PARAH! Ketua DPRD DKI Kader PDIP Sebut Anies Baswedan Tolol: Kerjanya Cuma Menghamburkan Uang! | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News

Breaking

logo

22 Agustus 2022

PARAH! Ketua DPRD DKI Kader PDIP Sebut Anies Baswedan Tolol: Kerjanya Cuma Menghamburkan Uang!

PARAH! Ketua DPRD DKI Kader PDIP Sebut Anies Baswedan Tolol: Kerjanya Cuma Menghamburkan Uang!

PARAH! Ketua DPRD DKI Kader PDIP Sebut Anies Baswedan Tolol: Kerjanya Cuma Menghamburkan Uang!

DEMOCRAZY.ID - Fraksi PDIP DPRD Provinsi DKI Jakarta menggelar diskusi publik dengen mengusung tema "Apa Yang Sepatutnya Dikerjakan 2 Tahun Penjabat Gubernur DKI Jakarta 2022-2024", di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin, 22 Agustus 2022.


Dalam diskusi kali ini, Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi turut menyindir Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan selama memimpin Jakarta. 


Prasetyo menyindir IQ Anies, dan sebut hanya bisa habis-habiskan uang dengan membangun JPO.


"Anies Baswedan orang yang pintar, cerdas, tapi tolol IQ nya. Hari ini saya berhadapan dengan dia (Anies)," ujar Pras saat sambutan di sela-sela dikusi, Senin, 22 Agustus 2022.


Pasalnya, Politikus Partai Berlambang Banteng ini mengatakan, selama memimpin Ibu Kota, Anies hanya bisa menghabis-habiskan uang dengan membangun Jembatan Penyebrangan Orang (JPO).


"Dia (Anies) hanya buat JPO yang ada di Sudirman-Thamrin, itu aja kerjaan dia, kerjaan dia menghabis-habiskan uang," kata Pras.


Ia juga menegaskan, bahwa Jakarta tidak perlu pemimpin yang pintar melainkan pemimpin yang dapat langsung melakukan eksekutor. 


Karena, lanjut dia, permasalahan Jakarta hanya banjir dan macet. 


"Pemimpin Jakarta itu nggak perlu pintar, tapi eksekutor. Perencanaan di otaknya Anies Baswedan itu hanya cerita. Bappedanya itu mengkhayal. Padahal, apa sih masalah Jakarta, macet dan banjir, nggak ada lagi. Kalau masalah kesehatan, pendidikan, itu given, nggak bisa diapa-apain," paparnya.


Politisi PDIP itu kemudian menyampaikan Pj Gubernur DKI setelah Anies lengser Oktober mendatang harus mengerti masalah Jakarta. 


Prasetyo kemudian menyebut Sekda DKI Marullah Matali tak dihargai bawahannya.


"(PJ Gubernur) Harus yang mengerti masalah Jakarta, yang mengerti masalah anggaran. Jabatan struktural harus mengikuti mekanisme runutan yang betul. Di bawah Gubernur siapa sih pangkatnya, paling tinggi yang mengelola ASN adalah Sekda. Sekarang Sekdanya nggak dihargai oleh asisten-asistennya. Gimana mau jalan ini istilahnya pemerintahan. Apa yang saya utarakan tadi unek-unek saya saja, karena saya melihatnya seperti itu. Ada orang yang bermasalah banyak bisa dapat jabatan lagi," kata Prasetyo seusai acara diskusi.


Prasetyo kemudian maksud dari Sekda DKI tak dihargai bawahannya. Prasetyo kemudian menyebut ada Sekda DKI bayangan.


"Ya nggak dihargai lah, dianya sendiri , asistennya nggak ini. Kan ada Sekda-sekda bayangan, namanya Sigit," lanjut Prasetyo.


Prasetyo juga tak menerangkan soal maksud Sekda bayangan. 


Namun Prasetyo menyinggung Sekcam Tanah Abang yang jarang masuk kerja saat masih duduk di Dinas Dukcapil.


"Wah itulah koreksi aja sekarang dia. Salah satunya Sekcam di Tanah Abang. Itu dulu di Dukcapil dan nggak ada kemampuan kerjanya dan jarang masuk kerja bisa dapat Sekcam," paparnya.


Pantauan di Lokasi, turut hadir dalam diskusi kali ini yaitu, Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta, Gembong Warsono; Kepala Badiklatda PDI Perjuangan DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak; Anggota Komisi C DPRD DKI Fraksi PDIP, Cinta Mega.


Adapun pembicara dalam diskusi kali ini yaitu:


- Tenaga Ahli Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD), Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, I Made Suwandi.


- Kepala Departemen Politik dan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandez. [Democrazy]