Diresmikan Jokowi Pada 2017, Bos Besar Sritex Murung Karena Banjirnya Garmen Murah Asal China - DEMOCRAZY News
EKBIS POLITIK

Diresmikan Jokowi Pada 2017, Bos Besar Sritex Murung Karena Banjirnya Garmen Murah Asal China

DEMOCRAZY.ID
Juni 25, 2024
0 Komentar
Beranda
EKBIS
POLITIK
Diresmikan Jokowi Pada 2017, Bos Besar Sritex Murung Karena Banjirnya Garmen Murah Asal China

Diresmikan Jokowi Pada 2017, Bos Besar Sritex Murung Karena Banjirnya Garmen Murah Asal China


DEMOCRAZY.ID - Fenomena membanjirnya produk garmen murah asal China ke pasar Indonesia membuat murung pengusaha tekstil lokal, salah satunya yang dialami oleh PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL).


Direktur Keuangan Sritex Welly Salam mengatakan salah satu penyebab industri tekstil lokal susah payah karena banjirnya produk impor garmen asal China dengan harga yang jauh lebih murah.


"Terjadinya over supply tekstil di China yang menyebabkan terjadinya dumping harga yang mana produk-produk ini menyasar terutama ke Negara-negara di luar Eropa dan China yang longgar aturan impornya (tidak menerapkan bea masuk anti dumping, tidak ada tarif barrier maupun non tarif barrier) dan salah satunya adalah Indonesia," kata Welly dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Selasa (25/6/2024).


Selain itu lanjut Welly industri tekstil lokal juga mengalami penurunan pendapatan yang drastis akibat pandemi Covid-19.


Tak hanya itu perusahaan menyebut kondisi geopolitik yakni perang Rusia-Ukraina serta Israel-Hamas menyebabkan terjadinya gangguan supply chain, dan juga penurunan ekspor karena terjadi pergeseran prioritas oleh masyarakat kawasan Eropa maupun Amerika.


Diketahui Sritex sudah lama harus berkutat dengan masalah keuangan. Pada September 2023 lalu, ekuitas perusahaan ini tercatat negatif, yang menandakan defisit modal serta kondisi perusahaan yang memburuk.


Utang Sritex tercatut mencapai US$1,54 miliar (setara Rp24,3 triliun). Nilai ini melebihi asetnya yang hanya US$653,51 juta (sekitar Rp10,33 triliun).


Sesuai Daftar Efek Bersifat Ekuitas dalam Pemantauan Khusus Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga bulan September 2023, total liabilitas saham SRIL mencapai US$1,6 Miliar atau setara dengan Rp24,66 triliun.


Utang yang melilit ini didominasi oleh utang bank jangka pendek dan utang obligasi yang jatuh tempo hingga mencapai US$1,36 miliar atau setara Rp21,4 triliun.


Meski demikian kata dia perseroan telah memohon relaksasi kepada kreditur atas tumpukkan utang itu dan mayoritas sudah memberikan persetujuan atas relaksasi tersebut.


[FLASHBACK] Diresmikan Jokowi Pada 2017, Sritex Kini Utangnya Rp20 Tiliun Terancam Bangkrut


Ingat PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) yang populer disebut Sritex? 


Ya betul, perusahaan tekstil yang pernah disangkutkan dengan kasus korupsi Bansos dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka itu, kini terseok-seok.


Perusahaan yang dikenal dekat dengan Keluarga Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini, tengah dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). 


Dari proposal restrukturisasi yang diajukan Perseroan kepada para kreditur, diketahui utangnya menggunung hampir Rp20 triliun.


Terkait kondisi tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan manajemen Sritex soal rencana perusahaan untuk perbaikan kondisi, serta pemenuhan kewajiban kepada bursa.


Corporate Secretary Sritex, Welly Salam, dalam surat kepada BEI dikutip, Sabtu (27/11/2021) menyatakan janji memenuhi semua kewajiban serta mengatasi dampak dari PKPU. 


