Breaking

logo

08 Juli 2022

Kalau Mau Edit Hoaks, Yang Bagus Dong!

Kalau Mau Edit Hoaks, Yang Bagus Dong!

Kalau Mau Edit Hoaks, Yang Bagus Dong!

DEMOCRAZY.ID - RASA tidak suka atau benci terhadap seseorang itu sah-sah aja. 


Tapi kalau sudah terkait soal politik, bisa aja ada motif lain. 


Ini pula gambaran yang disampaikan dua sahabat yang juga bekerja di salah satu perusahaan IT di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat.


 “Gua nggak habis pikir sama yang namanya Permata Arya alias Abu Janda ini, kok tega-teganya fitnah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Kalau isinya benar sih nggak apa-apa, masyarakat jadi tahu. Lah ini fitnahan semua, kata-katanya nggak benar,” kata Tono, kepada sahabatnya Rahman saat ngopi barang di salah warung kopi.


Tono menceritakan isi tulisan Abu Janda yang sempat jadi trending topik di Twitter soal sosok Anies yang sedang bicara terkait acara Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Jakarta, pada Mei 2020 lalu, alias lebih dari 2 tahun. Tono menyebut diduga postingan itu hasil editan.


“Eh tiba-tiba postingan itu diedit lagi dan disampaikan secara terbuka ke masyarakat pada Rabu, 6 Juli. Ini benar-benar nggak nyambung. Mentang-mentang ACT lagi dapat sorotan hangat di masyarakat, eh bisa-bisanya Si Permadi malah posting bernada fitnah. Bikin resah masyarakat aja,” celetuk Tono.


Tono menuliskan kata-kata yang ditulis Abu Janda yang dinilainya sudah memenuhi unsur pasal ITE. 


“Pak@aniesbaswedan menjelaskan sistem ACT Aksi CuanTerus (Parodi)  akhirnya jadi jelas setelah dijelaskan pak anies,” tulis Abu Janda.


“Bahwa ACT menciptakan suatu sistem di mana... mereka yang kekurangan memberikan kepada mereka yang berpunya! Mereka yang membutuhkan memberikan kepada mereka yang berlebih sistem ini merupakan sebuah pendekatan yang amat menarik dan ini adalah contoh inivasi profit (CUAN). Tapi Insya Allah this is always for BENEFIT (keuntungan),” kata Anies dalam video yang diposting Abu Janda ini.


Padahal, kata Tono, dirinya sampai tiga kali menonton video itu. 


“Jelas banget suaranya bukan suara Anies, tapi suara orang lain. Mimiknya juga dicocok-cocokin biar seolah-olah yang ngomong seorang gubernur. Padahal suara orang lain,” ujarnya sambil tertawa.


Rahmat pun segera membuka HP-nya dan membuka video postingan Abu Janda ini. 


“Ya-ya, jelas banget editannya. Buruk, nggak bagus. Kalau mau main cantik, yang elegan lah membenci orang lain. Boleh aja, tapi harus lebih canggih, nggak kotor begitu. Atau kalau mau edit, ya harus lebih bagus biar mirip,” celoteh Rahman. [Democrazy]