Breaking

logo

26 Juli 2022

Otto Iskandar Dinata, Pahlawan Dengan Kematian Misterius, Hanya Pasir dan Air di Peti Mati

Otto Iskandar Dinata, Pahlawan Dengan Kematian Misterius, Hanya Pasir dan Air di Peti Mati

Otto Iskandar Dinata, Pahlawan Dengan Kematian Misterius, Hanya Pasir dan Air di Peti Mati

DEMOCRAZY.ID - Pahlawan dari Bandung Selatan, Otto Iskandar Dinata, merupakan satu dari beberapa pahlawan nasional dan pejabat negara yang tak memiliki makam. 


Bukan hanya itu, bahkan kematiannya pun masih merupakan teka-teki sampai sekarang.


Otto Iskandar Dinata menjadi Pahlawan Nasional Indonesia sejak ditetapkan 6 November 1973. 


Dia lahir di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, 31 Maret 1887. 


Sebelum meninggal pada 20 Desember 1945, Otto sempat aktif di berbagai organisasi seperti Boedi Oetomo—bahkan menjadi wakil ketua—cabang Pekalongan dan aktif di Paguyuban Pasundan.


Tokoh yang juga wajahnya terdapat pada uang pecahan Rp20.000 cetakan tahun 2004 ini juga pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). 


Dalam sidang PPKI inilah Otto menunjuk Sukarno dan Moh Hatta sebagai pasangan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. 


Dalam sidang tersebutlah para peserta sidang menyepakati usulan tersebut secara aklamasi.


Kematiannya di usia republik yang masih muda, baru berumur empat bulan, terjadi ketika Indonesia belum benar-benar mandiri. Bahkan, pasukan kolonial masih bercokol.


Otto adalah pahlawan nasional yang nasibnya sangat malang. 


Dia dibunuh di Pantai Mauk, Tangerang, Banten, 20 Desember 1945, serta jasadnya tak pernah ditemukan sampai sekarang. 


Misteri pembunuhan Menteri Negara di awal proklamasi ini, tak terungkap sampai sekarang. 


Mungkin inilah kasus pembunuhan pejabat negara yang pertama dan paling misterius.


Dikutip dari buku "Otto Iskandar Dinata, Riwayat Hidup dan Perjuangannya" disusun oleh Sutrisno Kutojo dan Mardanas Safwan, Otto adalah anggota dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).


Sehari setelah proklamasi kemerdekaan, pada 18 Agustus 1945, PPKI mengadakan sidang yang mengesahkan Undang-undang Dasar 1945.


"Pada malam harinya di Gedung Pejambon anggota-anggota PPKI berkumpul lagi untuk memilih kepala negara. Dalam sidang itu, Otto Iskandar Dinata selalu hadir. Beliau malahan berdiri dan mengusulkan supaya Ir Soekarno dan Drs Moh Hatta segera dipilih sebagai presiden dan wakil presiden," demikian buku tersebut menjelaskan.


Usul Otto diterima secara bulat oleh semua peserta yang hadir. 


Dengan begitu, republik yang berumur sehari itu memiliki presiden dan wakilnya berkat usul Otto Iskandar Dinata.


Sementara Otto diangkat sebagai Pemimpin Badan Pembantu Prajurit (BPP) sekaligus Menteri Negara yang salah satu tugasnya adalah mengoordinasikan dan mengonsolidasikan berbagai laskar perjuangan yang ada seperti Badan Keamanan rakyat, yang kemudian menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).


Namun pergolakan revolusi masih memanas. Situasi negara usai proklamasi belum stabil, sering terjadi pemberontakan dan pertempuran. 


Pagi hari di bulan Oktober, sesudah sarapan, Otto kedatangan tamu yang mengajaknya untuk rapat. 


Tanpa curiga dia pun ikut bersama tamu yang tidak dia kenal pasti itu. Sejak itu, dia tidak pernah kembali ke rumah.


Hingga tersiar kabar, pada 20 Desember 1945, Otto dinyatakan gugur tanpa diketahui jasadnya. 


Penetapan tanggal kematian itu, hanya berdasarkan kesaksian seorang nelayan yang melihat dari kejauhan ada jasad yang dipancung dan mayatnya dilarung di laut.


Sekitar 14 tahun sejak dinyatakan gugur, sosok eksekutor itu diketahui bernama Mujitaba dan dibawa ke pengadilan. 


Namun, siapa yang mengorder pembunuhan "Si Jalak Harupat" (sebutan Otto) itu? Tidak diketahui sampai sekarang. 


Pada suatu hari, sebuah peti mati dibawa ke Kota Bandung pada 1952. 


Kala itu kerabat dan keluarga ikut mengantarkan peti mati itu untuk dimakamkan di sebuah desa di Lembang, Bandung. 


Namun dalam peti itu tak ada jasad sang pahlawan, hanya gundukan pasir dan air yang dibawa dari Pantai Mauk, tempat Otto dieksekusi. 


Karena itu, tempat peti mati itu dikuburkan, diberi nama makam petilasan. [Democrazy]