Cerita Soekarno 'Bohongi Istana' Demi Wanita Pujaan, Bung Karno Terpikat Si Juru Masak Cantik | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News

Breaking

logo

28 Agustus 2022

Cerita Soekarno 'Bohongi Istana' Demi Wanita Pujaan, Bung Karno Terpikat Si Juru Masak Cantik

Cerita Soekarno 'Bohongi Istana' Demi Wanita Pujaan, Bung Karno Terpikat Si Juru Masak Cantik

Cerita Soekarno Bohongi Istana demi Wanita Pujaan, Bung Karno Terpikat Si Juru Masak Cantik

DEMOCRAZY.ID - Selain dikenal dengan kharismanya, Presiden RI pertama Soekarno punya banyak cerita terkait sejumlah wanita yang dikaguminya.


Satu di antaranya kisah hubungan Bung Karno dengan wanita anggun yang bernama Hartini. Hartini dulunya dikenal sebagai juru masak.


Soekarno sampai mengelabui istana untuk bersurat dengan Hartini.


Nama tersebut adalah nama seorang wanita anggun yang telah memikat Soekarno. Hatinya luluh gegara sayur lodeh.


Saat jadwal kunjungan Soekarno menuju Solo dan Yogyakarta pada tahun 1954, Soekarno mampir sejenak ke Salatiga dan menerima sejumlah sambutan hangat dari pejabat di sana.


Para pejabat Salatiga telah menjamu Soekarno dengan hangat sebagaimana orang paling penting bagi Ibu Pertiwi. Ia dihidangkan santapan-santapan lezat siang itu.


Sesaat beristirahat lantas menyantap, Soekarno mengecap sayur lodeh yang tak biasa.


Agaknya, rasanya sangat lezat sehingga Soekarno benar-benar ingin bertemu dengan si pembuat lodeh tersebut.


"Tiba-tiba Soekarno memanggil Sang Walikota dan bertanya, 'siapa yang memasak sayur lodeh yang enak ini?'," tulis Samingan, dosen Pendidikan Sejarah dari Universitas Flores.


Samingan menulis romansa yang unik dari pertemuan antara Soekarno dan pujaan hatinya dalam artikel yang dimuat pada website resmi Universitas Flores.


Artikelnya berjudul "Cinta Sayur Lodeh: Soekarno dan Hartini", dipublikasi pada 3 Juni 2016.


Soekarno meminta kepada wali kota Salatiga untuk mempertemukannya dengan orang di balik lodeh lezat yang disantapnya barusan, berkata bahwa ia ingin sekali berterima kasih karena santap siangnya telah dihidangkan dengan baik.


"Setelah sesi santapan siang, Hartini didaulat oleh ibu-ibu untuk menghadap Soekarno dan menerima ucapan terima kasih," imbuh Samingan.


Hartini adalah orangnya, seorang janda beranak lima yang merupakan salah satu orang di balik hidangan lodeh yang telah memikat Soekarno.


Keayuannya membuat sosok nomer wahid di Indonesia itu kian terpikat.


"Lodeh yang tidak digoreng, dengan sedikit minyak, membuat Soekarno berpaling dan luluh pada sosok Hartini," ungkap Ahmad Rushanfichry, seorang pengajar dan pemerhati sejarah kepada National Geographic.


Berawal dari jabat tangan, tatapan mata lantas turun ke hati, begitulah yang digambarkan Samingan dalam tulisannya.


Seraya menjabat erat tangan Hartini, Soekarno bertanya tentang rumahnya, anaknya, dan kehidupan rumah tangganya.


Soekarno memahami bahwa Hartini telah resmi bercerai dengan Suwondo, mantan suaminya, saat masih berusia 28 tahun.


Ia lantas menghidupi kelima orang anaknya sendirian sebagai juru masak.


Hartini adalah sosok yang banyak digambarkan dalam literatur sejarah sebagai sosok yang cantik dan memiliki unggah-ungguh kesopanan khas wanita Jawa yang berbudaya.


"Setelah pertemuan tersebut, Soekarno terbayang terus pesona Hartini," terusnya.


Suatu hari Soekarno yang terus memikirkan sosok Hartini, mulai terbangun dari lamunannya.


Ia bergegas menulis di secarik kertas yang berisikan sajak, "Tuhan telah mempertemukan kita Tien (Hartini), dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir."


"Kata-kata mematikan diucapkan lewat surat yang dikirim kepada Hartini dikejauhan, membuat hati Hartini gelisah. Terlebih isi surat merayu dan mendayu membuat Hartini berbunga-bunga bercampur was-was," terang Samingan.


Pertemuan keduanya terjadi empat bulan setelah pertemuan pertama.


Pertemuan kedua sudah diatur, yakni pada acara peresmian teater terbuka Ramayana di Candi Prambanan, Jawa Tengah.


Seminggu kemudian, datang surat yang ditulis Soekarno untuk Hartini dengan nama samaran Srihana.


Untuk menyebut Hartini, Soekarno menggunakan samaran Srihani.


"Soekarno sengaja menggunakan nama samaran supaya pihak istana tidak mengetahui jalinan hubungannya dengan Hartini," sebutnya.


Hartini masih ragu akan statusnya ke depan jika menikah dengan Soekarno.


Walaupun begitu, Soekarno dengan sekuat tenaga membangun keyakinan dan cintanya kepada Hartini.


Akhirnya, jalinan kisah cintanya berujung pada sebuah moment peminangan.


Menanggapi pinangan Soekarno, Hartini belum bisa memutuskan secara cepat, terlebih, Hartini tahu betul bahwa Soekarno masih memiliki Fatmawati sebagai first lady.


"Sesudah menjalani hubungan selama satu tahun, Hartini memutuskan menerima pinangan Soekarno dengan syarat Ibu Fatmawati tetap menjadi first lady, dan menjadikannya istri kedua," tulisnya lagi.


Soekarno dan Hartini berencana segera menikah dengan restu dari Fatmawati, meskipun tak lama setelahnya, Fatmawati memilih untuk keluar dari Istana.


Soekarno dan Hartini akhirnya menikah di Istana Cipanas pada 7 Juli 1953. [Democrazy/Tribun]