Breaking

logo

03 April 2022

Bolehkan Keturunan PKI Jadi TNI, Andika Perkasa Terinspirasi Teori Jenderal Dudung?

Bolehkan Keturunan PKI Jadi TNI, Andika Perkasa Terinspirasi Teori Jenderal Dudung?

Bolehkan Keturunan PKI Jadi TNI, Andika Perkasa Terinspirasi Teori Jenderal Dudung?

DEMOCRAZY.ID - Jenderal Andika Perkasa dianggap sedang terinspirasi dengan teori Jenderal Dudung Abdurachman, bahwa menghapus syarat keturunan PKI menjadi anggota TNI akan memuluskan jalannya menjadi Calon Presiden di Pilpres 2024.


Begitu yang disampaikan oleh Mayjen TNI (Purn) Deddy Setia Budiman menanggapi sikap Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa yang kini membolehkan keturunan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi prajurit TNI.


"Fakta partai politik pemenang Pemilu adalah penampung keturunan PKI, wajar anak keturunan PKI ada di eksekutif, yudikatif, legislatif, dan bahkan tidak menutup kemungkinan ada di TNI-Polri," ujar Deddy, Minggu (3/4).


Bahkan kata Deddy, keturunan PKI ada di mana-mana diakibatkan rezim Joko Widodo berhubungan dan bekerjasama dengan China yang berpaham komunisme, leninisme, marxisme.


"Sehingga rezim menderita penyakit Islamophobia, kerjanya ngadu domba umat beragama khususnya terhadap umat Islam, fitnah kepada umat Islam intoleran radikal teroris, janji-janji bohong, menjauhkan nilai-nilai Pancasila/agama dalam kehidupan politik, memutarbalikan sejarah, dan sedang memiskinkan rakyat," kata Deddy yang merupakan mantan Staf Panglima TNI ini.


Lulusan Akabri angkatan 1975 ini memahami bahwa Jenderal Andika Perkasa dilahirkan pada 1964 yang tidak melihat langsung kejamnya masa sebelum dan sesudah G30S/PKI. 


Ia menduga Andika tidak pernah membaca sejarah kejamnya ideologi komunis di Indonesia.


Ia menilai, Andika termasuk orang yang memiliki hobi membesarkan otot (binaragawan). 


Imbasnya, Andika justru abai terhadap hal-hal yang berkaitan dengan Pancasila dan hal mendasar lainnya.


"Wajarlah kalau Pak Andika Perkasa sebagai manusia, lupa Pancasila, lupa Pembukaan UUD45, lupa dasar negara itu Ketuhanan Yang Maha Esa, lupa Saptamarga, lupa sumpah prajurit, lupa depan wajib TNI, lupa sumpah perwira, dan lupa kode etik perwira 'Budhi Bakti Wira Utama'," jelas Deddy.


Sehingga kata Deddy, wajar jika Jenderal Andika lupa sebagai Panglima TNI, sehingga lupa terhadap tugas pokok TNI, lupa bahwa Panglima-panglima TNI sebelumnya adalah para pejuang anti komunisme.


Deddy menyebutkan Andika juga lupa bahwa terorisme sebenarnya sebelum kemerdekaan, sesudah kemerdekaan dan saat ini dilakukan oleh komunisme, dengan tujuan mendirikan NKRI yang berdasarkan komunisme.


"Wajarlah kalau Pak Andika Perkasa lupa, ancaman neo-komunis di depan mata, sedang menjajah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Pembukaan UUD45, disemua aspek kehidupan. Diduga yang diingat tahun 2024 ada Pemilihan Presiden. Yang diingat cipta kondisi menjelang Pemilu 2024," terang Deddy.


Ia menengarai sebagai orang nomor satu di TNI, ia seperti terinspirasi dengan langkah politik KSAD Jenderal Dudung Abdurrachman. 


Kala menjabat sebagai Pangdam Jaya, Dudung naik menjadi Pangkostrad usai dianggap berjasa karena berani menurunkan baliho imam besar FPI Rizieq Shihab.


"(Dudung) meratakan diorama G30S PKI di Makostrad naik pangkat bintang empat. Pak Andika Perkasa, mantunya Pak Hendropriono tokoh Islamophobia, wajarlah kalau mengizinkan keturunan PKI untuk diterima jadi Prajurit TNI, daripada dipecat jadi mantu. Pak Andika Perkasa, diduga dengan mengizinkan keturunan PKI diterima menjadi Prajurit TNI, memenuhi syarat diusulkan menjadi calon Presiden pada Pilpres 2024," sambung Deddy menutup. [Democrazy/rmol]