Ekonom Senior INDEF Was-Was Family Office Jadi Sarang Cuci Uang - DEMOCRAZY News
EKBIS HUKUM

Ekonom Senior INDEF Was-Was Family Office Jadi Sarang Cuci Uang

DEMOCRAZY.ID
Juli 04, 2024
0 Komentar
Beranda
EKBIS
HUKUM
Ekonom Senior INDEF Was-Was Family Office Jadi Sarang Cuci Uang

Ekonom Senior INDEF Was-Was Family Office Jadi Sarang Cuci Uang


DEMOCRAZY.ID - Ekonom Senior INDEF Faisal Basri mengkritik rencana pemerintah membentuk family office. 


Menurutnya, pembentukan family office tidak ada gunanya karena tidak menambah pendapatan negara sebab tidak dipajaki.


"Tujuannya apa? Menambah cadangan devisa? Enggak. Saya enggak begitu paham," katanya di Jakarta Pusat, Kamis (4/7).


"Kan ada masalah yang kita hadapi, industri mengalami pelambatan, mereka (investor) enggak bangun pabrik di sini," imbuhnya.


Faisal mempertanyakan tujuan pemerintah membentuk family office. Ia justru khawatir family office bisa menjadi tempat pencucian uang seperti yang terjadi di Singapura.


"Di Singapura yang hukumnya bagus saja sekarang menahan diri menciptakan (family office) karena dia tidak mau lagi diperlakukan atau di-image-kan sebagai negara tempat pencuci uang," katanya.


Ia pun mempertanyakan apakah pemerintah benar-benar sudah siap untuk membentuk family office dengan berbagai konsekuensinya.


"Jangan-jangan ada judi online, narkoba, pelaku-pelakunya di luar pakai nama orang bikin familly office. Bisa saja seperti itu. Pertanyaannya siap tidak?".


Pemerintah berencana membentuk family office di Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun mengumpulkan sejumlah menteri dalam rapat internal di Istana Negara Jakarta, Senin (1/7).


Family office adalah perusahaan swasta yang menangani manajemen investasi dan manajemen kekayaan untuk keluarga kaya. Ini bertujuan untuk menumbuhkan dan mentransfer kekayaan secara efektif antar generasi.


Luhut mengklaim keluarga kaya di luar negeri tertarik menyimpan uangnya di Tanah Air. Dengan begitu, devisa negara menjadi kian kuat.


"Jadi, bisa dibayangkan kalau kita bisa dapat (dari family office) awal-awal sebesar US$100 juta, US$200 juta sampai US$1 miliar, kan bagus. Gak ada ruginya," jelas Luhut.mily office. 


Menurutnya, pembentukan familly office tidak ada gunanya karena tidak menambah pendapatan negara karena tidak dipajaki.


"Tujuannya apa? Menambah cadangan devisa? Enggak. Saya enggak begitu paham," katanya di Jakarta Pusat, Kamis (4/5).


"Kan ada masalah yang kita hadapi, industri mengalami pelambatan, mereka enggak bangun pabrik di sini," imbuhnya.


Faisal mempertanyakan tujuan pemerintah membentuk family office. Ia justru khawatir familly office bisa menjadi tempat pencucian uang seperti yang terjadi di Singapura.


"Di Singapura yang hukumnya bagus saja sekarang menahan diri menciptakan (family office) karena dia tidak mau lagi diperlakukan atau di-imagekan sebagai negara tempat pencuci uang," katanya.


Ia pun mempertanyakan apakah pemerintah benar-benar sudah siap untuk membentuk familly office dengan berbagai konsekuensinya.


"Jangan-jangan ada judi online, narkoba, pelaku-pelakunya di luar lewat nama orang bikin familly office. Bisa saja seperti itu. Pertanyaannya siap tidak?".


Pemerintah berencana membentuk family office di Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun mengumpulkan sejumlah menteri dalam rapat internal di Istana Negara Jakarta, Senin (1/7).


Family office adalah perusahaan swasta yang menangani manajemen investasi dan manajemen kekayaan untuk keluarga kaya. Ini bertujuan untuk menumbuhkan dan mentransfer kekayaan secara efektif antar generasi.


Luhut mengklaim keluarga kaya di luar negeri tertarik menyimpan uangnya di Tanah Air. Dengan begitu, devisa negara menjadi kian kuat.


"Jadi, bisa dibayangkan kalau kita bisa dapat (dari family office) awal-awal sebesar US$100 juta, US$200 juta sampai US$1 miliar, kan bagus. Gak ada ruginya," jelas Luhut.


Sumber: CNN

Penulis blog