-->

Breaking

logo

19 April 2022

Pakar Mikro Ekspresi Jelaskan Makna Raut Wajah Jokowi Terkait Kebijakan Pertamax: Terlihat Ada Kemarahan

Pakar Mikro Ekspresi Jelaskan Makna Raut Wajah Jokowi Terkait Kebijakan Pertamax: Terlihat Ada Kemarahan

Pakar Mikro Ekspresi Jelaskan Makna Raut Wajah Jokowi Terkait Kebijakan Pertamax: Terlihat Ada Kemarahan

DEMOCRAZY.ID - Siaran pers Presiden Jokowi menjadi sorotan bagi rakyat Indonesia, terutama terkait dengan kebijakan-kebijakan baru yang tentu saja mempengaruhi hajat hidup orang banyak.


Kali ini, Poppy Amalya, seorang psikolog dan ahli mikro ekspresi memaparkan makna dari ekspresi Presiden Jokowi dalam siaran pers Sekretariat Presiden.


Poppy Amalya menganalisis ekspresi Presiden Jokowi terkait kebijakan pertamax.


Analisis dibuka dengan pernyataan Presiden Jokowi saat menyebutkan, ‘Yang kedua, Pertamax.’


“Pada saat ngomong yang kedua, ia tidak melanjutkan kalimat langsung, Pak Jokowi melihat ke kanan-kiri. Ia memberikan fokusnya kepada audiens yang hadir di situ dan hal tersebut merupakan warning tentang kata Pertamax,” ungkap Poppy.


Kemudian Presiden Republik Indonesia ke-7 ini melanjutkan dengan memberikan penekanan yang cukup keras pada kata ’menteri’ dalam kalimat ‘menteri juga tidak memberikan penjelasan apa-apa.’


Presiden Jokowi juga memberikan jeda setelah kalimatnya selesai sebelum berbicara lagi.


Menurut pakar ekspresi, Poppy Amalya, “Setelah jeda baru bicara, berarti hal tersebut adalah hal yang menarik perhatian atau menjadi fokus dari bapak presiden.”


Suasana tegang pun terbentuk akibat sorot kamera mengarah ke orang-orang yang sedang mencatat poin penting dalam pembicaraan ini saat jeda yang diberikan Pak Jokowi.


Kakek dari Jan Ethes Srinarendra menambahkan kata ‘hati-hati’ sebelum jeda lagi dalam pembicaraannya yang menjadi poin penting dan melanjutkan pertanyaan terkait kebijakan baru Pertamax.


Saat itu Presiden Jokowi mengangkat tangan terbuka dengan sedikit hentakan yang menggambarkan penekanan terhadap kata Pertamax.


Tidak hanya itu, saat meminta pihak yang bersangkutan menceritakan, ia juga mengulang gestur yang sama.


“Apabila pada suatu pernyataan, gestur tubuh memberikan pengulangan atas kalimat yang berbarengan, itu menandakan ada penekanan pentingnya kalimat tersebut. Harusnya ada penjelasan yang didapatkan terkait kalimat Pak Jokowi seperti itu,” ujar Poppy.


Dalam video tersebut, ekspresi tokoh politik yang dulunya menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta ke-14, terlihat marah.


Ia juga meminta para pemimpin memberikan empati pada rakyat dengan tangan mengunci ke arah jantung dan wajah terlihat tidak begitu nyaman.


Poppy menjelaskan, artinya Presiden Joko Widodo menyayangkan kebijakan Pertamax yang tidak ada komunikasinya dan gestur tangan mengunci ke arah jantung itu menandakan ia begitu peduli terhadap rakyat.


Terlebih lagi setelah menyatakan simpatinya, Presiden RI menahan kalimatnya sambil menutup mulut mata dan mata.


Gestur tersebut mengungkapkan ketidaksanggupan pak Presiden melihat kenyataan yang terjadi akibat tidak adanya komunikasi terhadap rakyat.


Berkali-kali Jokowi memberikan penekanan melalui gesturnya, setelah sebelumnya mengangkat tangan terbuka dan memberikan pengulangan gestur itu, kali ini ia menunjuk ke arah audiens dengan alis mata naik.


Menurut Poppy Amalya, Presiden Jokowi masih terlihat marah terutama saat ia menutup mulut sambil menekan bibirnya. 


Ekspresi tersebut yang sekilas terlihat seperti tersenyum, ternyata adalah bentuk kemarahan.


Pengalaman emosional juga terpancar saat Presiden Jokowi memberikan jeda pidatonya dengan mata berkedip-kedip dan pandangan turun ke bawah.


“Dari gambaran tersebut, Pak Jokowi cukup berhati-hati pada saat mengeluarkan sebuah statement dan ada kemarahan. Lalu kemarahannya bukan karena Pertamax saja tapi ada kalimat sebaiknya menteri mengeluarkan pernyataan kepada rakyat apabila ada sebuah perubahan kebijakan,” ungkap Poppy Amalya terkait hasil analisisnya.


Motivator perempuan pertama yang memiliki latar pendidikan Master Psikologi ini menambahkan bahwa para pemimpin negeri sebaiknya menguasai komunikasi persuasif untuk dapat menjalin komunikasi dengan baik kepada rakyat. [Democrazy/hops]