Breaking

logo

02 April 2022

Said Aqil Siradj: Nabi Muhammad Membangun Sebuah Umat Bukan di Atas Konstitusi Agama!

Said Aqil Siradj: Nabi Muhammad Membangun Sebuah Umat Bukan di Atas Konstitusi Agama!

Said Aqil Siradj: Nabi Muhammad Membangun Sebuah Umat Bukan di Atas Konstitusi Agama!

DEMOCRAZY.ID - Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siradj mengatakan Islam bukan hanya membawa misi dakwah, aqidah dan syariah saja. 


Tetapi Islam juga membawa misi ilmu pengetahuan, kebudayaan, peradaban dan kemanusiaan.


Nabi Muhammad telah mencontohkan itu ketika memasuki Kota Yastrib atau Madinah. 


Nabi Muhammad menjumpai masyarakat yang plural di kota tersebut. 


Muhajirin, Ansor, Yahudi, non Muslim dan lainnya ada di kota tersebut. 


Melihat kondisi tersebut, Nabi Muhammad mengeluarkan keputusan penting antara lain menganggap mereka adalah satu umat asalkan satu visi dan misi.


"Jadi nabi Muhammad 15 abad yang telah berhasil membangun sebuah umat yang diikat dengan kesamaan visi-misi bukan dibangun di atas konstitusi agama, kesukuan, bukan negara Islam, bukan negara Arab. Nabi menamakan negaranya al-Madinah, dari kata tamaddun sistemnya citizenship, sama hak sama di mata hukum," kata Kiai Said saat menjadi Keynote speaker Webinar Internasional Islam Nusantara Foundation, beberapa hari lalu.


Ia menegaskan dalam Piagam Madinah tak ada kata Islam dan Arab. 


Semuanya membicarakan tentang keadilan, kesamaan HAM dan ukhuwah sesama warga kota Madinah.


"Islam kemudian berkembang membangun kemanusiaan, kebudayaan sampai ke Afrika, Spanyol, Persia, Cina, India dan Nusantara," ujarnya.


Islam masuk ke Nusantara dari berbagai sumber mulai dari Cina, Gujarat, Persia dan Hadramaut. 


Oleh karena itu, masuknya Islam yang datang dari berbagai sumber tersebut menyebabkan terciptanya model pemikiran tersendiri. 


Maka Islam Nusantara merupakan tipologi Islam di Indonesia.


Dan Kiai Said menegaskan Islam Nusantara bukan madzhab serta bukan agama baru melainkan tipologi Islam di Indonesia yakni membangun agama di atas budaya.


Menurutnya agama akan menjadi kuat jika menyatu dengan budaya seperti yang dijalankan oleh Walisongo.


"Dakwah berhasil tanpa harus diperangi, hanya dengan pendekatan budaya dan akhlak," tuturnya.


Kiai Said mencontohkan Islam yang melebur dalam budaya yakni bedug dimana pada awalnya hanya sebuah alat musik. 


Tetapi oleh ulama diubah menjadi tanda masuknya waktu shalat. [Democrazy/rep]