-->

Breaking

logo

31 Maret 2022

Jokowi Nggak Usah Sok Marah Soal Banjir Impor, Faisal Basri: Sudah 4 Tahun Kita Importir Gula Terbesar di Dunia!

Jokowi Nggak Usah Sok Marah Soal Banjir Impor, Faisal Basri: Sudah 4 Tahun Kita Importir Gula Terbesar di Dunia!

Jokowi Nggak Usah Sok Marah Soal Banjir Impor, Faisal Basri: Sudah 4 Tahun Kita Importir Gula Terbesar di Dunia!

DEMOCRAZY.ID - Ekonom senior Faisal Basri mengungkapkan bahwa apa yang disorot oleh Presiden Joko Widodo soal banjirnya barang impor yang digunakan di lingkungan pemerintahan adalah tidak beralasan. 


Pasalnya, kata Faisal, angka impor untuk barang konsumsi hanya berkisar 10 persen, adapun barang modal berkisar 15 persen, dan 75 persen sisanya adalah bahan baku. 


“Jadi kalau konsen Pak Jokowi dibanjiri barang impor, jauh api dari panggang,” ujar Faisal sebagaimana disiarkan oleh TvOneNews, dikutip pada Kamis 31 Maret 2022.


Sebagai contoh, ia menunjukkan pensil yang dapat dikategorikan dari dua kelas, yaitu kualitas dengan teknologi tinggi dan teknologi rendah. 


Untuk pensil dengan kualitas tinggi, kata Faisal, jelas Indonesia belum mampu untuk memproduksinya sebab terkendala pada industrinya. 


Jika Indonesia ingin memproduksi, mungkin bisa bila bahan tambahannya seperti kayu, sementara bahan bakunya tetap akan impor.


Contoh lainnya adalah seragam Polisi dan Tentara yang juga menjadi perhatian Jokowi.


Menurut Faisal, Indonesia juga memiliki industri serupa namun produksinya berbeda, seperti jas yang ia gunakan. 


“Di saat yang sama, perusahaan tekstil dan garmen yang besar di Solo itu, mengeskpor peralatan dan seragam tentara di berbagai negara, jadi kita hidup di dunia ini ekspor-impor,” ujar Faisal. 


Karena itu, masalah ekspor dan impor adalah hal lumrah sehingga tidak usah menjadi antipati dengan proses ekonomi tersebut. 


Justru, yang patut menjadi pertanyaan, mengapa Indonesia menjadi negara impor terbesar untuk gula.


“Lebih baik Pak Jokowi bicara mengapa tiba-tiba kita, bukan tiba-tiba, sudah 4 tahun menjadi importir gula terbesar di dunia. Apa yang terjadi ini? nah itu kan salah pemerintah juga, karena pabrik-pabrik gula sekarang tidak pakai tebu rakyat,” jelas Faisal. 


Namun begitu, Faisal sepakat dengan keinginan Jokowi dalam penggunaan dana APBN untuk membeli produksi rakyat sendiri. 


“Uang yang tadi ratusan triliun itu bisa menyerap produk-produk lokal, saya setuju. Tapi jangan apa-apa impor dilarang. Waktu saya kuliah dulu, perdagangan itu hanya satu arah, misalnya Indonesia mengekspor komoditas, Indonesia mengimpor barang industri. Itu negara yang baru berkembang,” 


“Tapi lambat laun Indonesia sekarang mengeskpor mobil, juga mengimpor mobil. Mengekspor pasta gigi, tapi mengimpor pasta gigi, namanya perdagangan intra industri, itulah sumber kemakmuran tambahan, dan semakin mempercepat rakyatnya sejahtera, kalau yang diperdagangkan adalah barang yang serupa, mirip,” ujarnya. [Democrazy/terkini]