Breaking

logo

15 Juli 2022

Rizal Ramli Bongkar Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung Hanya Demi Kepentingan China

Rizal Ramli Bongkar Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung Hanya Demi Kepentingan China

Rizal Ramli Bongkar Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung Hanya Demi Kepentingan China

DEMOCRAZY.ID - Ekonom Rizal Ramli menyebut bahwa proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung telah ditolak oleh Menteri Perhubungan sebelumnya.


Akan tetapi penolakan dan keberatan itu tak jadi kendala bagi Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melanjutkan proyek mercusuar tersebut.


"Ya betul kita waktu itu menolak. Cukup perbaiki rel, jembatan KA Jkt-Bandung bisa dicapai kecepatan 150 km dengan biaya 1/3 dari KA Cepat, yg harus berhenti di  3 stasion sehingga kecepatannya juga hanya sekitar 150km," ucapnya dikutip dari Twitter pribadinya, Jumat (15/7/2022).


Mantan Mentri Koordinator Bidang Kemaritiman ini menyebut bahwa protek ini tetap berjalan hanya untuk kepentingan China.


"Tapi demi kepentingan RRC, keberatan Mentri2 diabaikan," ucap dia.



Diketahui bahwa proyek Kereta Jakarta-Bandung kembali jadi sorotan publik. 


Ini setelah target operasinya terancam molor lantaran menipisnya dana akibat beberapa kali terjadi pembengkakan biaya konstruksi.


Pada awalnya, proyek ini diperhitungkan membutuhkan biaya Rp 86,5 triliun menurut perhitungan China dalam proposalnya.


Kini biaya proyek menjadi Rp 114,24 triliun alias membengkak Rp 27,09 triliun, dana sebesar itu tentu tak sedikit. 


Target penyelesaian pun molor dari tahun 2019 mundur ke tahun 2022. Belakangan, targetnya mundur lagi menjadi 2023.


PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) yang sahamnya dimiliki beberapa BUMN berharap, kucuran duit APBN melalui skema PMN yang sudah disetujui DPR bisa jadi penyelamat.


Di awal pembangunannya, kereta cepat ini sempat menuai kontroversi. 


Selain menggunakan dana pinjaman China, beberapa kalangan menilai Jakarta-Bandung belum terlalu membutuhkan moda kereta cepat lantaran jaraknya yang pendek.


Diketahui mantan Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan kurang sepakat dalam beberapa hal dengan mega proyek yang kini terancam mangkrak tersebut. [Democrazy]