Bripka RR Mengaku Pindahkan Senjata Yosua ke Kamar Anak Sambo, Biar Apa? | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News

Breaking

logo

12 September 2022

Bripka RR Mengaku Pindahkan Senjata Yosua ke Kamar Anak Sambo, Biar Apa?

Bripka RR Mengaku Pindahkan Senjata Yosua ke Kamar Anak Sambo, Biar Apa?

Bripka RR Mengaku Pindahkan Senjata Yosua ke Kamar Anak Sambo, Biar Apa?

DEMOCRAZY.ID - Kasus pembunuhan berencana yang menewaskan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J masih belum menemui titik terang meski penyidik telah banyak memakan waktu selama kurang lebih dua bulan ini.


Salah satu tersangka dalam kasus tersebut, Bripka Ricky Rizal atau Bripka RR, melalui kuasa hukumnya memberikan kesaksian mengejutkan soal dugaan pelecehan seksual yang terjadi di Magelang, Jawa Tengah.


Selaku pengacara Bripka RR, Erman Umar membeberkan secara terperinci soal dugaan pelecehan yang terjadi di Magelang itu. 


Hal tersebut ia sampaikan saat diundang sebagai narasumber pada acara Apa Kabar Indonesia yang ditayangkan tvOne.


Erman memaparkan, Bripka RR merupakan ajudan Ferdy Sambo yang dikhususkan untuk menjaga anak-anak Sambo di Magelang. 


Pada saat kejadian di Magelang, lanjut dia, tanggal 7 Juli 2022. 


Bripka RR sempat pergi ke luar bersama Bharada E untuk mengurus keperluan anak Sambo di sekolah.


“Kemudian mereka dipanggil sama Putri di suruh kembali ke rumah, baliklah (mereka) ke rumah. Pada saat itu lah kejadiannya, saat dia kembali di bawah (lantai 1) rumah itu tidak ditemukan pegawai yang lain, Akhirnya RR naik ke tangga atas. Disitu RR melihat Kuat Ma'ruf ini keadaannya panik dan tegang, RR tanya ‘ada apa pak Kuat?’" terang Erman, dikutip dari tvOnenews, Senin.


Kuat Ma’ruf menodongkan pisau ke Brigadir J


Masih dari pemaparan Erman, Kuat menjawab kalau dirinya melihat Brigadir J naik-turun, kemudian Kuat menanyakan ‘ada apa?’ tetapi pertanyaan tersebut tidak dijawab Brigadir J, “Kenapa itu anak” tanya Bripka RR kepada Kuat.


“Kemudian, Kuat berkata pada RR bahwa Brigadir J ingin naik lagi ke atas melihat kondisi Putri Candrawathi (PC) tetapi dihalangi oleh Kuat dengan menggunakan pisau sambil menodongkan ke arah Brigadir J, lalu akhirnya Yosua turun lagi ke bawah.” Kata Erman


Selanjutnya Kuat Ma’ruf mengizinkan RR untuk naik ke atas melihat kondisi PC, RR melihat PC sedang berbaring dengan setengah duduk dengan posisi bantal tinggi. Melihat kondisi PC, RR pun bertanya. “Ada apa bu? ada kejadian apa?"


“Ibu PC tidak menjawab malah bertanya, ‘Yosua di mana?'” papar Erman


Lalu, lanjut Erman, diantarlah Brigadir J ke kamar PC, dengan kondisi saat itu PC tengah berbaring dan Brigadir J duduk di lantai, sementara pintu kamar tak ditutup. 


Di luar kamar ada RR menunggu dan ia tidak mendengar apa yang dibicarakan di antara keduanya.


Erman menyebut, perbincangan antara Brigadir J dan PC terjadi dalam kurun waktu 10 menit. 


Setelah Brigadir J keluar kamar, ia ditemani oleh R untuk ke bawah agar tidak terjadi lagi keributan dengan Kuat Ma’ruf. 


Sesampainya di bawah, RR kembali bertanya kepada Brigadir J apa yang terjadi, Namun Brigadir J hanya menjawab tidak apa-apa.


Ketika ditanya lebih detail mengenai hal tersebut, Erman menyebut Bripka RR tidak mengetahui pasti apa yang terjadi saat keduanya berbincang selama 10 menit.


"Itu yang nggak dilihat, suara pun nggak dengar, dia kan agak berjarak dia (RR) hanya menjaga bahwa tidak terjadi apa-apa, karena kan dia paling senior disitu," ujar Erman


Melihat konflik Kuat Ma’ruf menodongkan pisau ke Brigadir J, Bripka RR inisiatif memindahkan senjata Brigadir J ke kamar anak Ferdy Sambo.


Berdasarkan pengakuan RR, lanjut Erman, Brigadir J dan Kuat sempat bersitegang saat masih berada di Magelang. 


Melihat kondisi tersebut, Bripka RR berinisiatif memindahkan senjata Brigadir J ke kamar anak Ferdy Sambo.


“Bripka RR beralasan memindahkan senjata tersebut karena melihat ada konflik antara Kuat Ma'ruf dan Brigadir J saat ia hendak ke lantai 2. Oleh sebab itu sebelum turun, karena memiliki perasaan khawatir, Bripka RR memindahkan senjata Brigadir J itu. Karena bagaimanapun dirinya lah yang paling senior di antara ajudan Sambo. Kalau terjadi pertengkaran lagi, jangan sampai ada kejadian yang tak diinginkan” kata Erman


Erman Umar mengklaim kliennya tidak menerima uang yang dijanjikan Ferdy Sambo dan istrinya, Putri Candrawathi, usai penembakan. Menurut dia, uang pemberian Ferdy Sambo itu diberikan tiga hari setelah kejadian penembakan.


“Dalam BAP yang saya baca, uang itu diberikan karena Bripka RR sudah menjaga PC, jadi bukan karena masalah bayaran penembakan. Tapi itu bisa saja, kalau Sambo bisa seperti itu, tapi keterangan itu berbeda-benda,” tutup Erman. [Democrazy/viva]