Breaking

logo

10 Mei 2022

Budi Santosa Ngaku Ingin Hengkang Sebagai Rektor di ITK: Tunjangannya Kecil, Mendingan Ngajar Full di ITS

Budi Santosa Ngaku Ingin Hengkang Sebagai Rektor di ITK: Tunjangannya Kecil, Mendingan Ngajar Full di ITS

Budi Santosa Ngaku Ingin Hengkang Sebagai Rektor di ITK: Tunjangannya Kecil, Mendingan Ngajar Full di ITS

DEMOCRAZY.ID - Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Budi Santosa Purwaktiko terancam didepak dari jabatannya setelah melontarkan pernyataan kontroversial yang menyebut mahasiswi berkerudung seperti manusia gurun.


Imbas pernyataan yang disampaikan lewat tulisannya yang diunggah di akun facebooknya itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebelumnya telah memberhentikan Budi dari jabatan reviewer di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti).


Namun sanksi yang diberikan kepada Budi oleh sebagian kelompok dinilai masih terlampau ringan, sejumlah pihak mendesak agar Kemendikbudristek juga segera memberhentikan Budi dari jabatan rektor ITK.


Terkait banyaknya desakan agar dirinya segera didepak dari posisi rektor ITK, Budi justru tampak santai memberi tanggapannya.


Dia mengaku sebelum desakan itu mulai berdatangan, dirinya jauh-jauh hari sebelumnya telah meminta pihak berwenang untuk mencabutnya dari jabatannya tersebut. 


Bahkan permintaan itu kata dia diutarakan jauh sebelum dirinya mempublikasikan tulisan kontroversial itu.


“Sebelum orang ribut menuntut saya dicopot dari rektor, saya sudah meminta teman2 di ITK kalau gegara saya ITK terbebani, saya siap mundur. Tapi teman yang tidak mau,” tulis Prof Budi di akun media sosialnya dikutip Senin (9/5/2022)


Budi mengaku dirinya ingin angkat kaki dari ITK lantaran tunjangan yang dapat menurutnya masih di bawah standar, dia lantas mengatakan jika dirinya cabut dari perguruan tinggi itu kondisi perekonomiannya justru lebih membaik.


“Eh tahu nggak sih apa keuntungan jadi rektor di PTN kecil? Tunjangan bulanan 5,5 juta, harus meninggalkan keluarga. Saya akan dapat lebih banyak kalau saya ngajar full di ITS, dapat remunerasi, bisa ngajar banyak SKS untuk menambah remun,” tuturnya.


Tidak hanya itu, Budi mengaku selama mengabdi menjadi rektor di ITK dirinya juga kerap menomboki berbagai kegiatan yang masih berkaitan dengan kampus tersebut. 


Dia mengaku dirinya tidak masalah harus mengeluarkan duit pribadinya demi kepentingan kampus.


“Bahkan di ITK kadang harus keluar duit untuk membantu staf tendik atau mahasiswa dengan uang pribadi. Tawaran dari kontraktor untuk memperbaiki rumah, mengirim parcel, saya tolak semua. Tidak jarang tamu institusi saya ajak makan dengan uang sendiri agar ITK tidak direpotkan. Ada yang mau ganti? Silakan,” tukasnya.


Sebagaimana diketahui, Budi Santosa Purwokartiko menyita perhatian publik karena membagikan pendapatnya tentang calon penerima beasiswa LPDP. 


Dia menggunakan istilah bernada rasialisme ‘manusia gurun’ dalam menceritakan proses wawancara LPDP. 


Jadi, 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun.


“Otaknya benar2 openmind. Mereka mencari Tuhan ke negara2 maju seperti Korea, Eropa barat dan US, bukan ke negara yang orang2nya pandai bercerita tanpa karya teknologi,” ucap Budi melalui akun Facebooknya.


Konten itu memicu kritik publik. Irvan Noviandana mengirim surat terbuka kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Andin Hadiyanto untuk menindak pernyataan rasialisme itu. Budi sendiri telah memberi konfirmasi terkait penyataannya di medsos tersebut.


Ia juga membantah jika dirinya melakukan tindakan diskriminasi dan rasialisme terhadap wanita berhijab.


“Itu adalah opini pribadi saya ya, tidak sebagai rektor. Maksud saya tidak ingin merendahkan orang yang pakai jilbab atau diskriminasi, tidak ada maksud itu. Saya hanya bercerita saja kebetulan kok ke-12-nya (mahasiswi) itu enggak pakai kerudung,” kata Budi. [Democrazy/riau]