Breaking

logo

31 Mei 2022

BNPT: Ideologi Khilafatul Muslimin Sangat Berbahaya, Mirip JAD!

BNPT: Ideologi Khilafatul Muslimin Sangat Berbahaya, Mirip JAD!

BNPT: Ideologi Khilafatul Muslimin Sangat Berbahaya, Mirip JAD!

DEMOCRAZY.ID - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan Khilafatul Muslimin sangat berbahaya secara ideologi. 


Menurut BNPT, ideologi Khilafatul Muslimin sangat berbahaya.


"Satu aspek ideologi sangat berbahaya dengan memiliki cita ideologi khilafah di Indonesia sebagaimana HTI, JI, JAD maupun jaringan terorisme lainnya," kata Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen R Ahmad Nurwakhid, kepada wartawan, Selasa (31/5/2022).


Dia mengatakan Khilafatul Muslimin mengaku tidak menentang Pancasila. 


Namun, katanya, Khilafatul Muslimin mengkafirkan sistem yang tak sesuai dengan pandangannya.


"Pengakuan mereka tidak bertentangan dengan Pancasila, namun ideologi mereka adalah mengkafirkan sistem yang tidak sesuai dengan pandangannya. Dua, secara historis, pendiri gerakan ini sangat dekat dengan kelompok radikal seperti NII, MMI dan memiliki rekam jejak dalam kasus terorisme," ujarnya.


Dia kemudian menjelaskan soal sosok pendiri dan pemimpin Khilafatul Muslimin yang disebut bernama Abdul Qadir Hasan Baraja. 


Menurutnya, Baraja merupakan mantan anggota NII sekaligus salah satu pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki bersama Abu Bakar Baasir (ABB) dan lainnya yang juga ikut ambil bagian dalam Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) tahun 2000.


"Baraja telah mengalami dua kali penahanan, pertama pada Januari 1979 berhubungan dengan Teror Warman, ditahan selama tiga tahun. Kemudian ditangkap dan ditahan kembali selama 13 tahun, berhubungan dengan kasus bom di Jawa Timur dan Borobudur pada awal tahun 1985. Tiga, dampak ideologis, gerakan ini memiliki visi dan ideologi perubahan sistem sangat rentan bermetamorfosa dalam gerakan teror. Lihatlah kasus penangkapan NAS tersangka teroris di Bekasi yang ditemukan di kontrakannya kardus berisi Khilafatul Muslimin dan logo bordir Khilafatul Muslimin," ujarnya. [Democrazy/detik]