Kisah Arsitek Menolak Dibayar Usai Perluas Masjidil Haram-Masjid Nabawi - DEMOCRAZY News
POLITIK

Kisah Arsitek Menolak Dibayar Usai Perluas Masjidil Haram-Masjid Nabawi

DEMOCRAZY.ID
Juni 15, 2024
0 Komentar
Beranda
POLITIK
Kisah Arsitek Menolak Dibayar Usai Perluas Masjidil Haram-Masjid Nabawi

Kisah Arsitek Menolak Dibayar Usai Perluas Masjidil Haram-Masjid Nabawi


DEMOCRAZY.ID - Mohamed Kamal Ismail adalah orang di balik salah satu perluasan besar dua masjid utama di Arab Saudi.


Arsitek asal Mesir yang lahir pada 1908 ini dipilih oleh mendiang Raja Fahd dari Arab Saudi untuk mengawasi perluasan Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah.


Pada saat itu, perluasan Masjidil Haram disebut-sebut sebagai perluasan terbesar dalam 14 abad.


Akan tetapi, Ismail menolak dibayar untuk pekerjaannya walau didesak Raja Fahd dan perusahaan Bin Laden.


Dia berkata: "Mengapa saya harus mengambil uang untuk pekerjaan di tempat paling suci di dunia? Bagaimana saya bisa menghadap Allah di Hari Penghakiman?"


Pendidikan


Ismail adalah lulusan sekolah menengah termuda di Mesir dan orang termuda yang diterima oleh Royal School of Engineering di negara tersebut.


Dia kemudian dikirim ke Eropa untuk mengenyam pendidikan lanjutan di bidang arsitektur Isla


Dia menikah pada usia 44 tahun dan istrinya melahirkan seorang putra sebelum dia meninggal.


Ismail memilih mengabdikan dirinya untuk beribadah dan menjauh dari sorotan media hingga kematiannya pada usia 100 tahun.


Marmer putih


Ismail adalah orang yang menggagas penggunaan marmer sebagai lantai Masjidil Haram guna mengatasi cuaca panas di Arab Saudi.


Marmer putih nan langka yang terkenal dengan kilaunya, warna putihnya, dan kemampuannya untuk mendinginkan bangunan yang terpapar panas seluruhnya diimpor dari Yunani.


Raja Fahd kemudian meminta Ismail untuk menggunakan marmer putih yang sama di Masjid Nabawi. Masjidil Haram adalah tempat paling suci dalam Islam.


Bangunan itu telah mengalami beberapa tahap perluasan sepanjang sejarahnya untuk menampung jemaah yang menunaikan ibadah haji dan umrah.


Setelah mengalami perluasan pada masa kekuasaan Raja Fahd, luas masjid ini menjadi sekitar 356.800 meter persegi sehingga dapat menampung hingga 820.000 jemaah pada hari biasa dan lebih dari satu juta jemaah pada musim haji serta bulan suci Ramadan.


Sumber: Detik

Penulis blog