"Perseroan akan memenuhi seluruh kewajiban dan konsekuensi dampak PKPU kepada Bursa Efek Indonesia sesuai peraturan yang berlaku," kata Welly Salam, Corporate Secretary Sritex, dikutip dari kumparan.com.


Menurutnya, langkah itu dilakukan mulai kuartal IV tahun 2021 ini. 


Sedangkan pada setiap kuartal di 2022, lanjut Welly, Sritex akan terus melaksanakan keputusan hasil PKPU kepada para kreditur dan kewajiban pelaporan kepada BEI sesuai peraturan yang berlaku.


Penyebab Sritex Bangkrut


Welly menambahkan, akibat dampak pandemi COVID-19 yang berlanjut, pada kuartal II 2021 Sritex mengalami arus kas (cashflow) negatif. 


Hal ini berdampak pada kendala pembayaran kewajiban kepada kreditur. 


"Untuk mengatasi masalah tersebut, strategi Perseroan yakni dengan restrukturisasi pinjaman bank maupun lembaga keuangan lainnya," ujarnya.


Perusahaan tekstil asal Solo ini dikenal dekat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan keluarga. Pada April 2017, Presiden Jokowi meresmikan perluasan pabrik senilai Rp2,6 triliun.


Namun, Sritex menemui cerita pahit terkait program bantuan sosial (bansos). 


Perusahaan yang dipimpin Iwan Setiawan Lukminto ini, tersangkut kasus korupsi dana bansos yang menyeret mantan menteri sosial Juliani Batubara.


Yang lebih tak mengenakkan lagi, perkara ini menyeret Gibran Rakabuming Raka yang sekarang menjadi Wali Kota Solo. 


Disebutkan bahwa Sritex mendapatkan proyek goodie bag Bansos, lantaran rekomendasi sang putera presiden itu.


"Tudingan yang beredar mengenai adanya rekomendasi dari Gibran Rakabuming Raka itu tidak benar," kata Head of Corporate Communication Sritex, Joy Citra Dewi, pada 21 Desember 2020.


Berdasarkan salinan proposal restrukturisasi yang diajukan Sritex kepada kreditur, total utang perusahaan mencapai Rp19,96 triliun. 


Utang itu terbagi dalam denominasi rupiah, dolar AS, dan euro.


Krediturnya sendiri ada yang bersifat bilateral maupun sindikasi, dengan rincian utang sebagai berikut:

Utang bilateral rupiah: Rp 5,87 triliun

Utang bilateral dolar AS: USD 178,95 juta

Utang bilateral euro: 7,5 juta euro

Utang sindikasi dolar AS: USD 350,02 juta

Utang obligasi global: USD 375 juta


Adapun bank yang jadi kreditur Sritex terdiri dari bank nasional Indonesia, maupun bank asing atau terafiliasi asing. 


Daftar bank nasional yakni:

BPD Jateng

Bank DKI

Bank BJB

Bank BCA

Bank Muamalat Indonesia


Sedangkan bank asing/terafiliasi asing yang menjadi kreditur Sritex, yakni:

Bank of China, Jakarta Branch (Hong Kong)

Bank CTBC Indonesian (Taiwan)

Taipei Fubon Commercial Bank (Taiwan)

MUFG Bank, Jakarta Branch (Jepang)

Bank Mizuho Indonesia (Jepang)

Bank Danamon Indonesia (Jepang)

Citibank Jakarta (Amerika Serikat)

Bank DBS Indonesia (Singapura)

Bank HSBC Indonesia (Inggris)

Standard Chartered Indonesia (Inggris)

Bank Woori Saudara (Korsel)

Bank KEB Hana (Korsel)

Bank CIMB Niaga (Malaysia)

Bank Maybank Indonesia (Malaysia)

Permata Bank (Thailand)

Deutsche Bank AG, Jakarta Branch (Jerman)

Bank QNB Indonesia (Qatar)


Sumber: Suara

Penulis blog