Breaking

logo

28 Mei 2022

Imam Besar Al-Azhar: Terorisme Ciptaan Rezim Barat untuk Kepentingan Politik!

Imam Besar Al-Azhar: Terorisme Ciptaan Rezim Barat untuk Kepentingan Politik!

Imam Besar Al-Azhar: Terorisme Ciptaan Rezim Barat untuk Kepentingan Politik!

DEMOCRAZY.IDAhmed El-Tayyeb, Imam Besar Al-Azhar Mesir, mengungkapkan, bahwa Terorisme adalah fenomena Politik yang diciptakan oleh beberapa rezim Politik Barat, dan kemudian melekat pada Yudaisme, Kristen, dan Islam, untuk kepentingan dan agenda Politik.


Universitas Al-Azhar Mesir, adalah lembaga pendidikan Islam paling terkemuka di dunia. 


Al-Tayyeb, saat berbicara pada pertemuan dengan Delegasi dari Royal College of Defense Studies Inggris, mengatakan, bahwa lembaganya telah memasukkan mata pelajaran Kontraterorisme dan kontra Radikalisme dalam Silabusnya.


“Selama beberapa dekade, budaya Al-Azhar didasarkan pada mendidik para siswanya untuk menghormati pendapat yang berbeda,” ungkap Ahmed El-Tayyeb seperti dikutip dari Middle East Monitor, Jumat (27/5/2022).


Dia menunjukkan bahwa Al-Azhar telah mendirikan apa yang disebut Rumah Keluarga Mesir bersama dengan Gereja Ortodoks Koptik Mesir pada inisiatif 2011, dengan tujuan untuk mempromosikan hubungan baik antara Muslim dan Kristen di Mesir.


Di pihak Royal College of Defense Studies, delegasi Inggris mengatakan bahwa pertemuan para pemimpin agama besar adalah mewujudkan kebenaran agama-agama surgawi sambil mewakili tembok penghalang terhadap segala upaya untuk mencuci otak pikiran orang. 


Penuturan Sarjana Barat tentang Siapa Teroris Sesungguhnya


Diakui atau tidak, terorisme Israel sesungguhnya terjadi atas restu dan dana dari Amerika Serikat.


Bayangkan, setiap tahun Israel mendapat pasokan dana dari Amerika Serikat lebih dari 2 miliar dolar untuk bantuan militer.


Sejak 1948 sampai 1997 saja, Israel sudah menerima bantuan keuangan dari Amerika Serikat sekurang-kurangnya 84,8 miliar dolar. 


Belum lagi keuntungan pemotongan pajak sekitar 134,8 miliar dolar.


Sebaliknya, sejumlah terorisme negara yang dilakukan atau diponsori Amerika Serikat, juga banyak melibatkan radikalis Yahudi Israel. 


S Brian Wilson, dalam buku Who are the Real Terrorists menyebut bahwa musuh terbesar dunia adalah terorisme yang dikembangkan pemerintah/militer Amerika Serikat. 


Akibat intervensi militer Amerika Serikat jutaan sipil telah terbunuh di Filipina, Vietnam, Laos, Kamboja, Mexico, Cuba, Haiti, Republik Dominika, Rusia, Jepang, Francis, Jerman, Korea, Thailand, Panama, Grenada, Iran, Libya, Lebanon, Irak, Sudan, Somalia, Bosnia, Yugoslavia dan Afghanistan.


Dalam melakukan aksinya, Amerika Serikat adakalanya berperan di belakang layar. Dia menyetir rezim boneka. 


Di bawah kendali Amerika Serikat, rezim setempat telah melakukan pembunuhan besar-besaran. 


Akibatnya jutaan orang tewas di Indonesia, Timor Timur, Guatemala, Kolombia, Ekuador, Nikaragua, El Savador, Honduras, Haiti, Guyanan, Mexico, Kuba, Uruguay, Peru, Bolivia, Chile, Argentina, Paraguay, Brazil, Cina, Filipina, Kongo, Angola, Mozambik, Italia, palestina, Israel, Afghanistan, Turki, Yunani, Siprus, Irak, Pakistan dan Iran.  


''Israel sesungguhnya adalah negara teroris, Mossad adalah tukang jagalnya.'' [Prof Dr Israel Shahak, penulis Jewish History/Jewish Religion] 


''Pemerintah dan militer Amerika Serikat sesungguhnya telah melakukan aksi terorisme internasional dan pembunuhan brutal hampir sepanjang abad ke-20.'' [Edward S Herman, penulis buku The Real Terror Network] 


"Amerika Serikat adalah organisasi teroris terbesar di dunia. Sejak 1890, Amerika Serikat telah melakukan lebih dari 400 operasi intervensi militer dan 6.000 operasi intelijen pada sedikitnya 100 negara dan membunuh jutaan warga tak berdosa.'' [S Brian Wilson, penulis Who are the Real Terrorists] 


''Terorisme Israel dan Amerika di belakang Tragedi 11 September. Jika Amerika Serikat serius mau membasmi terorisme, basmilah lobby Yahudi di Amerika Serikat.'' [David Duke, mantan senator dan Presiden European-American Unity and Right Organization [EURO]. 


''Kejahatan terbesar sejak Perang Dunia II adalah kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat.'' [Ramsey Clark, mantan Jaksa Agung AS masa Presiden Lyndon Johnson] 


[Democrazy/SI]