Breaking

logo

08 Mei 2022

Ditanya Menyesal Tidak Dukung Prabowo, UAS: Saya Harus Bayar Mahal hingga Dibenci, Dibully...

Ditanya Menyesal Tidak Dukung Prabowo, UAS: Saya Harus Bayar Mahal hingga Dibenci, Dibully...

Ditanya Menyesal Tidak Dukung Prabowo, UAS: Saya Harus Bayar Mahal hingga Dibenci, Dibully...

DEMOCRAZY.ID - Ustaz Abdul Somad (UAS) menceritakan konsekuensi yang diterimanya saat memutuskan untuk mendukung Prabowo menjadi calon presiden (capres) pada tahun 2019 lalu.


Tak tanggung-tanggung, UAS harus membayarnya dengan hal menyakitkan berupa bully dan kebencian yang ditujukan kepadanya. 


Tak hanya itu, ia pun menerima kenyataan beberapa pekerjaan yang dibatalkan sepihak oleh pihak penyelenggara.


Apa lagi yang diungkapkan UAS? Simak ulasan berikut.


Mengaku Membayar Mahal Atas Keputusannya


Dalam sebuah bincang online bersama pengamat politik Refly Harun, UAS menceritakan jika keputusannya untuk mendukung Prabowo kala itu harus dibayar dengan mahal.


Meski demikian, ia mengaku tidak menyimpan rasa kebencian atau pun penyesalan sama sekali.


"Tidak ada kekecewaan sedikit pun karena itu adalah hal yang sudah saya lakukan, saya hanya perlu melakukan apa yang saya lakukan," ucap UAS dikutip dari kanal YouTube Refly Harun pada Minggu, 08 Mei 2022.


"Walau pun saya harus membayar dengan high cost, harga mahal, dengan bully, dengan kebencian, dengan putus persahabatan dan lain-lain," lanjutnya.


Pembatalan Pekerjaan Secara Sepihak


UAS pun menceritakan bagaimana ia menerima pembatalan kerja secara sepihak beberapa saat sebelum tabligh akbar. Hal ini menjadi konsekuensi lain yang ia terima.


"Ada satu BUMN yang sudah menyiapkan tiga ribu nasi kotak tiba-tiba membatalkan dua jam sebelum tabligh akbar," tutur UAS.


"Ada BUMN yang mengundang saya setahun sebelumnya untuk hari ulang tahun, dibatalkan seminggu sebelum hari H," lanjutnya.


Tak hanya itu, ia pun menerima kenyataan tak jadi mengikuti umrah bersama para jamaah yang segala persiapan sudah disiapkan dengan matang sebelumnya.


"Ada yang sudah siap-siap untuk umrah bersama saya, 600 orang sudah siap tiketnya, sudah siap hotelnya, dibatalkan juga,"


"Saya bukan penjahat, saya bukan tokoh perlawanan mengangkat senjata, jadi kalau menurut hukum tata negara apa yang sebetulnya saya terima bang Refly?,"


"Perlakuan diskriminatif itu," ujar Refly.


Tak Bertemu Lagi dengan Prabowo


Ditanya Relfy Harun apakah UAS sempat bertemu lagi dengan Prabowo atau tidak, UAS menjawab jika ia tidak bertemu dengan Ketua umum partai Gerindra tersebut. 


Namun UAS pun mendoakan yang terbaik untuk Prabowo.


"Tidak, tidak ada bertemu, saya hanya mendoakan mudah-mudahan kita senan tiasa istiqomah," tutur UAS.


Ia pun menjelaskan jika dirinya tidak merasa kecewa sama sekali pada apa yang sudah ia terima.


"Saya tidak kecewa karena gagasan akan diperjuangkan oleh siapa pun, yang kedua saya tidak berijtihad sendiri, saya mendengarkan fatwa ulama yang dzahir, yang melihat dari analisa, ulama yang bathin, ulama yang selalu mendapatkan inspirasi wahyu walau sudah terputus tapi mendapat ilham dari kejernihan hati," pungkas UAS. [Democrazy/hops]