-->

Breaking

logo

20 April 2022

Ketum PBNU: Kategori Non-Muslim atau Kafir Tidak Relevan Dalam Negara Modern!

Ketum PBNU: Kategori Non-Muslim atau Kafir Tidak Relevan Dalam Negara Modern!

Ketum PBNU: Kategori Non-Muslim atau Kafir Tidak Relevan Dalam Negara Modern!

DEMOCRAZY.ID - Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf tegaskan bahwa kategori non muslim atau kafir tidak relevan di dalam negara modern. 


Yahya Cholil Staquf menyampaikan gagasan itu merupakan kesimpulan yang disepakati ulama PBNU. 


Hal tersebut berkaitan dengan upaya mengurangi permusuhan antar umat beragama. 


Jadi penggunaan istilah kafir atau non-muslim tak boleh terlalu umum digunakan. 


“Kami pada waktu itu dengan membuat kesimpulan bahwa kategori non muslim atau kafir sesungguhnya tidak relevan dalam konteks negara bangsa modern,” ujar Yahya Cholil Staquf dalam webinar Majelis Ulama Indonesia (MUI).


Menurut Gus Yahya Cholil, hal semacam ini juga dilakukan umat beragama lain seperti pemimpin agama di Vatikan dan kelompok dalam umat Yahudi. 


Pada 2016 lalu, muncul kelompok yang menamakan diri sebagai Yahudi Konservatif. 


Kelompok ini mengaku masih memegang Taurat namun membuka peluang penafsiran baru.


Kelompok ini berbeda dengan Yahudi Ortodoks yang memegang Taurat dan tidak mau membuat interpretasi sama sekali serta Yahudi Reformis yang membangun nilai baru tanpa melihat teks Taurat. 


Yahya mengungkapkan Yahudi Konservatif kemudian mengumumkan dokumen pertobatan.


Mereka menyebut secara terang-terangan bahwa dalam wacana Yahudi klasik terdapat wawasan agama yang merendahkan kelompok di luar Yahudi.   


“Dalam wacana Yahudi klasik memang ada wawasan keagamaan yang misalnya merendahkan kelompok di luar Yahudi, menganggap ras di luar Yahudi yang inferior,” ujarnya.   


Kelompok tersebut kemudian menuntut pembentukan wawasan alternatif sehingga orang Yahudi lebih siap hidup berdampingan dengan damai dan setara dengan kelompok lain.   


Kemudian, Gus Yahya Cholil mengatakan bahwa upaya semacam ini penting dilakukan untuk mengurangi mindset permusuhan dan kebencian satu sama lain. 


“Saya kira ini merupakan PR kita bersama, bukan hanya PR umat Islam saja tapi juga PR seluruh kelompok agama-agama di belahan mana pun,” tutur alumni Universitas Gajah Mada (UGM) itu. [Democrazy/terkini]