Skandal Terungkap: Rocky Gerung Bongkar PDIP dan Jokowi Terlibat dalam Politik Busuk Tersembunyi! - DEMOCRAZY News | Berita & Politik Indonesia

Breaking

logo

Skandal Terungkap: Rocky Gerung Bongkar PDIP dan Jokowi Terlibat dalam Politik Busuk Tersembunyi!

Skandal Terungkap: Rocky Gerung Bongkar PDIP dan Jokowi Terlibat dalam Politik Busuk Tersembunyi!



DEMOCRAZY.ID - Dalam sebuah wawancara eksklusif di Kanal Youtube Rocky Gerung Official, tokoh intelektual Indonesia, Rocky Gerung, mengeksplorasi konflik dalam dinasti politik dan hipokrasi yang melanda Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terkait dengan Joko Widodo (Jokowi). 


Rocky Gerung merinci bagaimana PDIP tampaknya mendua dalam mendukung Jokowi, meskipun ada ketidakjelasan mengenai status Gibran, anak Jokowi, dalam partai tersebut.


Rocky Gerung mencatat bahwa PDIP secara resmi menyatakan Gibran bukan lagi anggota partai, namun tidak pernah mencopotnya secara resmi. 


Ini mengundang pertanyaan mengenai posisi PDIP yang tampaknya mendua terkait dengan Jokowi.  Partai ini terus menyerang Jokowi, tetapi juga mempertahankan menterinya dalam kabinet.


"Mengapa PDIP masih mempertahankan menteri-menteri dalam kabinet Jokowi, meskipun terus menyerang presiden? Pertanyaan ini semakin membingungkan ketika dibahas dalam konteks etika politik," kata Rocky Gerung.


Rocky Gerung menyatakan bahwa PDIP seharusnya secara tegas menyatakan Gibran bukan lagi anggota mereka, sehingga logikanya juga Jokowi bukan lagi anggota PDIP. 


Namun, sikap oportunistik partai ini menganggap situasi ini sebagai peluang material, yang menggambarkan ketidakjelasan dan kekurangan etika dalam politik.


Rocky Gerung berpendapat bahwa PDIP harus mengambil sikap tegas demi etika, mengklarifikasi status Gibran, dan memutuskan apakah mereka akan tetap mempertahankan menteri-menteri mereka dalam kabinet Jokowi.


Selama PDIP tidak mengambil langkah-langkah etis ini, hipokrasi dan ketidakjelasan dalam politik Indonesia tampaknya akan terus membingungkan dan mempengaruhi peradaban politik negara ini.


Situasi ini juga menunjukkan betapa politik Indonesia tengah menghadapi kemacetan politik yang memerlukan kepemimpinan bersih, etis, dan kohesif. 


Bagaimana kelanjutan dari konflik antara PDIP dan Jokowi akan membentuk masa depan politik Indonesia masih menjadi tanda tanya.


Sementara itu, Ketua DPP PKB, Daniel Johan, juga menyoroti pentingnya kedewasaan politik dalam menjaga stabilitas ekonomi, harga pangan, dan stabilitas politik menjelang pemilu.


Dia menyatakan bahwa tugas kabinet adalah mencapai target kinerja dengan baik.


Meskipun PDIP telah mengalami perubahan dengan Gibran menjadi calon wakil presiden dalam koalisi lain, partai tersebut tetap mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas pertimbangan politik semata. 


Menurut Hasto Kristiyanto, menteri PDIP akan tetap menjalankan tugas mereka untuk kebaikan bangsa dan negara, bukan hanya sebagai alat manuver politik.


Rocky Gerung Sebut Presiden Jokowi Lakukan Politik Adu Domba: Devide Et Impera



Pengamat politik, Rocky Gerung, memberikan tanggapannya terkait pernyataan Sekjen PDIP, Hasto Christianto, yang menuding kubu Prabowo terlibat dalam politik pecah belah.


Menurut Rocky Gerung, tuduhan tersebut tak berdasar dan sebaliknya, dia menyebut Presiden Jokowi-lah yang membelah partai-partai dalam persiapan menghadapi Pilpres 2024.


Komentar ini muncul setelah Budiman, kader PDIP, memilih mendukung Gerindra.


Meskipun Hasto menyebut Prabowo sebagai pemimpin tertinggi, Rocky Gerung menilai posisi Prabowo tak cukup kuat untuk memengaruhi devide et impera.


Dalam pernyataannya, Rocky Gerung mengingatkan agar tidak menuduh partai melakukan devide et impera dengan asal-asalan.


“Jadi kalau PDIP ingin berkelahi dengan Jokowi, ya lakukan secara habis-habisan. Jangan menuduh partai yang (melakukan) devide et impera,” katanya dilansir dari YouTube Rokcy Gerung Official.


Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Presiden Jokowi justru memiliki pemahaman yang berbeda terkait Pilpres.


“Devide et impera artinya adalah ada satu kekuasaan yang membelah persekutuan politik. Jadi nggak mungkin Prabowo membelah dengan kemampuan yang terbatas,” pungkasnya. [Democrazy/VIVA-Herald]

BERITA TERKAIT

Tidak ada komentar: