Breaking

logo

29 Juni 2022

Keras! Menantu HRS Sindir Pemerintah: Pemimpin Mati Keadaan Menzalimi Rakyat, Haram Baginya Surga!

Keras! Menantu HRS Sindir Pemerintah: Pemimpin Mati Keadaan Menzalimi Rakyat, Haram Baginya Surga!

Keras! Menantu HRS Sindir Pemerintah: Pemimpin Mati Keadaan Menzalimi Rakyat, Haram Baginya Surga!

DEMOCRAZY.ID - Menantu eks Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq, Habib Hanif Alatas mengatakan Nabi Muhammad SAW mewajibkan seorang pemimpin untuk berlemah-lembut dan jangan sampai menyusahkan rakyatnya.


Menurut Habib Hanif, Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa pemimpin yang adil kelak akan berdiri di atas mimbar-mimbar yang terbentuk dari cahaya di hari kiamat.


Bahkan Habib Hanif menuturkan, Nabi Muhammad SAW berdoa kepada Allah SWT agar pemimpin yang menyusahkan umatnya dibalas dengan kesusahan.


Sebaliknya, apabila seorang pemimpin mempermudah urusan rakyatnya, Nabi Muhammad SAW berdoa kepada Allah SWT agar memberikannya pertolongan.


"Ya Allah barang siapa yang mengurusi urusan umatku kemudian menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia Ya Allah. Disumpahin sama Nabi," kata Habib Hanif.


"Kemudian, barang siapa yang mengurusi urusan umatku, kemudian dia berlemah lembut, maka berlemah lembutlah terhadapnya Ya Allah, berilah pertolongan kepadanya," sambungnya, dikutip dari kanal YouTube Refly Harun pada Selasa, 28 Juni 2022.


Lebih lanjut Menantu Habib Rizieq itu mengatakan, rakyat yang diamanatkan adalah tanggung jawab pemimpin di hari kiamat.


Karena itu, apabila seorang pemimpin meninggal dalam keadaan menzzalimi rakyat, maka Allah SWT haramkan surga baginya.


"Tidaklah seorang Allah beri jabatan, berikan amanat rakyat, ketika meninggal dia dalam keadaan menzalimi rakyatnya, menzalimi ini bisa memang dalam keadaan dia sedang menzzalimi atau dia belum bertaubat dalam kezaliman tersebut. Kalau dia meninggal dalam keadaan menzalimi rakyatnya, maka Allah haramkan baginya surga," tegas Habib Hanif.


Habib Hanif mengatakan, terdapat banyak sekali bahasan terkait kepemimpinan yang terkandung di dalam hadits Shahih Muslim.


Di antaranya terkait ancaman mengambil rampasan perang, gratifikasi, dan korupsi.


"Ini bab-bab banyak sekali, jadi satu pembahasan dalam hadits Shahih Muslim tentang leadership, tentang kepemimpinan," ucapnya.


Sementara itu, rakyat juga diwajibkan patuh kepada pemimpin selain kemaksiatan.


Habib Hanif menegaskan, patuh kepada pemimpin terikat dengan kepatuhan kepada Allah SWT dan RasulNya.


"Kalau perintah yang diperintahkan kepada kita bertentangan dengan perintah Allah dan RasulNya, maka seorang Muslim tidak boleh mematuhi sebuah kemaksiatan yang diperintahkan atasnya," jelasnya.


"Jadi kepatuhan kepada Allah dan Rasul itu sifatnya mutlak, tapi kepatuhan kepada ulil amri relatif, terikat kepatuhan kepada Allah dan RasulNya," tegas menantu Habib Rizieq itu. [Democrazy]