Heboh! Anak Buah Luhut vs Tom Lembong Soal Hilirisasi Nikel RI - DEMOCRAZY News | Berita dan Politik Indonesia

Breaking

logo

Heboh! Anak Buah Luhut vs Tom Lembong Soal Hilirisasi Nikel RI

Heboh! Anak Buah Luhut vs Tom Lembong Soal Hilirisasi Nikel RI

Heboh! Anak Buah Luhut vs Tom Lembong Soal Hilirisasi Nikel RI


DEMOCRAZY.ID - Isu hilirisasi nikel menjadi hangat dibicarakan usai Debat Cawapres pekan lalu. 


Hal itu dimulai oleh Cawapres Nomor urut 1 Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang menyatakan hilirisasi khususnya nikel yang gencar berjalan di Indonesia dilakukan secara ugal-ugalan.


"Kita saksikan dalam proses penambangan dan bisnis tambang kita hilirisasi dilakukan ugal-ugalan, merusak lingkungan, ada kecelakaan, tenaga asing mendominasi," kata dia dalam debat keempat Pemilu Presiden (Pilpres) 2024 yang dikhususkan untuk calon wakil presiden di Jakarta Convention Center (JCC), Minggu (21/1/2024).


Hilirisasi nikel terus menuai anggapan miring, terlebih Co-Captain Timnas AMIN, Thomas Lembong atau Tom Lembong yang juga mengatakan demikian. 


Ia bilang hilirisasi dinilai ugal-ugalan. Sementara Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) beranggapan lain.


Tom Lembong


Perlu diketahui, harga nikel dunia jatuh mendekati posisi terendah dalam tiga tahun terakhir. Penurunan ini dinilai akibat pasokan global "kebanjiran" nikel dari Indonesia.


Pada Senin (22/1/2024) harga nikel dunia kontrak tiga bulan tercatat US$ 16.036 per ton. Posisi ini adalah merupakan yang terendah sejak April 2021.


Tom Lembong mengungkapkan bahwa proses hilirisasi yang dilakukan di Indonesia bak 'Senjata Makan Tuan' yang mana berujung merugikan Indonesia sendiri.


"Yang kita anti adalah hilirisasi yang tadi disebut oleh Pak Muhaimin, yang ugal-ugalan. Berujung pada konyol karena senjata makan tuan, saking gencarnya menggenjot smelter nikel, kemudian membanjiri dunia dengan suplai nikel sampai harganya anjlok," ungkap Tom dalam program Your Money Your Vote CNBC Indonesia, dikutip Rabu (24/1/2024).


Namun begitu, dia menyebut bahwa program hilirisasi masih menjadi visi-misi dari paslon AMIN. 


Dengan begitu, Tom Lembong mengungkapkan pihaknya tidak anti hilirisasi, namun hal itu akan dilakukan dengan tidak ugal-ugalan.


"Jadi yang disampaikan Pak Muhaimin itu betul sekali, kita menjadi korban dari kebijakan yang kita bikin sendiri. Kita sama sekali tidak anti hilirisasi, hilirisasi itu ada di visi misi Anies-Muhaimin juga," tambahnya.


Anak Buah Luhut


Menanggapi pernyataan Tom Lembong tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) turut buka suara.


Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto mengatakan, anggapan terkait penurunan harga nikel karena suplai dari Indonesia yang membanjiri pasar dunia tidak sepenuhnya benar.


"Kalau dibilang oversupply gak sepenuhnya benar, karena penambahan produksi nikel dari Indonesia menggantikan supply di negara lain yang tidak efisien," ungkap Seto kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (24/01/2024).


Seto menjelaskan, data ekspor Indonesia selama Januari hingga November 2023 menunjukkan nilai ekspor produk turunan nikel mencapai US$ 31,3 miliar, naik 0,6% dibandingkan Januari sampai November 2022 yang sebesar US$ 31,13 miliar. 


"Jadi walaupun turun harganya, pendapatan masih naik sedikit karena kenaikan volume," ucapnya.


Di sisi lain, menurutnya harga nikel saat ini di level US$ 16.000-an masih lebih tinggi dibandingkan harga rata-rata 10 tahun terakhir yang berada di level US$ 15.000-an. 


"Perlu diingat bahwa harga nikel sekarang US$ 16 ribu itu masih lebih tinggi dibandingkan harga rata-rata 10 tahun terakhir yang berada di level US$ 15 ribuan, bahkan masih lebih tinggi dibandingkan periode awal-awal kita melakukan hilirisasi tahun 2014-2019 yang harga rata-rata nikel di US$ 12 ribuan," paparnya.


Harga Nikel Dunia


Seperti diketahui, salah satu pendorong utama turunnya harga nikel adalah kondisi pasokan yang lebih tinggi dibandingkan permintaan.


INSG memperkirakan harga nikel akan tetap berada di bawah tekanan dalam jangka pendek seiring dengan meningkatnya surplus di pasar global dan perlambatan ekonomi global.


Harga rata-rata nikel global menurut INSG sebesar US$16.600 per ton pada kuartal pertama dengan harga secara bertahap naik rata-rata US$16.813 per ton pada 2024.


Sebagai catatan, harga akan tetap berada pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga rata-rata sebelum krisis nikel LME pada Maret 2022 karena peran nikel dalam transisi energi global.


Adapun, surplus pasar nikel global diperkirakan akan terus meningkat. Pada 2024 surplus pasokan nikel akan bertambah menjadi 239.000 metrik ton, berdasarkan perkiraan INSG. 


Kondisi kelebihan pasokan tersebut terjadi selama tiga tahun berturut-turut dan surplus pada 2024 akan menjadi yang terbesar.


Mereka memperkirakan produksi global akan meningkat menjadi 3,71 juta ton pada tahun 2024 dari 3,42 juta ton pada tahun 2023 karena produksi nikel pig iron (NPI) Indonesia terus meningkat.


Pabrik HPAL baru di Indonesia yang menghasilkan campuran endapan hidroksida (MHP) juga terus meningkatkan produksinya, dan konversi NPI menjadi nikel matte pun semakin meningkat.


Dengan begitu, pada 2022 pasar mengalami surplus sebesar 104.000 ton, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 223.000 ton pada 2023. 


Perkiraan surplus kumulatif selama tiga tahun berjumlah 566.000 ton. Kondisinya saat ini adalah sisi pasokan mendominasi dibandingkan permintaan. Akibatnya, harga pun turun.


Sumber: CNBC

BERITA TERKAIT

Tidak ada komentar: