Breaking

logo

20 Juni 2022

Soroti Alasan PSI Ogah Dukung Anies, Refly Harun: Ada Gejala Islamophobia

Soroti Alasan PSI Ogah Dukung Anies, Refly Harun: Ada Gejala Islamophobia

Soroti Alasan PSI Ogah Dukung Anies, Refly Harun: Ada Gejala Islamophobia

DEMOCRAZY.ID - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melalui Wakil Ketua Dewan Pembina Grace Natalie memastikan tak akan mendukung Anies Baswedan di Pilpres 2024. 


Grace menyampaikan PSI tak akan mendukung kandidat yang bermasalah.


Menanggapi itu, pengamat yang juga pakar hukum tata negara, Refly Harun heran dengan alasan PSI. 


Menurut dia, klaim PSI yang punya prinsip anti intoleransi dan anti-korupsi sehingga tak mungkin mendukung kandidat bermasalah adalah alasan dibuat-buat. 


"Jadi, alasan yang dibuat-buat. Padahal, sesunguhnya mereka menetapkan dan menerapkan politik aliran. Semua politik aliran sesungguhnya," kata Refly dalam kanal YouTube Refly Harun yang dikutip pada Senin, 20 Juni 2022.


Dia menilai untuk Anies dipersepsikan sebagai aliran kanan. 


Namun, ia menyindir pihak yang beraliran tengah kiri saat ini menganggap yang kanan itu intoleran. 


"Padahal, justru yang ada sekarang adalah gejala Islamophobia. Yang berbau Islam itu sekarang dimusuhin," tutur Refly.


Menurut Refly, seharusnya jika melihat figur itu mesti dari programnya. Bukan justru dari hal-hal yang bersifat statis seperti intoleransi. 


Sebab, isu promordial demikian kerap dipakai saat masa kampanye pemilu. 


"Karena itu menurut saya, harus ada alasan lebih substantif untuk menolak Anies. Misalnya dianggap tidak tidak berprestasi misalnya," ujar Refly.


Pun, ia menekankan jika menuduh dengan intoleran dan korupsi maka dianggap berlebihan. 


"Itu sesuatu yang menurut saya terlalu di kedepan-kedepankan dilebih-lebihkan. Kalau korupsi kan belum jelas," sebut Refly. 


Meski demikian, Refly mengatakan cara PSI menyampaikan alasan tak mendukung Anies merupakan hak mereka. 


"Hanya dalam politik, kita juga harus memberikan pembelajaran ke masyarakat agar masyarakat tidak disuguhi karena ketidaksukaan. Dasarnya harus berdasarkan substantif," tutur Refly.  [Democrazy]