Breaking

logo

25 Mei 2022

Mendag Lutfi: Sistem Perdagangan Komoditas Dunia Harus Ditata Ulang!

Mendag Lutfi: Sistem Perdagangan Komoditas Dunia Harus Ditata Ulang!

Mendag Lutfi: Sistem Perdagangan Komoditas Dunia Harus Ditata Ulang!

DEMOCRAZY.ID - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menilai beberapa kejadian dunia yang sifatnya negatif dan insidental seperti perang di Ukraina, sebenarnya hanya berfungsi sebagai pendorong dan peringatan.


Menurut dia, perang antara Rusia dan Ukraina bukan penyebab utama terganggunya arus perdagangan komoditas yang menyebabkan inflasi tinggi di belahan dunia saat ini.


"Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo sudah sejak lima tahun lalu menyatakan bahwa perdagangan komoditas dunia perlu ditata ulang. Struktur dan sistem yang dominan saat ini lebih banyak dampak buruknya dibandingkan manfaatnya, khususnya bagi masyarakat di negara berkembang besar seperti Indonesia, Brasil, India, dan China," katanya dalam panel diskusi World Economic Forum (WEF) bertema Absorbing Commodity Shocks, Rabu (25/5).


Menurut Mendag, dibutuhkan adalah perubahan mentalitas dalam memandang perdagangan bebas dunia sebagai lokomotif yang tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor non ekonomi.


Konsep yang dikenal dengan ESG (environment, sustainability and governance) saat ini, menjadi ukuran pertama dan utama bagi investor dalam menanamkan modalnya. 


Konsep ESG adalah pembangunan ekonomi berbasis pemeliharaan lingkungan, pembangunan yang berkesinambungan dan tata kelola.


"Kami di Indonesia percaya bahwa komitmen penuh terhadap ESG menciptakan platform untuk membangun rasa saling membutuhkan dan saling percaya antara semua negara di dunia," ujarnya.


Indonesia, kata Lutfi, tidak tinggal diam melihat beragam hambatan terhadap perdagangan dan perekonomian dunia.  


Menurut Lutfi, Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN saat ini bersama-sama 9 negara ASEAN lainnya, berkomitmen penuh menghilangkan kendala perdagangan antar negara sebagai kontribusi nyata ASEAN dalam meringankan beban perekonomian dunia.


Hal tersebut dilakukan dengan 10 negara ASEAN saling mendukung dalam menerapkan konsep ESG di masing-masing negara.


"Selanjutnya dengan komitmen penuh ASEAN dalam penerapan ESG, kami berharap perekonomian ASEAN bisa semakin terintegrasi ke dalam rantai pasok utama dunia (main global supply chain)," pungkasnya.


Lutfi menegaskan ESG justru akan menjadi katalis sekaligus peluang untuk negara berkembang menjadi negara maju. [Democrazy/kmp]