POLITIK

Membongkar 'Kelicikan' Pemerintah Peras Rakyat via Aplikasi MyPertamina, Ahok Kok Mingkem Aja?

DEMOCRAZY.ID
Juli 04, 2022
0 Komentar
Beranda
POLITIK
Membongkar 'Kelicikan' Pemerintah Peras Rakyat via Aplikasi MyPertamina, Ahok Kok Mingkem Aja?

Membongkar 'Kelicikan' Pemerintah Peras Rakyat via Aplikasi MyPertamina, Ahok Kok Mingkem Aja?

DEMOCRAZY.ID - Aplikasi MyPertamina untuk membeli BBM bersubsidi Pertalite dan Solar yang lagi rame dibahas warga netizen karena berbagai hal yang kontroversial dan asal ada. 


Setelah install ulang aplikasi layanan keuangan digital MyPertamina, ternyata terintegrasi dgn aplikasi sejenis yaitu LinkAja. 


Jadi untuk transaksi beli BBM, pembeli harus punya dana di LinkAja.


Walaupun programnya baru dimulai 1 Juli 2022, saya coba isi/transfer dana ke aplikasi itu seperlunya. 


Setelah dana masuk, saya melihat di situ tertera Biaya Admin Rp.1.000,-.  


Sepertinya tidak berarti karena cuma seribu, tapi saya lalu berpikir, berapa banyak Biaya Admin yang bakal masuk ke LinkAja dalam transaksi beli BBM Bersubsidi.


Sebab ada jutaan konsumen pasti akan mengisi (top up) dana ke LinkAja, bisa beberapa hari sekali. 


Dengan jumlah kendaraan bermotor (mobil dan motor) di Indonesia tahun 2022 ini sebanyak 145 juta, begitu besarnya nilai uang admin yang akan diraup LinkAja secara mudah dan sambil tidur-tidur.


Anggaplah yang beli BBM Bersubsidi hanya 10 %, berarti 14,5 juta, maka, sebanyak 14,5 juta x Rp 1.000 (Rp 14,5 milyar) setiap transaksi akan masuk ke LinkAja dengan santai. 


Jika dalam sebulan, katakanlah 14,5 juta pelanggan rata-rata 5 x top up, Rp 72,5 milyar melenggang masuk ke LinkAja. 


Itu dengan asumsi hanya 10 % pemilik kendaraan (mobil & motor) yang beli BBM Bersubsidi. Luar biasa kan cara penjahat kerah putih cari duit tambahan alias KKN.


Kalau yang memakai BBM bersubsidi 20 %, 30 %, 50% atau lebih, kalikan saja sendiri keuntungan menggiurkan yang bisa diraih mafia KKN mereka dalam sekejap. Belum lagi kalau top up lebih dari 5 x sebulan. 


Patut diberi acungan 2 jempol atas kejelian MyPertamina bersama LinkAja dalam hal KKN ini. 


Saya buka di Google, LinkAja merupakan layanan keuangan digital dari Telkomsel sbg pemilik saham terbesar (25 %), kemudian Bank Mandiri, BNI46, BRI (@ 20 %), BTN, Pertamina (@ 7 %), dan Jiwasraya, Danareksa (@ 1 %). Beginilah cara mereka menguras uang rakyat.


Lantas  kemana Ahok (Basuki Tjahaya Purnama) Komut Pertamina, kok dia diam saja dan tak ada suara. Semoga tidak karena kecipratan dana segar LinkAja.


Otoritas Pertamina harus segera bersuara soal aplikasi ini karena penunjukan operator aplikasi MyPertamina juga tidak melalui tender dan beauty contest.


 Alias asal tunjuk saja dan berpotensi bagian dari kolusi dan nepotisme pihak-pihak tertentu.


Aplikasi Lelet


MyPertamina adalah aplikasi layanan keuangan digital dari Pertamina dan anggota Badan Usaha Milik Negara yang terintegrasi dengan aplikasi LinkAja. 


Aplikasi ini digunakan untuk pembayaran bahan bakar minyak  bersubsidi Pertalite dan Solar, secara non-tunai di stasiun pengisian bahan bakar umum Pertamina.


Kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada 1 Juli 2022 dengan menyasar para pengguna kendaraan roda 4 dan pengguna bahan bakar Pertalite dan Solar. 


Tiga hari pascapemberlakuan kebijakan, rakyat mengeluhkan aplikasi MyPertamina tidak sesuai harapan. 


Review negatif perihal aplikasi itu membanjiri kolom komentar pada Google Play Store.


Dari review Minggu 3 Juli 2022 pukul 11.00 WIB, Aplikasi MyPertamina mendapat rating 1,3 dari sebanyak 219.422 komentar pengguna. 


Mayoritas dari mereka mengeluhkan apliaksinya yang eror saat digunakan. 


Para pengguna mengaku mendapat pengalaman yang kurang baik ketika memakai aplikasi yang dipaksakan ini.


Salah satu pengguna menuliskan pengalaman yang kurang enak ketika memakai MyPertamina. 


Ia meminta pihak Pertamina mengkaji ulang aturan penggunaan MyPertamina saat mengisi bahan bakar di SPBU.


"Aplikasinya error. lelet, jadi lebih cepat datang ke pom, isi dan bayar. Lebih baik dipermudah di pelayanan langsung, jangan pakai aplikasi asal-asalan atau asal jadi. Kecuali aplikasinya bisa delivery order, yang kehabisan dijalan, di rumah atau dimanapun pakai aplikasi ini lalu SPBU bisa anterin dan harganya sama. Kalau masih bisa langsung ke lokasi gak perlu aplikasi, karena orang langsung bisa isinya sendiri," tegas netizen itu. [Democrazy]

Penulis blog