Hasil Sadapan Ratusan Nomor Telepon Judi Online 303 Bocor, IPW Singgung Konflik Internal Polri | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News

Breaking

logo

19 Agustus 2022

Hasil Sadapan Ratusan Nomor Telepon Judi Online 303 Bocor, IPW Singgung Konflik Internal Polri

Hasil Sadapan Ratusan Nomor Telepon Judi Online 303 Bocor, IPW Singgung Konflik Internal Polri

Hasil Sadapan Ratusan Nomor Telepon Judi Online 303 Bocor, IPW Singgung Konflik Internal Polri


DEMOCRAZY.ID - Data hasil sadapan nomor telepon judi online 303 bocor ke publik. Jumlah nomor telepon yang disadap cukup banyak, termasuk nomor kontak petinggi Polri.


Data nomor telepon judi online 303 itu beredar bersamaan dengan viralnya grafik berjudul ‘Kaisar Sambo dan Konsorsium 303‘ sejak Kamis, 18 Agustus 2022.


Sejumlah tokoh mengaku menerima data telepon judi online 303 tersebut.


Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santoso (STS) mengaku mendapatkan PDF Kaisar Sambo dan Konsorsium 303 dari 11 nomor yang tidak dikenal.


“Saya menerima dari 11 nomor yang saya tidak kenal. Dan juga ada teman-teman yang saya kenal saling mengirim ke saya,” ucap Sugeng, dikutip dari kanal YouTube tvOne, Jumat (19/8).


“Tapi saya sudah tidak pernah kirim ke mana-mana lagi karena saya sudah tahu itu pasti beredar di mana-mana,” tambah Sugeng.


Di PDF Kaisar Sambo dan Konsorsium 303 itu tertera nama polisi yang diduga terlibat judi online 303.


Nama itu lengkap dengan jabatan, pangkat, nomor telepon, dan alurnya.


Selain PDF Kaisar Sambo dan Konsorsium 303, Sugeng juga menerima data hasil sadapan nomor telepon judi online 303 di Telegram.


“Saya tidak hanya menerima chat 6 halaman itu ya (PDF Kaisar Sambo dan Konsorsium 303). Saya juga menerima data yang begitu banyak terkait hasil penyadapan atau pengambilan data dari Telegram,” ucap Sugeng.


Hasil sadapan itu berisi ratusan nomor telepon. Data itu dikirim bersamaan dengan PDF Kaisar Sambo.


“Jadi banyak nomor, ratusan nomor. Satu kali ngirim dengan ini (PDF Kaisar Sambo dan Konsorsium 303),” tambah Sugeng.


“Jadi, ada data nomor-nomor telepon yang terkait dengan judi online,” tambah Sugeng.


Sugeng mengaku sedang mempelajari data tersebut, meskipun sumbernya tidak jelas.


Ia membeberkan tiga alasan sehingga dia harus mempelajari data tersebut.


“Pertama, data ini kan sudah terbuka. Menurut saya, menjadi masukanlah kepada Polri,” ucap Sugeng.


“Kedua, memang harus dikedepankan asas praduga tak bersalah, karena dalam beberapa nama tersebut, kan tidak tersangkut paut dengan kasus Pak FS soal kematian Brigadir Joshua,” tambah Sugeng.


Yang ketiga, lanjut Sugeng, PDF Kaisar Sambo itu mirip dengan flowchart atau diagram yang biasa dibuat oleh penyidik untuk kepentingan gelar perkara.


“Saya kan advokat, sering mengikuti gelar perkara. Jadi, kalau gelar perkara, penyidik itu membuat flowchart yang memudahkan pengertian peserta gelar perkara,” kata Sugeng.


“Flowchart itu memang biasanya dikerjakan oleh penyidik untuk gelar perkara,” tambah Sugeng.


Mantan calon Wali Kota Bogor heran lantaran grafik Kaisar Sambo dan Konsorsium 303 yang beredar di media sosial mirip dengan flowchart yang biasa dibuat oleh penyidik.


Selain itu, kata dia, orang yang bisa menyadap atau mengambil data lengkap dari Telegram itu tidak sembarangan.


Mereka harus memiliki keahlian dan kemampuan untuk menyadap atau menarik data tersebut.


“Datanya cukup lengkap. Apalagi dikaitkan dengan kemampuan menarik akses informasi, komunikasi di dalam fitur Telegram,” katanya.


“Artinya ini kan pihak yang mempunyai keahlian, kelengkapan, akses untuk menarik data untuk kepentingan biasanya penyelidikan,” sambung Sugeng.


Yang bisa menarik data itu, kata Sugeng, bisa polisi dan bisa pula instansi lain yang memiliki kewenangan melakukan penyelidikan.


Sugeng curiga data itu sengaja dibocorkan oleh kelompok di internal Polri yang berseberangan dengan kelompok Ferdy Sambo.


“Saya melihat ini kemudian dalam tanda kutip menyerang FS dengan beberapa nama yang disebutkan, mendiskreditkan mereka,” ucap Sugeng.


“Jadi, saya menduga ini ada persaingan di internal (Polri) juga,” tandas Sugeng Teguh Santoso. [Democrazy/pojoksatu]