-->

Breaking

logo

21 Maret 2022

Terus Perjuangkan Usulan Tunda Pemilu 2024, Cak Imin: Kita Tunggu Lobi-lobi Politik Berikutnya

Terus Perjuangkan Usulan Tunda Pemilu 2024, Cak Imin: Kita Tunggu Lobi-lobi Politik Berikutnya

Terus Perjuangkan Usulan Tunda Pemilu 2024, Cak Imin: Kita Tunggu Lobi-lobi Politik Berikutnya

DEMOCRAZY.ID - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mengatakan partai yang dipimpinnya belum ada rencana untuk merealisasikan wacana penundaan Pemilu 2024. 


Menurut dia, isu penundaan Pemilu 2024 baru sebatas wacana. 


“Belum (untuk merealisasikan), hanya pemikiran. Sedang terus kita perjuangkan melalui lobi politik tentu ya. Kita tunggu saja lobi-lobi politik ini bagaimana,” kata Cak Imin di Nusa Dua, Bali pada Senin, 21 Maret 2022. 


Wakil Ketua DPR RI ini mengatakan dalam negara demokrasi, perbedaan pendapat atau usulan itu biasa. 


Untuk merealisasikan, kata dia, tentu perlu komunikasi dengan berbagai elite partai politik.


“Itu ide ya. Selanjutnya tergantung ketum partai, yang punya DPR, bisa bicarakan melalui UU dan seterusnya,” jelas Cak Imin.


Menurut dia, saat ini PKB juga masih menunggu keputusan dari berbagai partai politik terkait wacana penundaan Pemilu 2024. 


“Pada posisi menunggu dan mendekati parpol,” ujarnya. 


Setiap pemilu, kata dia, ekonomi stagnan dan memang terjadi pertumbuhan ekonomi yang ditopang belanja oleh pemilu. 


Tentu, momen internasional yang harus segera ditangani yaitu recovery pandemi COVID-19.


“Saya pengalaman beberapa kali pemilu itu sulit, stagnansi ekonominya nyata. Itu tidak bisa tidak (recovery COVID-19)," tuturnya. 


Cak Imin merupakan salah satu ketum parpol yang mengusulkan penundaan Pemilu 2024. 


Alasan Cak Imin karena negara masih dalam pemulihan ekonomi imbas pandemi COVID-19. 


Kata dia, hal itu yang harus jadi perhatian sehingga pemilu diusulkan ditunda antara satu hingga dua tahun. 


Selain Cak Imin, tokoh parpol lain yang melempar penundaan pemilu adalah Ketum PAN Zulkifli Hasan dan Ketum Golkar Airlangga Hartarto. [Democrazy/viva]