Breaking

logo

30 Juni 2022

KontraS Sindir Presisi: Perbaikan Palsu Institusi Polri!

KontraS Sindir Presisi: Perbaikan Palsu Institusi Polri!

KontraS Sindir Presisi: Perbaikan Palsu Institusi Polri!

DEMOCRAZY.ID - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menyindir slogan Presisi Polri. Mereka menyebut slogan itu sebagai Perbaikan Palsu Institusi Polri.


Presisi merupakan akronim dari prediktif, responsibilitas, transparansi, serta berkeadilan yang digagas era Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.


Wakil Koordinator Kontras Rivanlee Anandar mengatakan pihaknya tak menemukan kinerja Korps Bhayangkara dalam setahun terakhir yang sesuai dengan slogan Presisi.


"Sayangnya kami melihat selama setahun belakangan justru sejumlah hal yang berkaitan slogan atau perpanjangan dari slogan tersebut, itu tidak kami temukan di lapangan," kata Rivanlee saat konferensi pers di Senen, Jakarta Pusat, Kamis (30/6).


Rivanlee mengklaim terdapat permasalahan struktural di dalam sistem kepolisian yang belum selesai. Alih-alih memperbaiki, Rivanlee menilai pihak kepolisian hanya melakukan perubahan citra semata.


"Hal ini berkonsekuensi pada perbaikan palsu yang menjadi tema utama pada laporan ini. Yang pada intinya kami mau bilang bahwa perubahan yang selama satu tahun belakangan terjadi masih jauh panggang dari pada api," ujarnya.


Sementara Kepala Divisi Hukum KontraS Andi Muhammad Rezaldy menyebut selama ini pihak kepolisian hanya memproses kasus hukum yang sedang viral di tengah masyarakat.


Terlebih sepanjang Oktober-November 2021, ramai berbagai tagar di media sosial seperti #1Day1Oknum, #NoViralNoJustice, #ViralForJustice, bahkan hingga #PercumaLaporPolisi.


Menurut Andi, tagar-tagar itu menjadi cermin kejenuhan publik atas pengungkapan kasus dan tindakan yang didasarkan pada keviralan suatu kasus.


"Seakan hanya berfokus pada citra, kultur kepolisian kembali berangsung memburuk setelah masyarakat tak lagi begitu masif membahas kinerja kepolisian di media sosial," katanya,


"Masyarakat yang mengeluhkan kembali buruknya kinerja tersebut, seperti yang tidak ditindaklanjuti laporannya pun akhirnya memilih untuk membuat viral kasusnya," tegas Andi.


Dalam laporannya, Kontras mencatat temuan 677 kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian sepanjang Juli 2021-Juni 2022. 


Kekerasan itu paling banyak dilakukan menggunakan senjata api dengan 456 kasus.


Ratusan kekerasan itu pun menyebabkan 928 jiwa luka-luka, 59 jiwa tewas, dan 1240 orang ditangkap.


Dikonfirmasi terpisah terkait laporan KontraS, Karo Penmas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan mengungkap pihaknya menerima berbagai penilaian dengan tangan terbuka. Ia berjanji akan menjadikan temuan itu sebagai bahan evaluasi.


"Kita berpikir secara positif atau positive thinking, bahwa penilai atau siapapun juga ingin Polri lebih baik. Itu akan kita jadikan evaluasi, kritik-kritik kepada Polri," kata Ramadhan kepada wartawan di Mabes Polri. [Democrazy/cnn]