-->

Breaking

logo

08 April 2022

Gegara Getol Suarakan Penundaan Pemilu, Luhut Kena Semprot Senior PDIP: Tugasmu Itu Sebagai Menteri!

Gegara Getol Suarakan Penundaan Pemilu, Luhut Kena Semprot Senior PDIP: Tugasmu Itu Sebagai Menteri!

Gegara Getol Suarakan Penundaan Pemilu, Luhut Kena Semprot Senior PDIP: Tugasmu Itu Sebagai Menteri!

DEMOCRAZY.ID - Sekertaris Fraksi PDIP Bambang Wuryanto mengingatkan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan terkait wacana penundaan pemilu dan jabatan presiden 3 periode.


Politisi yang akrab disapa Bambang Pacul itu juga mengingatkan peringatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang disampaikan dalam rapat paripurna kabinet di Istana Negara, kemarin.


Dalam pernyataannya, Presiden Jokowi melarang para menteri tidak usah lagi bicara soal penundaan pemilu dan presiden 3 periode.


Menurut Bambang Pacul, tidak pantas Luhut berbicara tentang pemilu karena memang itu bukan wewenang dan tugasnya.


“Tugasmu sebagai menteri. Sudahlah enggak usah bicara itu,” ujar Bambang Pacul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (7/4/2022).


Anak buah Megawati Soekarnoputri ini juga mengingatkan, bahwa wilayah kerja seorang menteri adalah di urusan teknis.


“Apa iya pantes bikin ekstrem. Misal Bu Sri Mulyani bahas kepemiluan. Kontras, enggak masuk,” tegasnya.


Karena itu, Bambang Pancul meminta Luhut dan sejumlah menteri ataupun politisi agar mengikuti instruksi Presiden Jokowi.


“Ikuti perintah pak Jokowi, bahwa seorang menteri ataupun politisi tidak bisa lagi mewacanakan penundaan pemilu,” ingatnya.


Kendati demikian, Bambang Pacul mengakui Luhut Binsar Pandjaitan memiliki power politik yang cukup kuat.


Itu mengacu saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah menyetop ekspor batu bara.


Tak lama kemudian, Luhut malah membuka kembali, tidak berbanding lurus dengan pernyataan Jokowi sebelumnya.


“Pak Luhut sangat kuat. Power politiknya kuat,” ungkap Bambang Pancul


“Misalnya, contoh Pak Presiden pernah statement disetop ekspor kan gitu. Dua hari berikutnya dibuka lagi, pak Luhut yang statement,” sambungnya.


“Itu clear lah. Orang politik juga paham. Kita memahami, kita mengerti, tapi kita nggak bisa berbuat apa pun,” ujarnya. [Democrazy/pojoksatu]