Walah! Tiga Menteri Saling Lempar Penyebab Harga Telur Ayam Naik | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News

Breaking

logo

25 Agustus 2022

Walah! Tiga Menteri Saling Lempar Penyebab Harga Telur Ayam Naik

Walah! Tiga Menteri Saling Lempar Penyebab Harga Telur Ayam Naik

Walah! Tiga Menteri Saling Lempar Penyebab Harga Telur Ayam Naik

DEMOCRAZY.ID - Harga telur ayam meroket. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia bahkan mencatat saat ini harga telur rekor tertinggi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.


Berdasarkan pantauan Kemendag, rata-rata nasional telur ayam ras di tingkat eceran sekitar Rp31.000/kg pada 23 Agustus 2022. 


Rata-rata harga telur ayam ras terendah terjadi di Jambi Rp26.000/kg, dan harga tertinggi terjadi di Papua Rp42.000/kg.


Adapun penyebab harga telur naik ini terjadi saling lempar pendapat antara tiga menteri, yakni Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Menteri Sosial Tri Rismaharini, dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.


Zulhas Bilang Ulah Bansos


Zulhas menyebut kenaikan harga telur ini disebabkan oleh kebijakan Kementerian Sosial (Kemensos) merapel bantuan sosial (bansos) selama 3 bulan. Pasalnya, isi dari bansos tersebut berisi telur.


Ia menilai, hal tersebut membuat lonjakan permintaan terhadap telur naik secara signifikan. 


"Ini Kemensos rapel bansos 3 bulan dan sebagian besar telur," ujar Mendag Zulhas di DPR, Rabu (24/8).


Anak buah Zulhas, Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Syailendra juga mengatakan hal serupa. 


Dia juga menambahkan lonjakan harga telur itu terjadi imbas dari kenaikan permintaan terhadap komoditas bapok tersebut dengan adanya pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).


Dia mencatat permintaan telur ayam melonjak 60 persen untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga, hotel, restoran, dan kafe (horeka), serta industri makanan dan minuman.


Risma Bantah Bukan Gara-gara Bansos


Sementara Mensos Tri Rismaharini tak terima disebut keputusannya merapel bansos menyebabkan harga telur meroket. 


Dia berujar, Kemensos menyalurkan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) senilai Rp 200.000 per bulan per keluarga penerima manfaat dalam bentuk uang tunai, bukan telur.


"Yang jelas saya enggak bantu telur, karena enggak mungkin. Gimana cara baginya orang jutaan jumlahnya, kita bagi pecah sampai sana. Kita bantu uang ya," kata Risma dikutip dari Antara, Rabu (24/8).


Risma mengungkapkan keluarga penerima manfaat bisa menggunakan bantuan dana tersebut untuk membeli bahan pangan pokok, termasuk telur. Tapi tidak memungkinkan apabila bantuan yang diberikan langsung berupa telur.


Mentan Bilang Pasokan Banyak, Bisa Mahal Tanyakan Mendag


Meski harga telur meroket, Mentan Syahrul Yasin Limpo menegaskan bahwa tidak ada masalah dengan pasokan. 


Karena menurutnya produktivitas telur nasional masih aman. Dengan begitu, telur mahal bukan karena dari pasokannya yang kurang.


Dia mengatakan, bahwa domain Kementerian Pertanian adalah pada produktivitas. 


Sementara untuk harga telur yang bisa meroket tajam seperti saat ini, dia menyebut Mendag Zulhas lebih tahu. 


"Tanya Mendag, yang jelas produktivitas oke," pungkasnya di Gedung Kemenko Ekonomi, Jakarta, Rabu (24/8).


Syahrul menyadari bahwa saat ini harga pangan ternak tengah mengalami kenaikan. Namun dalam masalah suplai dan demand itu bukan berada di bawah Kementan.


Mendag Janji Akhir September Harga Telur Turun


Zulhas memperkirakan tren kenaikan harga telur ini berakhir pada akhir September nanti. 


"Ya tentu saya kira akhir September sudah di bawah Rp 30 ribu," ujarnya.


Menurutnya, harga telur ayam memang sudah menunjukkan kenaikan sejak awal dirinya menjabat sebagai Mendag. 


Namun menurutnya, harga telur ayam sempat turun menjadi Rp 26.000 per kg.


Di sisi lain, Ia menilai, harga telur ayam normal dibanderol Rp 28.000 per kg. 


Untuk itu, Mendag Zulhas telah memanggil pengusaha besar di sektor telur ayam demi membuat pasokan telur kembali banyak. [Democrazy/kumparan]