Breaking

logo

14 Juli 2022

Rocky Gerung Ungkap '2 Fakta' Insiden Baku Tembak di Rumah Irjen Sambo, Ada Yang Sensasional

Rocky Gerung Ungkap '2 Fakta' Insiden Baku Tembak di Rumah Irjen Sambo, Ada Yang Sensasional

Rocky Gerung Ungkap '2 Fakta' Insiden Baku Tembak di Rumah Irjen Sambo, Ada Yang Sensasional

DEMOCRAZY.ID - Baku tembak antarpolisi yang konon melibatkan Nopryansah Yosua Hutabarat atau Brigadir J dengan Bharada E di rumah dinas Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo, Kompleks Polri Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (8/7) lalu masih menjadi omongan publik.


Brigadir J yang merupakan ajudan Irjen Sambo dan juga sopir pribadi istri Pak Kadiv, Putri Candrawathi, dikabarkan meninggal di tempat.


Pendiri Setara Institute Rocky Gerung pun angkat bicara.


Menurutnya pers dan publik harus membedakan antara informasi faktual dengan sensasional dalam insiden itu.


"Hal penting adalah memisahkan apa yang sebetulnya sedang diteliti secara saintifik oleh pihak kepolisian, dengan apa yang telanjur dikonsumsi publik sebagai hal yang sensasional," kata Rocky pada Kamis (14/7).


Dia menjelaskan setidaknya ada dua fakta dalam kasus itu.


Pertama, terdapat korban tewas (Brigadir J) dalam baku tembak tersebut dan menurut Rocky wajar jika pihak keluarga meminta pertanggungjawaban hukum.


Rocky menyebutkan fakta kedua, yakni dugaan pelecehan seksual yang mengawali baku tembak.


Menurut dia, perlindungan terhadap korban pelecehan seksual dalam hal ini istri Irjen Ferdy Sambo juga harus dihormati.


"Jadi, privasi dan memproteksi hak asasi manusia dalam hal ini perempuan yang menjadi korban (pelecehan seksual) itu seharusnya dihormati oleh pers. Publik juga harus menghindari mengonsumsi hal yang sensasional," katanya.


Di sisi lain, filsuf kelahiran Manado, 20 Januari 1959 ini menyebutkan keingintahuan masyarakat terhadap peristiwa baku tembak itu adalah hal baik. 


Namun, pers juga harus mengedepankan prinsip melindungi privasi atau otoritas tubuh dari korban pelecehan seksual.


"Itu (melindungi hak privasi) ada di dalam undang-undang. Penghargaan terhadap profesi wartawan harus diberikan bila jurnalis berhasil memisahkan antara hal yang faktual dan sensasional," tutur Rocky. 


Analisa Pakar Forensik, Bandingkan Dengan Penembakan 6 Laskar FPI



Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel punya alasan menilai baku tembak antara Brigadir J dengan Bharada E di rumah Kadi Propam Polri Irjen Ferdy Sambo terjadi bukan dalam situasi genting.


Salah satunya, mengacu pada jumlah peluru yang ditembakkan dari senjata api Brigpol Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J Vs Bharada E.


Polisi menyebut ada 12 tembakan dalam insiden baku tembak yang menewaskan Brigadir J itu. 


Tujuh amunisi dari pistol korban tewas dan lima peluru dari senjata api (senpi) Bharada E.


Jumlah peluru yang banyak itu menurutnya menandakan situasinya tidak genting. 


Sebab, bila situasi krisis, temponya sekejap dan pelurunya sedikit.


"Tembak-menembak pakai peluru yang banyak ini menandakan atau mengindikasikan rentang waktunya cukup panjang," ujar Reza Indragiri, Kamis (14/7).


Penyandang gelar MCrim (Forpsych-master psikologi forensik) dari Universitas of Melbourne Australia itu lantas mengungkap dua teori dalam penggunaan senpi.


Teori pertama, ada sistem berpikir yang tertata di lingkup kepolisian yang diterjemahkan dalam bentuk standar operasional prosedur (SOP).


Sesuai SOP, katanya, polisi harus melakukan penembakan ke ruang hampa terlebih dahulu, lalu penembakan ke bagian tubuh yang tidak mematikan, dan puncaknya ke titik yang mematikan lawan.


Teori kedua, polisi dalam situasi genting tidak mungkin untuk mengikuti tahap-tahapan tersebut.


Dia membandingkan dengan kasus penembakan Laskar FPI (Front Pembela Islam) yang terjadi dalam situasi yang risikonya adalah hidup atau mati.


Dalam situasi itu, kata Reza, sulit bagi siapa pun termasuk personel Polri untuk menembak menggunakan senjata api secara bertahap.


"Namun, langsung ke bagian tubuh yang dianggap bisa menghentikan lawan," ucap Reza Indragiri. [Democrazy]