Breaking

logo

19 Mei 2022

Pengamat Bilang Jokowi Punya Keterbatasan Kosa Kata Dalam Bahasa Inggris, Berbeda Dengan Anies Baswedan

Pengamat Bilang Jokowi Punya Keterbatasan Kosa Kata Dalam Bahasa Inggris, Berbeda Dengan Anies Baswedan

Pengamat Bilang Jokowi Punya Keterbatasan Kosa Kata Dalam Bahasa Inggris, Berbeda Dengan Anies Baswedan

DEMOCRAZY.ID - Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi menilai, dari sekian tokoh-tokoh yang muncul sebagai calon pemimpin nasional di pemilihan umum 2024, hanya ada satu tokoh yang punya karakteristik berbeda dengan Presiden Joko Widodo, yaitu Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. 


"Anies Baswedan punya karakteristik yang paling berbeda," ujar Burhanuddin Muhtadi dalam sebuah video yang diunggah oleh akun Twitter milik mantan Menpora Roy Suryo di Twitter-nya @KRMTRoysuryo2.


Video tersebut diambil dari chanel YouTube narasi TV yang telah diunggah 2 bulan lalu. 


Lebih lanjut, Burhanuddin Muhtadi mengatakan, Anies Baswedan jadi Gubernur Jakarta tetapi mempunyai gaya kepemimpinan yang presidensial. 


Anies kerap kali tampil berbicara di forum-forum dunia dengan bahasa inggris yang fasih, seolah ingin mengesankan bahwa Anies berbeda dengan Jokowi. 


"Beliau tampil sebagai sosok yang sangat presidensial. Berbicara di depan para pemimpin dunia, meskipun level beliau baru Gubernur tapi sering kali tampil di Konferensi Internasional seolah-olah ingin mengesankan bahwa Anies ini berbeda dengan Jokowi yang punya keterbatasan kosa kata dalam bahasa Inggris," katanya. 


Dia juga menyoroti pidato pertama Anies Baswedan setelah terpilih jadi Gubernur DKI Jakarta pada 2017 lalu. 


"Dar sisi narasi, di menit pertama sejak Anies dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta, Anies berikan semacam diferensiasi juga yang berbeda dengan Pak Jokowi," katanya. 


"Anies sebutkan kata pribumi dalam pidatonya. Yang kira-kira dia ingin berikan sinyal yang membedakan dengan presiden saat ini yang dikesankan kurang begitu friendly terhadap pribumi. Jadi dianggap seolah mementingkan kepentingan asing terutama Cina," pungkas Burhanuddin Muhtadi dalam video tersebut. [Democrazy/fin]