'Pak Kapolri, Kami Minta Tolong Pak, Kapolda Sumbar Sudah Banyak Tutup-Tutupi...' - DEMOCRAZY News
HUKUM

'Pak Kapolri, Kami Minta Tolong Pak, Kapolda Sumbar Sudah Banyak Tutup-Tutupi...'

DEMOCRAZY.ID
Juli 04, 2024
0 Komentar
Beranda
HUKUM
'Pak Kapolri, Kami Minta Tolong Pak, Kapolda Sumbar Sudah Banyak Tutup-Tutupi...'

'Pak Kapolri, Kami Minta Tolong Pak, Kapolda Sumbar Sudah Banyak Tutup-Tutupi...'


DEMOCRAZY.ID - Afrinaldi dan Anggun Andriani, orangtua Afif Maulana, siswa SMP di Padang yang diduga tewas dianiaya polisi, masih meyakini bahwa anaknya meninggal dunia karena disiksa, bukan meninggal dunia karena melompat ke sungai seperti klaim yang disampaikan Polda Sumatera Barat.


Bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang, Afrinaldi dan Anggun bertolak ke Jakarta untuk mencari keadilan.


Saat ditemui di bilangan Gatot Subroto, Jakarta, Anggun menceritakan bahwa dirinya langsung dimarahi anggota kepolisian saat dirinya mendatangi Polsek Kuranji. Kepadanya, polisi menuding Afif membawa senjata tajam dan ikut tawuran.


Mereka menyampaikan Afif meninggal karena tawuran, lalu melompat ke sungai.


"Pertama datang saja, polisinya sudah marah-marah. Dibilangnya, anak Ibu tawuran, melompat. Dan saya yakin dengan anak saya, dia tidak pernah tawuran," kata Anggun dalam konferensi pers di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu.


"Enggak pernah anak saya pegang senjata tajam. Di bawah umur lagi 13 tahun, badannya aja kecil," sambungnya.


Diminta sudahi kasus


Tak sampai di sana. Afrinaldi menceritakan bahwa polisi meminta untuk menyudahi kasus ini. Mereka juga diminta untuk tidak menuntut kepolisian.


Dirinya mengungkapkan bahwa petugas Polsek Kuranji meminta kakek Afif untuk menandatangani surat yang berisi perjanjian agar kasus ini tidak dilanjutkan.


"Iya, waktu itu kakek (diminta tanda tangan), jatuhnya itu suami Tante, Itu dia yang duluan ke Polsek. Jadi dia komunikasi sama petugas Polsek itu. Katanya disuruh menandatangani surat biar enggak menuntut," kata Afrinaldi.


Namun, pihak keluarga menolak menandatangani surat tersebut karena sudah mencium kecurigaan akan tidak wajarnya kematian Afif.


Keluarga curiga karena polisi menyebut Afif meninggal akibat tawuran, lalu melompat ke sungai.


Padahal, jenazah Afif tidak remuk yang menandakan Afif jatuh ke sungai. Sebaliknya, tubuh Afif justru dipenuhi luka lebam.


Tak percaya polisi


Hal ini yang membuat keluarga Afif merasa tidak percaya dengan polisi untuk mengungkapkan kasus yang sebenarnya terjadi.


Afrinaldi mengaku tidak tahu apakah akan percaya dengan polisi meskipun pejabat tertinggi Polri, yaitu Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sudah turun tangan.


Diketahui, Kapolri menerjunkan tim dari Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) hingga Inspektorat Umum (Itwasum) untuk mendalami kasus kematian Afif.


"Sekarang saya enggak tahu mau percaya apa enggak, cuma yang bisa kami lakukan sekarang kami akan terus meminta bantuan kepada pihak-pihak yang punya dukungan kekuatan untuk bantu kami," kata Afrinaldi.


Dia kini menaruh harapan kepada pihak-pihak yang memiliki simpati terhadap kasus Afif untuk mau berjuang bersama.


Ia berharap kasus kematian tak wajar putranya itu dapat diusut tuntas.


"Usut tuntas apa yang sebenarnya terjadi. Dan kami tetap berusaha mendapatkan keadilan dari kematian anak kami yang tidak wajar. Itu saja," ungkapnya.


Jangan cari yang memviralkan


Terakhir, Afrinaldi dan Anggun meminta Kapolri dan Kapolda Sumbar Irjen Suharyono untuk fokus mencari siapa pelaku yang diduga menganiaya Afif hingga tewas, bukan justru mencari pihak yang memviralkan kasus ini.


"Bapak Kapolri, Bapak Kapolda, tolong bantu kami untuk mencari yang menganiaya anak saya, Afif Maulana, Pak. Bukan yang memviralkan yang Bapak cari," kata Anggun.


Anggun meminta bantuan Kapolda hingga Kapolri untuk turun tangan menangani tewasnya sang anak secara tidak wajar.


Sementara itu, Afrinaldi meminta tolong kepada media massa untuk terus memberitakan kasus Afif. Hal itu dinilai sebagai bentuk bantuan terhadap keluarga Afif.


"Saya mau minta tolong sama media dan semua pihak yang bisa membantu kami, benar-benar membantu kami agar kami mendapatkan keadilan untuk anak kami," mohon Afrinaldi.


Turut hadir pada kesempatan tersebut, paman Afif yang bernama Riki Lesmana. Ia juga meminta tolong agar kasus kematian Afif diungkap dengan sebenarnya.


Sebab, dia melihat ada kejanggalan atas kematian Afif. Kejanggalan itu dinilai ditutupi oleh pihak Polda Sumatera Barat.


"Pak Kapolri, aku minta tolong, Pak, ya. Tolong ungkap kasus keponakanku yang di bawah umur ini, Pak. Minta tolong, Pak," ucap Riki.


"Soal Kapolda Sumbar sudah banyak tutup-tutupin, Pak, kasus ini, Pak. Aku minta tolong sama Pak Kapolri ya, Pak, ya," sambungnya.


Sumber: Kompas

Penulis blog