Bahlil Ungkap Kinerja Buruk Tom Lembong, Sindir Lulusan Harvard - DEMOCRAZY News | Berita dan Politik Indonesia

Breaking

logo

Bahlil Ungkap Kinerja Buruk Tom Lembong, Sindir Lulusan Harvard

Bahlil Ungkap Kinerja Buruk Tom Lembong, Sindir Lulusan Harvard

Bahlil Ungkap Kinerja Buruk Tom Lembong, Sindir Lulusan Harvard


DEMOCRAZY.ID - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia menyentil kinerja buruk pendahulunya yaitu Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong.


"Pada tahun 2016 terjadi reshuffle kabinet, saya tidak sebutkan namanya nanti besar kepala," ungkap Bahlil dalam konferensi pers, Rabu (24/1/2024)


Bahlil menyampaikan, target investasi saat itu sebesar Rp594,8 triliun dan realisasinya Rp 612,8 triliun. 


Pada 2017, target Rp 678,80 triliun namun realisasinya Rp 692,9 triliun. Kemudian pada 2018 target Rp765 triliun tapi realisasinya Rp721,3 triliun.


"Jadi dalam fasenya ada target yang tidak terapai, kemudian kami masuk di 2019 target Rp792 triliun, realisasinya Rp 809 triliun," terang Bahlil.


Berlanjut pada periode 2020 hingga 2023, meskipun ada pandemi covid-19 target investasi selalu tercapai.


"Jadi ini perbandingan pejabat terdahulu tamatan Harvard dan alumni Jayapura. Ini data objektif," paparnya.


Bantah Tom Lembong Soal Nikel, Bahlil: Jangan Omon-Omon Saja!


Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa nikel masih digunakan bagi bahan baku baterai mobil listrik.


Pernyataan Bahlil ini meluruskan pernyataan Thomas T. Lembong, Co-Captain Timnas AMIN, yang menuturkan bahwa nikel tak lagi dipakai sebagai bahan baku baterai oleh produsen electric vehicle, Tesla.


"Ini sumber polemik, saya ingin katakan tidaklah benar kalau ada seorang mantan pejabat atau pemikir atau siapapun yang katakan nikel ga lagi jadi bahan yang dikerja investor untuk buat baterai mobil," kata Bahlil, dalam konferensi pers Realisasi Investasi Tahun 2023, Rabu (24/1/2024).


Menurut Bahlil, lithium ferrophosphate (LFP) ini dipakai Tesla karena mobilnya masih tergolong standar. 


Kualitas terbaik tetap dimiliki oleh nikel. Bahlil menekankan baterai dengan komposisi nikel lebih bagus secara kemampuan jarak tempuh dibandingkan dengan LFP.


"Tesla sebagian juga masih memakai baterai mobil yang bahan baku nikel. Jadi jangan omon-omon saja!" ungkapnya.


Bahlil menilai nikel adalah komoditas penting dan sering kali banyak pihak yang menekan Indonesia karena memiliki komoditas nikel yang terbesar di dunia. Dia mengatakan beberapa negara maju tidak ingin Indonesia melakukan ini.


Bahlil pun menyinggung soal data IMF pada 2023 yang pernah mengeluarkan laporan bahwa mereka mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5% dan inflasi terjaga serta transisi ekonomi ke arah industrialisasi. 


Namun, IMF merekomendasikan agar Indonesia melakukan pelarangan ekspor barang mentah. Hal ini, kata Bahlil, adalah bentuk ketidaksukaan terhadap perkembangan hilirisasi di Indonesia.


"Jangan sampai bangsa ini ada antek asing dalam pengaruhi kebijakan publik," tegasnya.


Sumber: CNBC

BERITA TERKAIT

Tidak ada komentar: