Terungkap Fakta! Detik-Detik Insiden KM 50, Mobil Habib Hanif Dipepet 'Orang Bertato' Yang Acungkan Jari Tengah | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News

Breaking

logo

28 Agustus 2022

Terungkap Fakta! Detik-Detik Insiden KM 50, Mobil Habib Hanif Dipepet 'Orang Bertato' Yang Acungkan Jari Tengah

Terungkap Fakta! Detik-Detik Insiden KM 50, Mobil Habib Hanif Dipepet 'Orang Bertato' Yang Acungkan Jari Tengah

Terungkap Fakta! Detik-Detik Insiden KM 50, Mobil Habib Hanif Dipepet 'Orang Bertato' Yang Acungkan Jari Tengah

DEMOCRAZY.ID - Pasca dinyatakan bersalah dan dipecat dengan tidak hormat dari keanggotaan Polri, nama Ferdy Sambo masih terus menjadi pusat perhatian publik.


Mantan orang nomor satu di Divisi Propam ini, sepertinya masih akan terus menjadi sorotan.


Terutama setelah ditetapkan sebagai aktor utama dalam skenario pembunuhan berencana Brigadir J.


Sejak ditetapkan sebagai tersangka, beberapa kasus yang pernah ditangani oleh Ferdy Sambo, ikut mencuat dan kembali dipertanyakan masyarakat Indonesia.


Tidak terkecuali kasus tewasnya 6 Laskar FPI di KM 50 Tol Cikampek-Jakarta, pada 7 Desember 2020 silam.


Insiden penembakan oleh anggota Polri yang kala itu diusut oleh Ferdy Sambo saat masih menjabat sebagai Kadiv Propam, dinilai meninggalkan banyak misteri yang tak terungkap.


Seperti yang dilansir dari kanal YouTube Refly Harun, lewat segmen Best Statement, bintang tamu yang diundang saat itu, yakni Habib Hanif, mengungkapkan fakta menarik lain terkait kasus KM 50 ini.


Di podcast kanal YouTube Refly Harun ini, dia sempat menyebutkan tentang kehadiran orang bertato pada hari kejadian.


Kejadian ini bermula ketika Habib Hanif bersama rombongan Habib Rizieq Shihab dan Laskar FPI, akan pergi menuju Karawang pada malam hari, tanggal 6 Desember 2020.


Tidak banyak diketahui orang bahwa malam itu, tujuan Habib Rizieq Shihab sebenarnya adalah untuk pergi ke villa, melakukan pengajian bersama keluarga.


Bukan untuk melakukan penyerbuan seperti yang banyak diberitakan dalam kronologi KM 50 selama ini.


Menurut Habib Hanif, keberangkatan mereka malam itu adalah untuk mengadakan pengajian internal keluarga sekaligus liburan dan istirahat sebagai pemulihan pasca sakit.


Kegiatan tersebut dilakukan di sebuah villa milik sahabat Habib Rizieq Shihab sendiri, yang berlokasi di Karawang, tepatnya di Kampung Turis.


“Jadi ke Karawang itu untuk ke salah satu villa, ke Kampung Turis, yang memang punya salah satu sahabat. Itu untuk liburan, istirahat. Karena beliau pulang dari Mekkah belum istirahat, tuh. Maraton sampai masuk rumah sakit,” ungkap Habib Hanif.


“Beliau butuh istirahat, pemulihan, sekaligus pengajian internal keluarga,” tambahnya.


Rombongan ini bergerak mulai dari Sentul dan menuju Karawang dengan menggunakan delapan kendaraan.


Empat kendaraan untuk Laskar FPI yang mengawal, sedangkan empat lainnya adalah mobil para habib bersama keluarga mereka.


“Kurang lebih delapan mobil. Empat mobil laskar yang mengawal, empat mobil keluarga. Saya ingat waktu itu urutannya. Paling depan sekali mobil Laskar, kedua mobil Habib Rizieq, tiga mobil saya sama istri, anak saya sama pembantu,” tuturnya.


“Dua di belakang saya ini, ada mobil salah satu ustadz keluarga yang ikut dari Mekkah, Ustadz Hakim. Kemudian mobil kakak ipar saya dengan suaminya, anaknya dengan pembantu juga. Belakangnya lagi ada tiga mobil. Satu mobil laskar yang nempel ke rombongan utama, dua yang agak di belakang,” jelas Habib Hanif menambahkan.


Nah, dua mobil inilah yang menurut Habib Hanif terlibat dalam kejar-kejaran hingga terpisah dari rombongan.


Singkat cerita, rombongan ini kata Habib Hanif, memang sengaja memilih untuk berangkat di malam hari untuk menghindari kemacetan.


Dia ingat betul bahwa sebelum keberangkatan, memang sudah ada gerak-gerik mencurigakan, sebab terlihat dua mobil yang standby di depan perumahan di Sentul.


Hal tersebut dinilai mencurigakan sebab rumah milik Habib Rizieq Shihab ini tergolong baru, dan belum banyak orang yang tahu, termasuk keluarga.


Hanya orang terdekat saja yang mengetahui lokasinya, karena memang rumah tersebut disediakan khusus sebagai tempat istirahat keluarga dan bukan untuk menerima tamu.


“Beliau (Habib Rizieq Shihab) sendiri baru nempatin. Keluarga jauh pun itu belum tahu beliau punya rumah di Sentul. Kalau keluarga dekat mungkin tahu, adik-kakak beliau. Tapi keluarga jauh itu belum tahu dan belum pernah ke rumah Sentul tersebut,” jelasnya.


