-->

Breaking

logo

11 Maret 2022

Rumah Dokter Sunardi Ditulis ‘Mujahid Dokter Sunardi’ di Peta Online, Kerjaan Siapa?

Rumah Dokter Sunardi Ditulis ‘Mujahid Dokter Sunardi’ di Peta Online, Kerjaan Siapa?

Rumah Dokter Sunardi Ditulis ‘Mujahid Dokter Sunardi’ di Peta Online, Kerjaan Siapa?

DEMOCRAZY.ID - Dokter Sunardi, terduga teroris yang ditembak Densus 88 Antiteror di Sukoharjo pada Rabu (9/3/2022) malam, masih memicu polemik.


Dokter Sunardi selama ini tinggal dan membuka praktik di kediamannya di RT 3 RW 7 Bangunsari, Kelurahan Gayam, Kabupaten Sukoharjo.


Yang cukup mengejutkan, berdasarkan penelusuran melalui peta online berdasarkan alamat, kediaman dokter Sunardi ditulis ‘Mujahid Dokter Sunardi’.


Tidak diketahui jelas sejak kapan keterangan ‘Mujahid Dokter Sunardi’ itu disematkan dalam salah satu fitur peta di mesin peramban tersebut.


Rumah Dokter Sunardi Ditulis ‘Mujahid Dokter Sunardi’ di Peta Online, Kerjaan Siapa?

Sosok dokter Sunardi yang ditembak Densus 88 Antiteror di Sukoharjo itu sendiri ternyata dikenal tertutup dan tak pernah berbaur dengan warga.


Bambang Pujiana, Ketua RT 3 RW 7 Bangunsari, Gayam, mengungkap, sejak ia menjabat sebagai ketua RT pada 2019, dokter Sunardi tak sekalipun pernah datang dalam pertemuan-pertemuan yang mengundang warga.


“Saya mengadakan pertemuan dan kegiatan warga tapi Pak Nardi tidak pernah datang dan tidak pernah sosialisasi,” ungkapnya, Kamis (10/3/2022).


Selain tak pernah menghadiri pertemuan warga, dokter Sunardi juga tak pernah mengikuti kegiatan warga.


“Apalagi kerja bakti, tidak sama sekali,” sambung Bambang.


Tidak hanya itu, Sunardi juga disebut Bambang tidak pernah membayar iuran RT sebagaimana warga lainnya.


Padahal, iuran bulanan yang ditetapkan di wilayahnya itu per bulan tidak cukup besar, yakni Rp25 ribu saja yang ditarik per tanggal 10.


“Tidak sama sekali (membayar iuran). Boleh dicek di bendahara saya kalau yang namanya Pak Dokter Sunardi itu iuran, tidak pernah,” bebernya.


Bambang juga mengaku hanya bertemu dokter Sunardi saat salat Maghrib atau Isya di masjid.


“Saat ketemu juga tidak pernah saling menyapa,” paparnya.


Sementara, Abdullah, salah seorang tetangga menyebut, dokter Sunarto sebagai sosok yang baik dan selalu salat berjamaah dengan warga di masjid.


Dokter Sunardi datang ke masjid dengan menggunakan mobil lantaran kakinya sakit. Saat berjalan, juga menggunakan tongkat.


“Beliau pakai tongkat. Kalau jalan pelan-pelan. Dia selalu menyimpan kursi (untuk sholat) di masjid. Untuk salat dia nggak bisa ruku’ nggak bisa sujud,” beber Abdullah.


Sedangkan Maryamah, mengaku pernah berobat kepada dokter Sunardi dan tak pernah diminta bayaran.


“Saya pernah berobat waktu anak saya kecil. Suami saya waktu vertigo juga pernah berobat ke dokter Sunardi,” cerita Maryamah.


“Kata pak dokter, ini vertigo. Nggak usah bayar. Ini saya kasih resep, beli aja di apotik,” tambah Maryamah menirukan ucapan Sunardi. [Democrazy/pojok]