-->

Breaking

logo

17 Maret 2022

Lord Luhut: Kadang Kita Lupa Kalau Negara Kita Ini Sakti!

Lord Luhut: Kadang Kita Lupa Kalau Negara Kita Ini Sakti!

Lord Luhut: Kadang Kita Lupa Kalau Negara Kita Ini Sakti!

DEMOCRAZY.ID - Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar. 


Bahkan sisa barang yang sudah tidak digunakan, masih bisa diolah menjadi produk yang bernilai tambah.


Tak heran membuat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menjuluki Indonesia sebagai negara yang sakti.


Luhut menjelaskan sumber ekonomi di Indonesia tersedia di berbagai belahan pulau, termasuk potensi energi baru dan terbarukan (EBT), mulai dari pembangkit panas bumi atau geothermal, angin, tenaga surya, hydro, dan lain sebagainya.


Di Kalimantan Utara, bahkan kini tengah disiapkan untuk membangun Green Industrial Park seluas lebih dari 30.000 hektar, dengan nilai kebutuhan investasi yang diperlukan sebesar US$ 132 miliar hingga 2029.


Di dalam Green Industrial Park tersebut, industri yang akan dibangun di antaranya Green aluminium, steel, polysilicon, graphite, new energy battery (nickel based dan LFP), petrokimia, dan solar panel.


Belum lagi sumber tambang di Indonesia yang juga tak terbendung jumlahnya, mulai dari batu bara, emas, timah, hingga nikel. Nah, saat ini Indonesia tengah membangun ekosistem dari hulu hingga hilir untuk mengembangkan baterai kendaraan listrik atau EV.


Dengan rencana yang berkelanjutan, tidak hanya bergantung pada tambang, kata Luhut Indonesia juga berencana mengembangkan recycling baterai.


"Yang tua (tidak terpakai) kita ekstrak bisa 98,5%. Teknologi itu sudah sangat maju. Negara ini bukan negara yang dianggap tua lagi," jelas Luhut dalam acara Grand Launching Proyek Investasi Berkelanjutan, Kamis (17/3/2022).


Pemerintah Indonesia juga saat ini terus berupaya tidak secara serampangan melakukan impor bahan baku mentah. Karena perlahan, bahan baku juga mulai dikembangkan di Indonesia. 


Hal ini juga dipelajari saat seluruh dunia kala itu melakukan pengetatan sosial saat menghadapi pandemi Covid-19 pada awal tahun 2020.


"Waktu India di lock down, kita paracetamol (obat pereda demam) saja kita nggak punya. Sekarang kita sudah punya. Kita sudah mengurangi 40% impor dan akan dilanjutkan dengan e-katalog yang akan diluncurkan presiden (Joko Widodo)," jelasnya.


Kemudian pengadaan belanja kementerian dan lembaga (K/L) di pemerintah pusat yang jumlahnya mencapai Rp 1.127 triliun juga bertahap mulai digunakan untuk membeli produk di dalam negeri dengan nilai Rp 400 triliun.


Dari pengadaan belanja barang K/L tersebut, kata Luhut sangat berdampak terhadap perekonomian di tanah air.


"Dari BPS (Badan Pusat Statistik) menghitung menambah 1,71%. Ini nggak pernah kita lihat, itu sangat besar US$ 32 miliar bisa investasi setiap tahun," tuturnya. 


Oleh karena itu, Luhut menyebut Indonesia sebagai negara yang sakti. 


"Kadang kita nggak tau negara kita ini sakti," imbuhnya. [Democrazy/cnbc]