“Jadi aneh kok tahu-tahu ada yang ngikutin disitu, ada drone yang muter-muter disitu. Berarti kan ada yang punya kuasa lebih untuk menjangkau itu,” imbuh Habih Hanif, yang dikutip langsung dari kanal YouTube Refly Harun, 24 Agustus 2022.


Menurut penjelasannya, malam itu ketika keluar dari sentul sekitar jam 11 malam, mereka mulai merasa ada yang mengikuti.


Apalagi sebelumnya, mereka ternyata sempat dihubungi pihak keamanan perumahan, yang menyebutkan ada orang mencurigakan tengah standby disitu.


Tidak ada seorang pun yang mengenakan seragam dalam mobil yang diduga milik oknum polisi itu, bahkan pelat nomor kendaraan yang telah masuk dalam kronologi peristiwa, belakangan diketahui ternyata palsu.


“Pelat-pelatnya disebutkan semua dalam kronologi. Walaupun setelah dicek ternyata pelat itu gak ada. Pelat-pelat palsu ternyata setelah ada yang cek. Indikasi kuat. Dan gak ada yang pakai seragam. Tidak ada satupun yang pakai seragam,” ungkap Habib Hanif.


“Kalau ada seragam aparat ya kita tanya baik-baik ada apa diikuti? Kan simple,” ujarnya menambahkan.


Saat rombongan ini berangkat, ketika memasuki area tol Cikunir, terlihat sebuah mobil SUV yang melaju dan seperti ingin memepet kendaraan rombongan.


Melihat hal tersebut, Habib Hanif pun berusaha untuk memacu mobilnya lebih cepat, agar tidak dipepet kendaraan misterius tersebut.


Namun ketika rombongan berhasil melaju lebih cepat, mobil yang berusaha memepet tadi justru melakukan tindakan yang tidak terpuji.


Dengan sengaja, orang dalam mobil tersebut menurunkan kaca, lalu mengeluarkan tangannya yang bertato dan mengacungkan jari tengah ke arah Habib Hanif.


“Di tengah jalan itu ada mobil yang agak mepet. Karena agak mepet ya kita berusaha lebih cepat. Ya ngotot-ngototan lah karena ada yang mau mepet, kan. Begitu kita lebih cepat gitu, dia buka kaca, mengeluarkan tangan dan saya lihat ada tatonya,” ungkapnya, seperti yang dikutip langsung dari kanal YouTube Refly Harun, 24 Agustus 2022.


Meski mengakui bahwa dirinya tidak mengingat dengan jelas siapa orang bertato tersebut, namun Habib Hanif ingat betul bahwa mobil tersebut termasuk dalam jenis SUV.


“Ya pokoknya SUV. Saya gak perhatikan, karena posisi kita malam dan cepat,” tuturnya.


Saat ditanya oleh Refly Harun, untuk warna mobil itu sendiri pun, Habib Hanif juga sudah tidak mengingatnya lagi, karena kasus ini sudah setahun lebih terjadi.


“Saya lupa, udah setahun lebih,” imbuhnya.


Apa yang disampaikannya saat ini, juga sudah pernah dijelaskan dalam kronologi kepada Komnas HAM, waktu audiensi (pertemuan resmi) dengan mereka.


Saat kejadian tersebut, untungnya Habib Hanif tidak ikut terpancing untuk turut menurunkan kaca mobil, hingga akhirnya mobil SUV itu menghilang, keluar dari jalur jalan tol.


“Akhirnya dia gak lama keluar tol. Gak lama setelah dia mengacungkan jari. Mohon maaf mengacungkan jari itu (jari tengah), dia keluar tol. Antara tol Jagorawi ke arah lingkar luar, dengan MBZ,” ucapnya.


Menurut penuturan Habib Hanif, pada malam nahas itu, setiap kendaraan rombongan rata-rata berisi istri dan anak-anak mereka.


Jadi sangat tidak mungkin rombongan ini berangkat dari sentul, dengan tujuan untuk menggeruduk gedung Polda Metro Jaya, seperti dalam kronologi kasus KM 50 yang beredar selama ini.


“Mana ada orang mau perang bawa istri, bawa cucu. Emang murni mau liburan,” imbuhnya.


Dia pun meyakini betul bahwa seorang Laskar FPI itu tidak pernah bahkan justru dilarang untuk membawa senjata jenis apapun, apalagi senjata api.


Tidak pernah sekalipun dia melihat mereka membawa senjata api, karena memang itu sudah sangat jelas dilarang, apalagi sampai dikatakan ada tembak-menembak.


Sehingga menurutnya, apa yang tertuang dalam kronologi peristiwa KM 50 selama ini, tidaklah benar dan masih ada banyak kejanggalan yang perlu untuk diungkap.


“Saya tahu betul Laskar FPI itu tidak pernah bahkan dilarang untuk membawa senjata api, senjata tajam. Apalagi senjata api, katanya tembak-tembakan. Saya tidak pernah melihat mereka pegang senjata api seumur hidup saya, dan memang itu dilarang. Dan saya yakin, saya yakin keyakinan saya betul, mereka tidak memegang senjata api.” katanya.


“Dan bagi saya kronologi itu gak masuk akal yang disebutkan. Sehingga, ini masih banyak kejanggalan. Kita berharap insya Allah dengan izin Allah, dan dengan karomahnya para syuhada, ini akan terbongkar selebar-lebarnya. Allah gak tidur,” tegasnya. [Democrazy/TerasGorontalo]