-->

Breaking

logo

11 Mei 2022

Pengamat: Belum Ada Rekam Jejak Prestasi Yang Ditorehkan Puan Maharani

Pengamat: Belum Ada Rekam Jejak Prestasi Yang Ditorehkan Puan Maharani

Pengamat: Belum Ada Rekam Jejak Prestasi Yang Ditorehkan Puan Maharani



DEMOCRAZY.ID - Peneliti psikologi politik pada Universitas Indonesia Dicky Pelupessy menilai pasangan yang nanti akan maju ke pilpres 2024 harus menunjukkan kecocokan sehingga dapat saling melengkapi. 


Dia menilai aspek psikologis dan kepribadian pasangan akan sangat memengaruhi pilihan masyarakat.   


Menurutnya, masyarakat membutuhkan pemimpin yang memiliki prestasi yang diharapkan mampu merealisasikan janji politiknya saat terpilih. 


Dengan prestasi itu, katanya, masyarakat percaya figur tersebut akan membawa kemajuan Indonesia dari sisi ekonomi dan sosial. 


"Masyarakat membutuhkan pemimpin yang tak sekadar memiliki motif berkuasa, tetapi memiliki prestasi yang dapat membawa Indonesia menjadi bangsa pemenang dan membangun ekonomi yang kuat. Pemimpin yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah yang mampu meninggalkan kepentingan pribadi dan golongannya," kata Dicky dalam keterangannya, Rabu, 11 Mei 2022.


Dicky menilai gagasan pasangan Prabowo Subianto dan Puan Maharani kurang cocok mengingat rekam jejak Puan yang lebih banyak di tataran elite partai. 


Meski sempat menjabat di eksekutif sebagai Menko PMK, masyarakat sulit menemukan prestasi Puan dan justru banyak kritik yang dilayangkan saat masih menjabat. 


"Sampai saat ini belum ada rekam jejak prestasi yang ditorehkan Puan sehingga sosok Puan belum bisa menjadi sosok yang dapat melengkapi Prabowo. Sosok Prabowo yang sangat kuat di politik harus diimbangi dengan sosok yang memiliki prestasi," ujar Dicky. 


Dicky menilai itu berbeda dengan pasangan Ganjar Pranowo dan Erick Thohir yang disebut memiliki kemampuan untuk saling melengkapi. 


Ganjar merupakan seorang politikus tulen yang membangun karier politiknya dari bawah hingga bisa meraih jabatan sebagai gubernur Jawa Tengah, sementara Erick memulai kariernya dari pengusaha dan berhasil mengubah wajah BUMN dengan peningkatan kinerja yang signifikan. 


"Ganjar-Erick merupakan kombinasi yang lebih lengkap dan dapat saling melengkapi. Dua tokoh ini punya latar belakang yang berbeda yang bisa mencerminkan politik murni dan pengusaha yang masuk ke dunia politik. Terlebih lagi prestasi yang dimiliki Erick lebih lengkap jika dibanding dengan Puan, baik sebagai pengusaha maupun sebagai Menteri BUMN," kata Dicky.


Prabowo-Puan, dia berpendapat, justru sama-sama memiliki modal politik yang kuat dan rentan untuk mampu saling melengkapi. 


Terlebih, kinerja DPR yang rendah menjadi sorotan sebagian besar masyarakat dan akan memengaruhi citra Puan. 


Kendati begitu, Dicky melihat pasangan capres-cawapres saat ini masih sangat dinamis dan masih terbuka untuk berubah. 


Dicky menyebut salah satu variabel utama ialah kerja mesin parpol dalam mengusung calon pasangan dengan mengandalkan aspek elektabilitas. 


"Masih ada waktu dua tahun untuk menaikan elektabilitas. Buat apa memiliki pasangan yang kuat di atas kertas, namun mesin pemenangannya tak optimal. Partai juga ingin menang dalam pileg dan pilpres," ujarnya. [Democrazy/viva]