Breaking

logo

07 Mei 2022

Waduh! Media Barat Tutupi Ideologi Neo-Nazi Batalyon Azov Serta Cita-cita Ukraina Pimpin Perang Salib Terakhir

Waduh! Media Barat Tutupi Ideologi Neo-Nazi Batalyon Azov Serta Cita-cita Ukraina Pimpin Perang Salib Terakhir

Waduh! Media Barat Tutupi Ideologi Neo-Nazi Batalyon Azov Serta Cita-cita Ukraina Pimpin Perang Salib Terakhir

DEMOCRAZY.ID - Sejak NATO terseret dalam perang Rusia-Ukraina, media-media Barat dituding tidak lagi kritis dalam menyajikan informasi. 


Media Barat juga dianggap menyembunyikan kaitan erat neo-Nazi dengan Batalyon Azov yang kini jadi bagian dari pasukan Ukraina.


Misalnya pada 22 Maret 2022 lalu, CBS News menerbitkan sebuah artikel berjudul “Batalyon Azov:Bagaimana Putin membangun premis palsu untuk perang melawan Nazi di Ukraina."


Dalam berita tersebut seorang analisis tim intelejen konflik, Ruslan Leviev melakukan pembelaan terhadap Batalyon Azov.


Pada pernyataanya saat itu, Leviev menegaskan bahwa tak ada Nazi di Ukraina, orang-orang bergabung dengan Batalyon Azov karena pasukan tersebut dinilai yang paling siap dalam berperang.


“Tidak ada batalyon Nazi di Ukraina. Ada resimen Azov, ada (diperkirakan) beberapa ribu orang yang berada di resimen ini. Ini memang kelompok di mana banyak anggotanya menganut pandangan nasionalis sayap kanan. Tetapi, banyak orang yang bergabung karena ini adalah unit paling siap berperang,” ucap Leviev seperti dikutip dari laman World Socialist Web Site pada Jumat, 7 Mei 2022.


Selain itu, Wakil Komandan Batalyon Azov, Svyatoslav Palamar juga sering menjadi narasumber bagi media Barat seperti CNN, New York Post, dan Telegraph untuk melaporkan situasi di Mariupol.


Tetapi, dalam pemberitaan yang dimuat, sama sekali tidak disinggung soal ideologi neo-Nazi Batalyon Azov.


Padahal jauh sebelum konflik Rusia-Ukraina pecah pada Februari 2022 lalu, tahun 2015 beberapa media besar seperti Time, New York Times, serta USA Today pernah menuliskan pemberitaan yang membenarkan jika pasukan yang paling berpengaruh di Ukraina adalah pasukan neo-Nazi.


Misalnya, dalam artikel yang dipublikasikan oleh USA Today tahun 2015 dengan judul "Unit sukarelawan Ukraina termasuk Nazi” juru bicara Batalyon Azov mengakui sekitar 20 persen anggota Azov adalah penganut ideologi neo-Nazi.


Media Times juga melaporkan bahwa pemimpin Azov, Andriy Bilestky mengungkapkan manifesto yang berkiblat langsung pada ideologi Nazi.


“Nasionalis Ukraina harus memimpin negara-negara kulit putih di dunia dalam perang salib terakhir demi kelangsungan hidup mereka, perang salib melawan Untermenschen yang dipimpin semit,” ucap biletsky.


Perlu diketahui bahwa manifesto ini berakar dari propaganda Nazi. 


Untermenschen sendiri merupakan istilah Nazi Jerman untuk menyebut ras non Arya yang seringkali dianggap sebagai manusia rendahan oleh Nazi.


Sebutan ini biasanya disematkan pada orang-orang Yahudi, orang-orang dari timur Eropa seperti Roma, Polandia, Serbia serta orang-orang yang difabel.


Batalyon Azov juga disebut terlibat dalam tradisi organisasi kolaborator Nazi seperti OUN-B dan UPA yang sebenarnya bertanggung jawab atas pembantaian puluhan ribu orang Yahudi, Polandia dan warga sipil Ukraina di era Perang Dunia II.


Sebelumnya, Batalyon Azov mulai menjadi pusat perhatian ketika terjadi kudeta Ukraina pada tahun 2014 serta pecahnya perang saudara di Donbass Timur. 


Saat itu, pasukan yang menganut paham neo Nazi tersebut dianggap pasukan paling berpengaruh di Ukraina. [Democrazy/hops]