Breaking

logo

30 Mei 2022

Arvindo Noviar, Ketua Umum Partai Rakyat Mengaku Syiah?

Arvindo Noviar, Ketua Umum Partai Rakyat Mengaku Syiah?

Arvindo Noviar, Ketua Umum Partai Rakyat Mengaku Syiah?

DEMOCRAZY.ID - Ketua umum partai rakyat, Arvindo Noviar Kembali membuat pernyataan kontroversial lewat cuitan di akun twitter pribadinya. 


Arvindo Noviar sebelumnya telah menyinggung terkait pandangannya mengenai LGBT dan Syiah, pria ini beralasan LGBT dan Syiah adalah kaum minoritas yang keberadaannya harus dapat diterima dan memiliki hak yang sama.


Terbaru lewat akun twitter pribadinya, ia membuat geger warganet dengan mengaku dirinya berasal dari Ulakan, selain itu dia juga mengatakan sang kakek pernah datang ke Karbala untuk menjemput takdirnya. 



Tidak selang beberapa lama, ketua umum Partai Rakyat itu menghapus cuitannya tersebut. 


Namun seorang warganet dengan nama akun @dapitdong berhasil mengabadikan cuitan tersebut dan mengunggahnya kembali ke Twitter dalam tangkap layar.


“Jangan gertak saya. Saya berasal dari Ulakan. Kekek saya datang menjemput takdirnya ke karbala. Apalagi oleh cecunguk yang bersembunyi di balik akun palsu.” tulis ketua umum Partai Rakyat Arvindo Noviar dari tangkap layar @dapitdong dikutip pada 30 Mei 2022.



Akibat cuitannya tersebut tentu saja Arvindo banyak menuai respons dan kecaman dari warganet. 


Akun twitter pribadinya dibanjiri pertanyaan dan komentar pedas dari warganet, warganet menilai Arvindo tidak memiliki keberanian lantaran takut mengakui jati dirinya yang sebenarnya. 


“Dia sembunyi setelah ketahuan syiah. Katanya gak takut Bang, kok malah hapus cuitan?” tulis akun @PhieyeNdoro. 


“Keceplosan om, jadinya makin terbuka kan,” tulis akun @a_hansmu.


“CATAT: “KARBALA” jelas arahnya” balas akun @c4nde. 


Komentar warganet tersebut mendapatkan respon dari Arvindo, ia mengatakan jubir di partainya merupakan penganut syiah. 


“Di Partai Rakyat penganut Syiah tidak bertaqiyah. Jubir kami Penganut Syiah. Syiah di Indonesia tidak perlu sembunyi. Karena mereka memiliki hak untuk hidup,” tulis Arvindo di akun twitternya. [Democrazy/viva]