Prabowo 'Nyapres' Lagi, Praktisi: Gak Ada Elu Gak Rame! | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News

Breaking

logo

16 September 2022

Prabowo 'Nyapres' Lagi, Praktisi: Gak Ada Elu Gak Rame!

Prabowo 'Nyapres' Lagi, Praktisi: Gak Ada Elu Gak Rame!

Prabowo 'Nyapres' Lagi, Praktisi: Gak Ada Elu Gak Rame!

DEMOCRAZY.ID - Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie menilai isu duet antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo sebagai calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2024 tak akan terjadi. 


Jokowi, menurut Jerry Massie pasti menolak. Karena irasional. Sebab tidak ada nilai istimewa bagi Jokowi duduk sebagai Cawapres setelah dirinya mampu mengalahkan Prabowo pada Pilpres 2014 dan 2019. 


“Dominasi Jokowi itu di atas Prabowo. Elektabilitas dan popularitasnya tetap di atas. Dominasinya pun tak tertandingi oleh Prabowo meski ketua umum Partai Gerindra,” terang Jerry Massie Jumat 16 September 2022.


Jika diibaratkan, lanjut Jerry, Jokowi seperti itu pemain sepak bola sekaligus pelatih. 


“Kapan offensive, kapan defensif. Dia tahu taktik melumpuhkan lawan, dan dai pemenang di lapangan hijau. Teori dan praktik dikuasai. Komplit,” ucap Jerry.


Jokowi, sambung Jerry akan memilih duduk manis dan menyaksikan bisingnya pesta demokrasi 2024 dengan hati legawa setelah melampaui ekspektasi dari sekedar 'tukang mebel'.


“Kelas Jokowi usai dua periode itu lebih pas jadi ketua umum partai. Paling potensial menggantikan Megawati Soekarnoputri. Walaupun buat partai juga sangat mudah,” kata Jerry. 


Jutaan relawan dan pendukung Jokowi masih berharap pria asal Solo itu berkiprah di kancah politik.


“Sebagai bapak bangsa juga sebagai leader di luar kekuasaan pemerintah juga lebih elok. Kalau jadi Cawapres, grid-nya turun 100 derajat. Jokowi akan lebih bernilai di luar kekuasaan. Statement dan pernyataannya pun akan menjadi panduan bagi presiden ke depan,” tutur Jerry. 


Gerindra sambung Jerry sudah pas mencalonkan Prabowo Subianto sebagai kandidat. Karena ada beberapa pertimbangan yang sangat relevan.


Pertama, mempertahankan harapan dari kader, simpatisan bahkan pendukungnya agar Prabowo memimpin Indonesia ke depan.


Kedua, Prabowo mewakili Gerindra sebagai poros terdepan dalam mewarnai blantika politik di tanah air khususnya Pilpres. “Gak ada ELU (Prabowo) gak rame, istilah itu bisa dipakai,” imbuhnya.


Nah untuk bisa mendekati angka kemenangan, Prabowo ada baiknya mengusung kandidat yang memiliki nilai jual. Baik dari sisi popularitas, elektabilitas dan hasil kerja.


“Ada banyak contohnya. Sebut saja Ganjar Pranowo atau Puan Maharani dari PDIP. Tapi apa mau PDIP-nya, itu problem yang dihadapi,” imbuhnya.


Mengapa demikian lanjut Jerry, sebab PDIP merupakan partai pemenang Pemilu yang memiliki akar rumput dan dominasi parpol di Indonesia.


"Secara ratingnya lebih tinggi dari Gerindra, Ii jika diukur dari jumlah perolehan kursi parlemen selama Gerindra ikut Pemilu," jelasnya.


PDIP punya kader-kader terbaik yang bisa disodorkan dalam Pilpres 2024 mendatang.


“Nama-namanya kan sudah terpampang dalam survei. Nah jika Gerindra ingin mencalonkan Prabowo, sudah pasti PDIP akan jalan sendiri. Bahkan bisa menggandeng NasDem atau PKB,” paparnya.


Jerry merasa geli dengan fenomena Jokowi yang disodor-sodorkan sebagai Cawapres.


“Ngak elok, ya ngak pantas saja dan irasional. Itu pendapat saya. Jangan dipaksa-paksa, karena akan lucu efek-nya. Maunya menang tapi takut kalah,” jelas Jerry.


Sementara itu analis politik Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menambahkan wacana duet Prabowo-Jokowi pada Pilpres 2024 merupakan bentuk model keputusasaan harapan dan ketidakberdayaan menyakinkan masyarakat untuk mendukung wacana presiden Jokowi untuk tiga periode. 


Ia beranggapan, isu Prabowo-Jokowi sengaja dihembuskan dalam rangka menguji reaksi publik sekaligus mencari alternatif model lain supaya Jokowi tetap memegang kendali kekuasaan.


“Ini seperti menguji reaksi publik. Akan dilihat sejauh mana respons masyarakat dengan narasi duet maut tersebut,” imbuhnya.


Pangi sanksi bila duet Prabowo-Jokowi bakal sanggup meraih banyak suara seandainya betul-betul maju di Pilpres 2024.


Alasannya, kedua tokoh merupakan wajah lama. Baik Prabowo dan Jokowi sudah duel vis a vis sejak 2014. 


Prabowo bahkan pernah maju sebagai calon wakil presiden Megawati Soekarnoputri pada Pilpres 2009.


“Ada kemungkinan figur Jokowi tidak lagi sepopuler ketika maju pada Pemilu 2014 dan Pemilu 2019,” ujar Pangi. 


“Jangan lupa perilaku pemilih Indonesia itu juga akan kemungkinan jenuh, stagnan, mereka rindu figur-figur yang lebih segar, populis, dan membawa harapan baru di dalam visi capresnya,” jelasnya.


Sebelumnya, ide Jokowi maju sebagai cawapres turut dikemukakan Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul.


“Ya, kalau Pak Jokowi mau jadi wapres, ya sangat bisa. Tapi, syaratnya diajukan oleh parpol atau gabungan parpol,” kata Bambang Pacul di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa 13 September 2022. [Democrazy/DW]