Breaking

logo

26 April 2022

Mundur Dari PSI, Tsamara Amany Jadi Rebutan Partai Nasionalis Religius

Mundur Dari PSI, Tsamara Amany Jadi Rebutan Partai Nasionalis Religius

Mundur Dari PSI, Tsamara Amany Jadi Rebutan Partai Nasionalis Religius

DEMOCRAZY.ID - Politisi muda Tsamara Amany Alatas resmi mengundurkan diri dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada Senin (18/4). 


Keputusan Tsamara ini mengundang polemik. Ada yang menyebut, karier Tsamara bakal rusak jika terus di PSI. 


Ada pula yang menggoda Tsamara berlabuh ke partai baru.


Salah satu yang lagi rame soal keluarnya Tsamara dari PSI adalah pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah. Fahri bilang, sudah tepat Tsamara keluar. 


Sebab, masa depan Tsamara suram jika masih di PSI, karena hanya dibentuk untuk kepentingan jangka pendek. 


“Jadi keputusannya sangat tepat. Sulit menitipkan idealisme pada PSI,” tegasnya.


Namun Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie, santai menjawab statement Fahri. 


“Sejarah yang akan membuktikan PSI bernapas panjang mengikuti napas republik ini,” sebut Grace dalam keterangannya.


Dia pun gantian menyindir balik Fahri. Kata dia, justru Partai Gelora dibentuk karena konflik kepentingan dan kekecewaan. 


Artinya, visi dan misinya karena kecewa alias jangka pendek.


Meski demikian, Grace tetap mendoakan Fahri dan Gelora lolos verifikasi KPU dan jadi peserta Pemilu 2024. 


Biar seperti PSI yang telah membuktikan diri lolos verifikasi KPU di Pemilu 2019, meskipun tidak lolos ke senayan.


Usai keluar, Tsamara jadi rebutan partai. Misalnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). 


Wakil Ketua PKB, Jazilul Fawaid menyebut, partainya terbuka bagi Tsamara jika masih punya hasrat terjun ke dunia politik praktis.


“Mbak Tsamara sudah bergabung dengan PKB sejak dari pikiran, sebab PKB partai terbuka dan pengurusnya dominan kader muda,” tutur Gus Jazil sapaan akrab Jazilul Fawaid dalam pesannya.


Apalagi sebelumnya, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) pernah ‘melamar’ Tsamara untuk bergabung usai eks Ketua DPP PSI itu meraih 140 ribu suara namun gagal ke Senayan. Bahkan, Tsamara ditawari posisi Waketum.


Sementara Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, John Kenedy Azis juga menyatakan, Tsamara lebih tepat gabung dengan Beringin kalau ingin kembali ke jagat politik.


“Kalau Partai Golkar partai terbuka. Siapa pun yang berkehendak untuk masuk dan maju bersama-sama untuk kepentingan rakyat Indonesia, Golkar welcome,” uja dia kepada wartawan.


Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin menilai, keluarnya Tsamara jelas merugikan PSI. 


Tengok saja perolehan suara Tsamara yang lumayan tinggi pada Pileg 2019. 


Begitu juga jika Tsamara hijrah ke partai lain. Tsamara akan menjadi vote getter kalangan milenial bagi partai anyarnya.


Namun, Tsamara masih belum mau masuk ke parpol. Dia mengaku, pengunduran dirinya atas pertimbangan pribadi. 


Bukan karena ada konflik atau pun perbedaan pandangan dengan PSI.


“Saya keluar bukan mau loncat parpol. Alasannya sederhana. Saya butuh waktu rehat dari partai politik untuk sementara ini,” tegas Tsamara dalam program Kamar Rosi di Youtube KompasTV, Kamis lalu.  [Democrazy/RM]