postingan yang menampilkan video interaksi tersebut memperoleh lebih dari 2,5 juta penayangan dalam waktu kurang dari sehari," muat CNA.


"Pengguna X mengkritik Gibran karena berusaha terlalu keras untuk menjadi 'savage' selama debat. Mereka dilaporkan mengatakan bahwa Gibran gagal dan malah menjadi 'songong', merupakan bahasa gaul Indonesia untuk kasar dan tidak sopan," tambahnya.


Sumber: CNBC

BERITA TERKAIT

Tidak ada komentar: