-->

Breaking

logo

13 April 2022

Sri Lanka Krisis Parah Akibat Gagal Bayar Utang, Indonesia Aman Bu Sri Mulyani?

Sri Lanka Krisis Parah Akibat Gagal Bayar Utang, Indonesia Aman Bu Sri Mulyani?

Sri Lanka Krisis Parah Akibat Gagal Bayar Utang, Indonesia Aman Bu Sri Mulyani?

DEMOCRAZY.ID - Harga pangan dan energi global yang meningkat tajam akibat perang Rusia-Ukraina telah memukul negara-negara miskin. 


Hal itu membuat Sri Lanka mengalami krisis parah hingga mengumumkan gagal bayar utang luar negeri US$ 51 miliar atau Rp 729,3 triliun (Kurs Rp 14.300).


Bagaimana di Indonesia?


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan rasio utang Indonesia relatif rendah dibanding negara lain. 


Sampai akhir Februari 2022, posisi utang pemerintah mencapai Rp 7.014,58 triliun atau setara Rp 40,17% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).


"Rasio utang kita termasuk yang relatif rendah baik diukur dari negara-negara ASEAN, G20 atau bahkan seluruh dunia," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers KSSK secara virtual, Rabu (13/4/2022).


Meski begitu, Sri Mulyani mengaku akan tetap menjaga tingkatan utang secara hati-hati dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan yang menghantam. 


Dengan begitu Indonesia diharapkan tidak termasuk daftar negara yang kesulitan pembayaran utang.


Langkah yang diambil antara lain dengan mengoptimalkan belanja negara sesuai kebutuhan, meningkatkan pendapatan negara yang saat ini mengalami peningkatan karena komoditas meningkat, hingga kerja sama dengan Bank Indonesia terkait bagi beban (burden sharing) dalam penanganan COVID-19 yang tahun ini masih berjalan.


"Ini tetap kita jaga secara sangat hati-hati dan prudent karena kita juga melihat tekanan seluruh dunia terhadap negara-negara akan meningkat seperti salah satu negara yaitu Sri Lanka," tuturnya.


Jumlah Utang Indonesia


Berdasarkan jenisnya, utang pemerintah didominasi oleh instrumen SBN yang mencapai 87,88% dari seluruh komposisi utang per akhir Februari 2022 atau sebesar Rp 6.164,2 triliun. 


Berdasarkan mata uang, utang pemerintah didominasi oleh rupiah yakni 70,07%.


Kepemilikan SBN oleh investor asing terus menurun sejak tahun 2019 yang mencapai 38,57%, akhir tahun 2021 yang mencapai 19,05%, dan per 15 Maret 2022 mencapai 18,15%.


SBN dalam mata uang rupiah mencapai Rp 4.901,66 triliun, sementara dalam valuta asing Rp 1.262,53 triliun. 


Keduanya diterbitkan dalam bentuk surat utang negara dan surat berharga syariah negara.


Sementara itu, komposisi utang pinjaman dari pinjaman tercatat hanya 12,12% atau senilai Rp 850,38 triliun. 


Angka itu terdiri atas pinjaman dalam negeri Rp 13,27 triliun dan pinjaman luar negeri Rp 837,11 triliun. [Democrazy/detik]