Breaking

logo

01 Juli 2022

Cerita 'Horor' Jokowi Yang Merasa Takut & Tidak Betah Tinggal di Istana Merdeka

Cerita 'Horor' Jokowi Yang Merasa Takut & Tidak Betah Tinggal di Istana Merdeka

Cerita 'Horor' Jokowi Yang Merasa Takut & Tidak Betah Tinggal di Istana Merdeka


DEMOCRAZY.ID - Presiden Joko Widodo (Jokowi) sampai dengan saat ini masih memilih untuk tidak tinggal atau menetap di Istana Merdeka, Jakarta Pusat.


Jokowi dan istri, Ibu Iriana lebih memilih untuk Istana Kepresidenan yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat.


Bukan tanpa sebab Jokowi lebih memilih untuk tinggal di sana, ternyata ada kisah 'mistis' kenapa Mantan Wali Kota Surakarta itu enggan menetap di Istana Merdeka.


Salah satu alasan mengapa Jokowi dan Ibu Iriana memutuskan untuk tidak menetap di Istana Merdeka lantaran dinding istana yang kerap disebut bisa 'berbicara'.


Kisah klenik itu telah diceritakan secara jelas dalam buku 'Panda Nababan Lahir Sebagai Petarung: Sebuah Otobiografi, Buku Dua: Dalam Pusaran Kekuasaan'.


Cerita itu sudah secara jelas dirangkum dalam bagian atau bab buku berjudul 'Dinding Istana Pun Bisa Bicara'.


Dalam buku itu, Politikus Senior PDIP Panda Nababan mengatakan bawa Jokowi bukan satu-satunya presiden yang tidak betah tinggal di Istana Merdeka.


Ternyata hanya ada dua presiden yang merasa betah berada di Istana Merdeka, Jakarta.


Kedua presiden yang dimaksud Panda Nababan yakni ada Presiden ke-1 RI, Ir. Soekarno dan Preisden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau yang kerap dipanggil Gus Dur.


Lanjut, Panda Nababan menyebut bahwa sebenarnya Jokowi pada awal-awal memang sempat memilih menetap di Istana Merdeka, Jakarta.


Akan tetapi ada satu dan lain hal yang membuat Jokowi serta Ibu Iriana memilih pindah ke Istana Bogor.


"Awalnya, setelah setahun menjadi Presiden, Jokowi memang memilih tinggal di Istana Merdeka, Jakarta, dan sesekali menginap di Istana Bogor. Namun, kemudian, Jokowi lebih memilih tinggal di Istana Bogor," tulis Panda Nababan dalam bukunya, dikutip pada Jumat 1 Juli 2022.


Mengetahui hal itu, Panda Nababan lantas bertanya ke Jokowi apa alasan yang melandaskan dia untuk pindah dari Istana Merdeka untuk menetap di Istana Bogor.


"Jokowi mengatakan kepada saya, dirinya merasa tidak nyaman dan aman tinggal di Istana Merdeka," kata Panda.


Lalu Apa alasan yang sebenarnya membuat Jokowi tidak nyaman dan betah tinggal di Istana Merdeka, Jakarta Pusat?


"Meja, kursi, pintu, dan dinding bisa bicara," jawab Jokowi.


Panda kemudian bertanya lagi kepada Jokowi apa maksud dari alasan yang membuatnya tak nyaman tinggal di Istana Merdeka itu.


"Tidak ada pembicaraan yang bisa dirahasiakan. Semua pembicaraan dalam waktu yang singkat bocor," tutur Jokowi.


Panda yang kaget mendengar alasan Jokowi itu langsung bertanya kepada Mensesneg Pratikno, Andi Widjajanto yang saat itu masih menjadi Sekretaris Kabinet dan Luhut Binsar Pandjaitan, yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan.


Akan tetapi ternyata ketiga orang tersebut sama sekali tidak pernah mengetahui dan mendengar cerita dari Jokowi tentang hal tersebut.


Karena masih penasaran, Panda Nababan akhirnya menanyakan pertanyaan yang sama kepada purnawirawan TNI yang pernah menjadi perwira intelijen.


Setelah itu, barulah Panda Nababan mendapat jawaban yang jelas dari sang purnawirawan TNI yang tak disebutkan namanya itu.


Disebutkan bahwa sebenarnya memang ada alat seperti proyektil yang bisa saja ditembakkan ke dinding suatu ruangan, lalu dinding itu merekam pembicaraan orang tersebut.


Bahkan alat itu dikatakan mampu ditembakkan dari kawasan Istana, seperti Jalan Merdeka Barat, Jalan Merdeka Utara, sampai ke Jalan Veteran.


"Beda halnya dengan Abdurrahman Wahid. Dia justru memilih tinggal di Istana Merdeka selama menjadi presiden. Gus Dur tidak takut pembicaraan di Istana disadap. Bahkan, di masa itu, Gus Dur mengubah suasana Istana menjadi lebih 'kerakyatan'," ujar Panda.


"Artinya, orang bisa masuk Istana dengan memakai sandal dan mengenakan kain sarung. Juga bebas merokok, sehingga gordin-gordin dan karpet pun bau asap rokok semuanya," tambahnya. [Democrazy/disway]