Breaking

logo

12 Juli 2022

Rumah Brigadir Yosua Dikepung Ratusan Polisi Bersenjata, Keluarga: Kami Tidak Boleh Merekam Apapun

Rumah Brigadir Yosua Dikepung Ratusan Polisi Bersenjata, Keluarga: Kami Tidak Boleh Merekam Apapun

Rumah Brigadir Yosua Dikepung Ratusan Polisi Bersenjata, Keluarga: Kami Tidak Boleh Merekam Apapun

DEMOCRAZY.ID - Rumah Brigadir Keluarga Brigadir Polisi (Brigpol) Nofriansyah Yosua Hutabarat (27) di Desa Suka Makmur, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, sempat dikepung ratusan personel polisi, Senin (11/7) malam.


Rohani Simanjuntak, bibinya Brigpol Yosua, menyampaikan pihaknya merasa diperlakukan selayaknya teroris.


Ia mengatakan kepolisian itu mengelilingi rumahnya dengan berbaris. 


Tidak ada permisi atau komunikasi dari kepolisian sebelum kondisi tersebut terjadi.


Mereka datang ke kompleks perumahan guru SD di Sungaibahar, rumah orang tua Brigadir J, dengan menumpang 1 bus dan 10 mobil penumpang.


Pintu gerbang sekolah, yang menjadi akses keluar dan masuk ke rumah itu, juga ditutup rapat.


"Mereka bentuk pagar betis. Tidak permisi," tuturnya.


Menurut Rohani, kedatangan para polisi tersebut sontak membuat suasana berubah, menjadi sangat mencekam. 


Sebagian polisi masuk ke rumah tersebut dengan mengunci pintu.


Rohani menuturkan para polisi datang ke rumah orang tua Brigadir J pada Senin, 11 Juli 2022 malam sekitar pukul 20.00 WIB. 


Saat itu, pihak keluarga sedang berkumpul di dalam rumah duka.


Adapun para polisi yang datang itu, kata Rohani, ada yang mengenakan seragam dinas, berpakaian hitam putih, dan pakaian bebas.


"Kayaknya kami yang teroris, karena cara mereka itu datang ke rumah. Terlihat lebih dari 100 personel. Yang memakai pakaian dinas banyak. Pakaian hitam putih ada juga. Pakaian kaus ada juga. Itu jam 20.00 WIB," tuturnya, Selasa (12/7).


"Waktu datang orang itu ke rumah, kami terkejut. Jantung kami serasa mau copot, maklum kami baru trauma baru kehilangan," kata Rohani di rumah duka pada Selasa (12/7/2022).


"Tidak ada kekerasan memang. Mereka coba menerangkan. Tapi penjelasannya berbeda dari sebelumnya. Katanya ada pelecehan," tuturnya.


Keluarga Brigadir Yosua saat itu tidak boleh merekam momen tersebut dengan menggunakan handphone. 


Rohani mengaku menyayangkan tindakan polisi yang datang ke rumah orang tua Brigadir J dengan cara demikian. 


Sebab, mereka berbaris mengelilingi hingga masuk rumah tanpa permisi.


Bahkan pintu gerbang sekolah, yang menjadi akses keluar dan masuk ke rumah itu juga ditutup rapat.


Beberapa di antaranya bahkan langsung masuk ke dalam rumah hingga menutup pintu dan menguncinya. Juga menutup gorden.


"Kami seolah diserang, karena rumah didatangi," ucap Rohani.


Merasa terdesak, Rohani kemudian menegur polisi yang masuk rumah kakaknya itu dengan nada tinggi.


"Jangan seperti itulah Pak masuk rumah orang, kami ini lagi sedih loh, lagi trauma. Yang sopan lah, pake permisi," ujar Rohani.


"Kami ini lagi berduka. Kenapa cara kalian begini masuk rumah orang. Ada kan ucapan Assalamualaikum, shalom, horas. Ini masa kalian masuk langsung tutup pintu, gorden."


Setelah masuk ke rumah, semua anggota keluarga dilarang merekam dan mengambil gambar.[Democrazy/jambi]