Breaking

logo

02 Juni 2022

Bukan Jokowi atau Megawati, Rocky Gerung Sebut Sosok Senior Ini Bakal Jadi 'King Maker' di Pilpres 2024

Bukan Jokowi atau Megawati, Rocky Gerung Sebut Sosok Senior Ini Bakal Jadi 'King Maker' di Pilpres 2024

Bukan Jokowi atau Megawati, Rocky Gerung Sebut Sosok Senior Ini Bakal Jadi 'King Maker' di Pilpres 2024

DEMOCRAZY.ID - Pengamat politik, Rocky Gerung menanggapi kabar bahwa mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK) sedang melakukan upaya memasangkan Anies Baswedan dengan Puan Maharani untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.


Rocky Gerung menilai bahwa manuver JK ini bisa memporak-porandakkan konstelasi politik hari ini. Pasalnya, Anies dan Puan memiliki basis pendukung yang berlawanan.


Hal ini disampaikan Rocky Gerung dalam wawancaranya bersama jurnalis senior, Hersubeno Arief yang ditayangkan di kanal YouTube Rocky Gerung Official.


Dalam wawancara tersebut, awalnya Hersubeno Arief mengaku mendengar kabar bahwa JK telah tiga kali bertemu dengan Puan Maharani.


“Jadi ia ingin menjadi Pak Comblang menjodohkannya dengan Anies Baswedan,” kata Hersubeno Arief, seperti dikutip pada Kamis, 2 Juni 2022.


Menanggapi itu, awalnya Rocky Gerung mengatakan bahwa political sense yang dimiliki JK memang tidak bisa dianggap enteng.


Baginya, JK adalah King Maker. Sebab, JK pengalaman panjang JK di dunia politik membuatnya tahu lorong sempit yang masih bisa ditempuh.


“Yang menarik memang, orang akan terkejut bahwa maneuver Pak JK itu bisa memporak-porandakkan politic equation, persamaan politik atau konstelasi politik hari ini,” tambahnya.


Kendati demikian, ia menilai bahwa maneuver JK ini memang wajar terjadi. 


Pasalnya, Anies Baswedan merupakan kandidat kuat untuk maju di Pilpres 2024. 


Akan tetapi, ia bisa saja terhalangi oleh syarat Presidential Threshold.


Sebagaimana diketahui, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Pasal 222 UU menyebutkan bahwa pasangan calon diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25 persen dari suara sah secara nasional pada pemilu anggota DPR sebelumnya.


Anies sebagai tokoh yang tidak memiliki partai bisa saja terhalangi untuk maju sebagai presiden karena persyaratan di atas.


Sementara, Puan Maharani yang berasal dari partai besar seperti PDIP tidak memiliki kesulitan tersebut.


“Kan agak ajaib kalau misalnya Anies dihalangi hanya karena tidak punya tiket 20 persen, kan. Jadi orang akhirnya masuk pada pragmatisme,” ujar Rocky Gerung.


Di sisi lain, Rocky Gerung menilai bahwa pihak Puan Maharani juga memiliki kepentingan sendiri untuk bergabung dengan Anies Baswedan.


Ia menyebut, Presiden Jokowi yang berasal dari PDIP juga mungkin merasa bahwa jika elektabilitas kadernya terus turun, lebih baik mencari orang yang elektabilitasnya baik meskipun berasal dari wilayah lawan.


“Ibu Mega (red: Ketua Umum PDIP) juga begitu, mungkin melihat bahwa Puan tetap adalah calon pemimpin, tapi kesempatan hari-hari ini belum maksimal,” kata Rocky Gerung.


Menurut Rocky Gerung, orang-orang akhirnya mencari “jalan tikus” seperti ini karena persyaratan Presidential Threshold 20 persen.


Ia pun memuji kecerdikan JK mengintip celah untuk menyiasati persyaratan ini, yakni dengan berupaya memasangkan Anies dengan Puan.


“Ini bisa bikin blunder banyak pihak karena nanti dianggap bagaimana mungkin ada perkawinan antara kadrun dan cebong,” katanya.


Tapi, menurut Rocky Gerung, politik memang selalu dapat diselesaikan dengan negosiasi-negosiasi.


“Yang penting buat kita, jangan sampai negosiasi itu didasarkan pada transaksi yang kasar,” ujarnya. [Democrazy/hops]