Fahri Hamzah Tanggapi Pidato Megawati: Yang Sering Curang Jangan Menuduh Yang Biasa Dicurangi! - DEMOCRAZY News | Berita & Politik Indonesia

Breaking

logo

Fahri Hamzah Tanggapi Pidato Megawati: Yang Sering Curang Jangan Menuduh Yang Biasa Dicurangi!

Fahri Hamzah Tanggapi Pidato Megawati: Yang Sering Curang Jangan Menuduh Yang Biasa Dicurangi!



DEMOCRAZY.ID - Politisi Fahri Hamzah mengomentari pidato Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri soal ajakannya kepada masyarakat untuk mengawal proses Pemilu agar tidak dicurangi. 


Banyak pihak berasumsi, pidato Megawati beberapa waktu lalu itu bentuk sindiran terhadap lawan politiknya, Partai Gerinda. Terlebih, putusan MK hingga pencalonan Gibran sebagai cawapres ikut disinggungnya juga.


Fahri Hamzah yang juga merupakan Wakil Ketua Umum Partai Gelora itu, justru menuding balik. Menurutnya, bahwa yang biasa curang jangan menuduh yang terbiasa dicurangi.


"Maka sebaiknya yang sering curang jangan menuduh orang yang terbiasa dicurangin sebagai pelaku kecurangan. πŸ˜€πŸ˜€πŸ™πŸ™πŸ©΅πŸ©΅," tulis Fahri Hamzah dalam akun X pribadinya sebagaimana dikutip, Rabu (15/11/2023). 


Menurutnya, pihaknya telah dua kali kalah dan dicurangi dalam Pemilu. Dengan begitu, sambungnya, pihaknya tidak memiliki pengalaman dalam melakukan kecurangan.


"Kami dua kali kalah, biasanya yang kalah lah yang dicurangin. Jadi kami belum pernah punya pengalaman pada posisi orang curang," ungkapnya.   


Dalam cuitan lainnya, Fahri Hamzah juga menuliskan bahwa Capres Nomor 1 dan Nomor 3 terbiasa mendampingi Jokowi dalam 2 kali pemilu. Sehingga, mereka disebut mengetahui Jokowi memiliki kebiasaan curang atau tidak.


"Jadi gak usah teriak2 karena kalian terbiasa dan tau. πŸ˜€πŸ˜€πŸ™πŸ™πŸ©΅πŸ©΅".



Sebelumnya, Megawati mengajak masyarakat mengawal proses pemilu agar tidak terjadi kecurangan. Mega menyebut pemilu harus dilangsungkan secara jujur dan adil.


“Rakyat jangan diintimidasi seperti dulu lagi. Jangan biarkan kecurangan Pemilu yang akhir ini terlihat sudah mulai akan terjadi lagi,” kata Megawati, Minggu (12/11/2023).


“Rekayasa hukum tidak boleh terjadi lagi. Hukum harus menjadi alat yang menghadirkan kebenaran,” ujarnya. [Democrazy/Poskota]

BERITA TERKAIT

Tidak ada komentar: